FAQ Psikologi (bag.1)

Terstimulasi oleh diskusi seru ngaler ngidul dan berkualitas di grup alumni SMA, saya jadi keidean bikin seri tulisan FAQ Psikologi. FAQ ini berupaya merangkum pertanyaan-pertanyaan dan jawaban yang sering muncul (Frequently Asked Questions) mengenai topik spesifik pada Psikologi. Formatnya saya buat dalam bentuk tanya-jawab agar lebih ‘mudah dikunyah dan dicerna’. Barangkali beberapa bagian akan kurang terbahas secara komprehensif, mudah-mudahan bisa ada seri tulisan lain yang menggenapinya.

Baiklaaaah…pada tulisan pertama seri ini, saya akan mengangkat topik tentang Pemeriksaan Psikologi dan Tumbuh Kembang Anak.  Beberapa pertanyaan probingnya mungkin agak keluar dari topik bahasan. Namun itulah yang memang sering terjadi ketika diskusi ngaler ngidul seperti ini, karena pada dasarnya semua hal itu saling terkait. Hehehe.

 

T: Sebenernya bener dan berguna ngga sih, buku-buku untuk latihan Psikotest dan TPA (Tes Potensi Akademik) itu?

J: Banyak nggak betulnya dan ngga guna. Soalnya itu cuma ngabisin waktu dan energi. Untuk tes semacam itu yang penting bobo nyenyak dan sarapan, serta ikuti instruksi tester. Psikotest dan TPA bukan mengakses hasil belajar melainkan potensi belajar. Sangat berbeda dengan kalau kita mau ujian akhir, kalo itu kan mengakses hasil belajar, jadi butuh persiapan berupa pembiasaan lewat latihan. Sedangkan potensi kan merupakan ‘modal’ yang udah ada pada diri manusia. Jadi cukup tampikanlah diri apa adanya.

buku pikasebeuleun

sumber gambar: pertamina.com

T: Jadi gimana dong tuh hasil psikotest atau TPA yang pake latihan?

J: Biasanya akan terlihat oleh psikolog, karena akan kroscek dengan beberapa hasil pemeriksaan lainnya. Terkadang datanya ngga jadi dipake karena tidak valid (tuh kan lebar, hese-hese diajar tapi teu dipake), atau tetap diinterpretasi  tapi sebagian, atau sadis-sadisnya dinilai ‘terlalu pencemas’, ‘takut dinilai’, dan sejenisnya. Hahaha (ga sesaklek ini lah ya tentunya…).

T : Jadi sebenarnya potensi bisa berubah ngga? Ini yang selama ini disebut dengan IQ kan?

J: Bisa dibilang IQ ini sebagai rangkuman/kumpulan potensi-potensi lainnya yang dinyatakan dalam bentuk taraf kecerdasan. Potensi-potensi inilah yang membentuk ‘stuktur intelektual’/keunikan berpikir seseorang. Dan taraf IQ belum tentu menggambarkan prestasi seseorang. Seperti kita tahu, hal ini diperngaruhi upaya, stimulasi lingkungan, dsb. Soal perubahan, ada beberapa pandangan. Yang pertama memandang bahwa potensi merupakan genetis sehingga tidak bisa berubah, yang ke dua memandang bahwa hal ini bisa terus berkembang tergantung stimulasi lingkungan, yang ke tiga adalah gabungan keduanya. Saya pribadi meyakini yang ke tiga. Potensi/kapasitas/modal ini sifatnya relatif menetap, karena berupa ‘titipan Tuhan’. Kalau berubah tidak akan signifikan. Secara skor berubah ±10 poin, dan tetap pada taraf yang sama. Kemudian struktur intelektual (=keunikan cara berpikir) pun relatif menetap. Namun demikian jika ada titik kelemahan pada seseorang, hal tersebut bisa dikembangkan minimal sampe level ‘survive’, bukan sampe level ‘jagoan’. Kuncinya ada pada kemauan dan upaya. Psikolog dibekali keterampilan untuk membedakan apa penyebab suatu kemampuan tidak berkembang; apakah karena memang ‘dari sananya’, atau kurangnya stimulasi, atau kurangnya upaya. Maka dari itu, setiap kasus penanganannya akan sangat berbeda, tergantung asal muasal persoalannya.

T: Contoh stuktur intelektual/keunikan berpikir/potensi teh gimana?

J: Misalnya ada 2 orang yang sama-sama belajar keras untuk ujian Matematika. Yang A cepet nangkep, yang B lebih lama nangkep meskipun akhirnya bisa/kurang sempurna. Nah artinya potensi A dalam logika berpikir (dalam konteks ini Matematika) lebih baik daripada si B. Tapi bisa aja si A kesalip sama B kalau B lebih rajin. Inilah yang biasa disebut ‘potensi tidak dioptimalkan’. Ibaratnya botol dengan kapasitas 1 liter, baru keisinya 500 ml. Sisanya kudu diisi disertai dengan upaya. Bisa jadi si B kapasitasnya 800 ml tapi ia mampu mengisinya dengan penuh karena rajin.

T: Loh, jadi kalau dilatih artinya bisa berubah dong si hasil TPA dan Psikotes?

J: iyeee bisa…tapi ga signifikan alias kagak ngaruuuuh… *mulai gemes*

T: Jadi gimana cara ngembangin potensi akademik?

J: *menghela napas, tapi berusaha sabar*. Nggg…istilahnya bukan ngembangin ‘potensi akademik’ kali ya, kan tadi udah dibahas kalo menetap, melainkan ngembangin ‘kemampuan belajar’.

T: Apalagi itu kemampuan belajar. Bikin makin pusing aja ( -_-“)

J: Salah satu contoh kemampuan belajar itu pemahaman membaca. Membaca itu melibatkan proses mental yang sangat kompleks. Kemampuan ini menjadi dasar dari banyak kemampuan belajar lain. Selama ini terkadang orang salah kaprah hanya memandang bahwa membaca itu hanya dapat ‘membunyikan bacaan’ alias membaca teknis. Fenomena yang banyak terjadi di pendidikan di Indonesia begitu, banyak anak bisa membaca cepat, tapi sekadar membaca teknis, bukan pemahaman membaca.

T: Wah, sexy nih topiknya. Jadi sebenarnya anak TK itu udah boleh belajar baca belum? Soalnya kan SD sekarang masuknya pake tes membaca….

J: Jawabannya “iya” dan “tidak”. Sangat tergantung kesiapan dan minat anaknya. Kalau anaknya semangat dan bekalnya sudah siap, boleh saja. Kalau belum, ya jangan dipaksakan. Pada dasarnya di usia TK itu anak bukan belajar membaca dan menulis, melainkan persiapan belajar/fondasi membaca dan menulis. Di antaranya kegiatan dongeng, dialog, membaca gambar, meniru bentuk, aktivitas fisik motorik kasar dan halus, dsb.  Anak TK memahami huruf sebagai ‘gambar’, bukan sebagai ‘lambang bunyi’. Semua ini perlu dimantapkan dulu sebelum benar-benar belajar membaca dan menulis sesungguhnya. Namun demikian, banyak juga anak yang bisa belajar lebih cepat, waspadanya adalah orangtua perlu memantau bahwa dia bisa memahami bacaan, bukan sekadar membunyikan bacaan. Bagian inilah yang sering membuat beberapa lembaga pendidikan TK masuk kategori mahiwal karena berupaya mengkarbit semua anaknya agar cepat bisa membaca, padahal belum waktunya. Adapun anak-anak yang bisa/siap lebih cepat sebenarnya itu masuk kategori istimewa.

T: jadi gimana caranya biar anak cepet bisa baca?

J: nggg…kalem ngga usah buru-buru Bu. Ikuti perkembangan alamiah anak saja. Kunci utama agar perkembangannya optimal dan sesuai tahapannya: banyak bacain dongeng dan ngobrol biar anak punya kekayaan kosakata sebagai bekal belajar baca nanti. Biasakan juga melafal dengan baik agar anak terbiasa mengucap dan ‘membayangkan pengucapan bunyi’ dengan tepat.  Sering-sering ajak main yang melibatkan fisik juga, agar fungsi-fungsi inderawinya optimal, itu juga modal utama membaca dan kemampuan belajar lainnya. Lain-lainnya mah sekunder dan akan berkembang alamiah kalo yang tadi udah kuat. Dengan cara tadi, anak biasanya punya minat dan kesiapan yang baik untuk membaca. Berdasarkan penelitian, salah satu indikator anak siap belajar membaca adalah jika sudah memiliki 14.000 kosakata. Tapi ngga usah diitung lah, matak rieut. hehe. Indikator praktis di antaranya kalau anak sudah bisa menyebutkan banyak benda-benda sekitar, bisa bercerita dengan kalimat sederhana, bisa membedakan objek gambar yang lebih kecil/detail, mengingat objek-objek, tahu kanan-kiri-atas-bawah, dsb.

T: Gimana cara mengoptimalkan potensi anak?

J: Pertama-tama mah kenali aja dulu si anak gimana, kesukaannya apa, cepat belajar dalam hal apa. Ngga usah terburu-buru ingin tahu potensi apa terus langsung diarahkan hanya kepada hal itu. Beri ruang yang cukup untuk anak mengeksplorasi sebanyak-banyaknya hal di usia dini (hal yang baik, tentunya). Mulai menetapkan/mengarahkan spesialisasi berdasarkan minat itu biasanya baru pada usia SMA.

T: Oh iya, kan banyak tuh games-games edukatif untuk anak di gadget. Itu baik ngga sih untuk anak?

J: Baik, dengan berbagai syarat dan ketentuan. Untuk anak di bawah 6 tahun, sebaik-baiknya belajar adalah melalui pengalaman fisikal dan meniru, jadi akan lebih optimal kalau belajarnya bukan dari gadget (bisa membantu untuk sekunder sih, tapi tetap tidak sebaik pengalaman langsung). Selain itu sangat dibutuhkan pemantauan dan dampingan orangtua agar proporsional. Saya pribadi berpendapat, mainan gadget seperti itu digunakan di atas 6 tahun saja. Karena di bawah usia itu, kontrol anak akan lebih sulit karena tampilan visual gadget itu sangat memikat, beresiko membuat anak anteng di depan layar dibandingkan main lari-larian. Selain itu lebih baik main-main bobolokotan di rumput daripada terkena paparan radiasi.  Pilihan kembali pada orangtua, karena terkait perkembangan teknologi juga…lengkap dengan plus minusnya. hehe

anak dan gadget

sumber gambar: roboticsindonesia.com

T : jadi kemampuan belajar seseorang bisa berhenti ngga ketika dewasa?

J: bukan berhenti sih, tapi ngga berkembang lagi. Sama halnya dengan pisau kalau ga dipake dan diasah, dia jadi tumpul atau karatan. Dan memang secara alamiah, semakin dewasa menuju tua, kecepatan kita menyerap dan mempelajari sesuatu tidak ‘selentur’ ketika kecil. Hal ini disebabkan otak kita sudah membentuk ‘jalur-jalur tertentu’ yang relatif menetap kerjanya. Jadi sampe kapanpun agar otak ini kita terpelihara, kudu belajar terus dengan berbagai cara.

Sekian dulu postingan kali ini, semoga bermanfaat. Mudah-mudahan dapat dipahami dan diaplikasikan secara proposional. Hatur nuhun buat temen-temen alumni SMA 3 angkatan 2005 yang menstimulasi munculnya posingan ini melalui pertanyaan-pertanyaan kritisnya. Mohon maaf jika ada kata-kata atau informasi yang kurang berkenan. Penulis terbuka untuk masukan dan pertanyaan lebih lanjut ya… Kalau punya pertanyaan topik lain, silakan dimasukkan ke bagian komentar, sehingga nanti bisa dikompilasi menjadi seri FAQ selanjutnya.

Salam belajar!

***

Sumber bacaan terkait:

Brown, Steven D, & Robert W. Lent. 2005. Career Development and Counseling. John Wiley & Sons Inc.

Dechant, Emerald V. 1982. Improving the Teaching of Reading. Prentice-Hall, Inc.

Vallet, Robert E. 1969. Programming Learning Disabilities. Fearon Publishers.

 

Advertisements

About listiarahmandaru

Penyuka jalan kaki. Pecinta aneka jajanan Bandung. Dalam keseharian bergaul dengan topik psikologi dan pendidikan. Antusias terhadap topik terkait budaya khususnya angklung, mainan edukatif anak, lingkungan hidup khususnya berkebun. Penggemar warna hijau dan batik.
This entry was posted in psikologi, Tak Berkategori and tagged , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s