Pengalaman Perawatan Orthodontis: Mengenal Integritas Profesi

Bagi yang baru mengenalku di tahun 2011 ke atas, tak banyak yang mengetahui bahwa aku dulu pernah menjalani perawatan orthodontis alias pake behel. Ngikutin tren? oh jelas bukan…aku dan keluarga bukan tipe yang rela mengeluarkan banyak uang hanya untuk mengikuti tren atau estetika. Setelah melalui berbagai pertimbangan dan diskusi dengan keluarga, aku memantapkan hati menjalani perawatan orthodontis dengan alasan kesehatan. Rahangku yang kecil tak muat menampung si gigi-gigi raksasa untuk seukuran tubuhku. Jadilah gigiku berjejal berebut tempat. Sebagai hasil, sela-sela gigi mudah sekali jadi tempat sisa makanan bercokol dengan nyaman (untung rajin gosok gigi, jadi ga ada lubang. hihi). Selain itu, gigi bagian bawah yang posisinya naik-turun juga rawan patah jika terbentur.

before

sebelum pake behel, gigi masih parenghol dan kaya gigi kelinci. hihi

Alkisah, dimulailah perawatan gigiku sekitar bulan Juli 2008. Terpilihlah RSGM FKG Unpad di Sekeloa untuk tempat perawatanku. Dengan alasan penekanan biaya, aku memilih perawatan oleh dokter gigi yang sedang menjalani pendidikan spesialis orthodontis (residen). Soal perawatan dengan residen ini, testimoni orang macem-macem; ada yang oke dan ada yang tidak. Bismillah aja deh, semoga dapet dokter yang cucok. Jadi kelinci percobaan? ah engga juga. Aku memandangnya sebagai memfasilitasi ruang belajar, simbiosis mutualisme. Selama prosesnya kan di bawah supervisi konsulen yang sudah senior, jadi insyaAllah aman. Toh akupun menjalani proses yang kurang lebih mirip ketika menjalani pendidikan profesi psikolog; bekerja sama dengan klien yang bersedia menjadi relawan sekaligus membutuhkan bantuan.

Tersebutlah drg.Wahyuni, yang kala itu tengah memasuki tahun ke-2 nya menjalani pendidikan spesialis orthodontis. Entah apa yang menyebabkan kami ‘dipasangkan’, mungkin dengan pertimbangan tertentu ataupun kebetulan saja (nggg..sebenarnya aku meyakini bahwa tidak ada kebetulan di dunia ini, sih). Yang jelas, hal ini menjadi awal kerja sama yang indah selama 3 tahun kurang 3 bulan tersebut *ahzeeeekh.

Sejak awal kami sudah menjalin komitmen kesepakatan agar kooperatif menjalani perawatan. Mulai dari tertib menjalankan kontrol sesuai kebutuhan dan waktu yang ditentukan, komunikasi aktif 2 pihak, komitmen terhadap waktu perjanjian pertemuan yang disepakati, dan tidak setengah-setangah menjalani perawatan yang tidak akan mudah baik secara fisik maupun psikis. hehe. Galak? Ah engga juga. Aku suka gaya begini. Toh semuanya berdasarkan hasil kesepakatan, bukan  keinginan sepihak.

Sebagey yang super cupu dengan perawatan dokter umum apalagi dokter gigi, aku hobi banget tanya ini itu terkait kondisi gigiku dan intervensi yang menyertainya.Dokter yang akrab dipanggil dokter Uni ini sabarnya bukan main menjawab pertanyaan kritisku. hihi. Terkadang juga beliau menjelaskan duluan, dengan keyakinan penuh bahwa aku akan paham (kadang paham kadang ngga sih. hahaha). Yang jelas, aku sekarang memang tahu sedikit banyak tentang karakteristik gigi dan mulutku, istilah-istilahnya, serta kemungkinan sebab-akibat atas suatu kondisi. Menurutnya, beliau tidak menjelaskan banyak hal kepada pasien yang lain, aku ini pengecualian…ya, karena aku bawel dan ceriwis sepertinya. wkwk.

Ingat betul, awalnya aku tegang banget setiap mulutku akan dimasuki benda-benda asing logam berkilat dan saling berdentingan mulai dari ukuran kecil sampai besar itu. Asli hororrrr! Badanku sampai pegal dan kepalaku sakit karena secara tak sadar dalam kondisi tegang/kaku dalam waktu yang cukup lama. Untung dokter Uni peka menangkap hal ini, sehingga beberapa kali mengingatkanku agar lebih rileks. Lama kelamaan aku menjadi akrab dengan benda-benda itu, sampai-sampai aku hapal masing-masing fungsi dan urutan penggunaannya setiap intervensi tertentu. haha. Yang aku ga penasaran cuma nama-namanya, karena sudah pasti akan terlalu memenuhi memoriku :p.

Begitu banyak pengalaman fisik dan psikis yang kualami selama menjalani perawatan orthodontis. Mulai dari sariawan ‘doang’, gigi dan gusi pegal sampe bikin sakit kepala berat dan uring-uringan terus, menahan diri ga makan ini-itu, braket beberapa kali tertelan, sampe pengalaman gigi graham dicabut sebanyak 7 biji XD (dan seharusnya masih ada 1 lagi yang bungsu dioperasi karena impaksi). Sebagian besar memang bukan pengalaman yang enak, tapi semuanya benar-benar membuatku belajar kesabaran, konsistensi dan ketahanan.

perawatan

masa-masa memakai behel, hobi banget pake karet warna-warni biar (sekalian) ngehits

Yang selalu paling menarik buatku adalah lamunan-lamunan dan penghayatan psikologis ketika gigiku sedang mendapatkan intervensi dari dokter Uni (hal itu membuatku lebih rileks, hehe). Sebagey individu yang sangat responsif dan ekspresif, bisa kebayang kan, apa yang terjadi ketika gigi dan mulutku ‘diobok-obok’…heu. Sedikit saja kecoel, ekspresi wajahku berubah. Awalnya dokter Uni suka terkejut dengan ekspresiku ini, khawatir penanganan beliau menyakitiku. Lama-kelamaan beliau bisa membedakan mana ekspresi yang berlebihan, dan mana yang perlu diantisipasi. Namun sesungguhnya, dokter Uni benar-benar apik dan teliti. Sangat jarang penanganannya menyakitiku. Benar-benar antitesis diriku yang rusuh dan clumsy ini. hahaha.

Lewat detail-detail penanganan dokter Uni, aku menjadi tersadar mengenai begitu kompleksnya profesi dokter gigi khususnya spesialisasi orthodonti ini. Secara keterampilan teknis, jelas membutuhkan ketelitian, akurasi, kecekatan, keluwesan untuk mengatur tekanan lemah dan kuat, dsb. Secara kemampuan berpikir dan karakter..aaah jangan ditanya, tentunya lebih kompleks lagi. Mulai dari pengamatan tajam, analisis jitu, kecepatan mengambil keputusan, elaborasi berpikir teoretis dan praktis, kelincahan berpikir, kesabaran sekaligus ketegasan, komunikatif, dan sejibun lainnya yang tidak tertulis di sini. Tak heran dokter gigi spesialis mendapat ‘konversi apresiasi’ (a.k.a bayaran) yang tinggi. Langsung terbayang kriteria untuk masuk jurusan kedokteran gigi…hihihi. 

Namun dari semua itu, salah satu yang paling berharga bagiku adalah saya baru mengenali yang namanya integritas profesi. Setiap profesi mempunyai kriteria masing-masing baik secara karakter, kemampuan berpikir, maupun keterampilan. Dengan berbagai kriteria tersebut, secara berproses individu yang telah berkomitmen menjalankan suatu profesi perlu belajar terus-menerus. Bukan berarti semuanya harus sempurna, melainkan bagaimana upaya kita dalam berproses. Bukan dengan cara menuntut diri berlebihan dan terus-menerus, melainkan dengan menerima diri dengan kekurangan yang ada, dan berproses memperbaikinya. Hal itu aku coba camkan selama berproses menjadi psikolog.

Dengan intensitas interaksi yang tinggi dan jarak fisik yang dekat ketika perawatan *hehe*, akupun lama-kelamaan mengenali dokter Uni. Aku dapat merasakan kapan suasana hati sang dokter sedang baik, kapan tidak. Ada saat-saat suasana hatinya kurang baik karena pasien lain yang bandel atau tidak komit atas kesepakatan awal, sehingga membuatku berjanji untuk tidak menjadi seperti itu. Ada juga saat-saat dokter Uni sedikit menegur dengan tegas karena aku bandel tidak menuruti sarannya, atau berekspresi geli menahan tawa atas kelakuan konyolku yang menyebabkan sedikit kecelakaan braket (lepas, tertelan, dsb), atau sekadar menghela napas antara maklum dan berusaha sabar. hehe… Tertangkap jelas pula ekspresi senang dokter setiap melihat perkembangan yang positif dari susunan gigiku.

Dalam beberapa kesempatan, dokter Uni juga suka bercerita mengenai keluarga dan pengalaman keprofesiannya. Semua cerita-cerita ini juga mengenalkanku mengenai sisi manusia dari sebuah profesi di balik profesionalismenya. Yang jelas, aku selalu menikmati cerita-cerita beliau. Aku biasanya tak dapat banyak bercerita, karena mulutku sedang dipenuhi peralatan ini itu. Haha. Seiring proses, relasi profesional kami pun diiringi oleh relasi pertemanan yang hangat. Bagaimana tidak, selain minimal bertemu sebulan sekali dan saling berbagi cerita, setiap kami akan bepergian jauh keluar kota dalam waktu yang lama, kami akan saling mengabari jadwal terkait penyesuaian agenda kontrol. Tak jarang juga kami saling membawakan oleh-oleh setiap habis bepergian jauh.

Setelah menjalani perawatan selama 3 tahun kurang 3 bulan, tibalah hari sangat penting yaitu pelepasan braket karena sudah mencapai hasil yang diinginkan. Aku masih ingat betul ekspresi puas, bangga, dan sumringah dokter Uni setelah melepas braket ku. Dokter pun langsung memotret susunan gigiku dari berbagai arah untuk kepentingan dokumentasi dan pelaporan. Dengan bangganya beliau memanggil rekan-rekan residen lainnya dan menunjukkan hasil karya gemilangnya yang tersusun rapi dalam mulutku. hahaha. Saking perfeksionisnya, sang dokter memberiku tambalan estetika secara cuma-cuma pada gigi depanku yang pernah secuil patah di masa kecil, padahal ga keliatan-keliatan amat… Tentunya tak hanya dokter Uni yang berbahagia atas hal ini, aku pun girang betul atas hasil yang sangat memuaskan setelah berproses panjang.

Tak lama setelah perawatanku selesai, dokter Uni berhasil menyelesaikan pendidikan spesialisnya dan sejak saat itu sudah praktek sebagai spesialis orthodontis.

setelah

setelah lepas behel, makin pede nyengir kuda 😀

Diiringi perawatan pasca pelepasan behel yaitu penggunaan retainer, alhamdulillah susunannya bertahan rapi hingga saat ini. hihi. Hanya saja bagian bawahnya agak parenghol lagi karena terdorong si gigi bungsu yang bandel, dalam waktu dekat rencananya akan dioperasi agar tidak mengganggu. huhuhu…

Demikianlah pengalamanku bersama braket-braketku yang selalu ceria! Semoga tulisannya ga bikin bosen dan bisa sedikit ngasih referensi tentang…mmm…apapun pesan utama yang pembaca tangkap dari tulisan ini. hehe.

Salam hormat untuk semua profesi dan perjuangan di baliknya!

Susunan gigiku sebelum dan sesudah perawatan (dokumentasi drg. Wahyuni, Sp. Ort)

***

Tulisan ini didekasikan untuk  profesi helper (dokter, dokter gigi, psikolog, perawat, bidan, apoteker, dsb.), khususnya dokter gigi spesialis orthodontis, lebih khususnya lagi drg. Wahyuni, Sp. Ort yang dengan penuh kesabaran telah merawatku dulu.

 

 

 

 

Advertisements

About listiarahmandaru

Penyuka jalan kaki. Pecinta aneka jajanan Bandung. Dalam keseharian bergaul dengan topik psikologi dan pendidikan. Antusias terhadap topik terkait budaya khususnya angklung, mainan edukatif anak, lingkungan hidup khususnya berkebun. Penggemar warna hijau dan batik.
This entry was posted in Tak Berkategori and tagged , , , . Bookmark the permalink.

One Response to Pengalaman Perawatan Orthodontis: Mengenal Integritas Profesi

  1. Wahyuni says:

    Terima kasih banyak, dear Listia. Alhamdulillah, banyak manfaat ya “kebersamaan” kita selama 3 tahun kurang 3 bulan 😉. Sehat selalu, makin sukses dan jangan lupa bahagia yaa buat Listia dan keluarga 😙💜💜

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s