KOA XIII Sarasakatha Vicitra: Memorabilia Perjalanan KPA3

Mumpung masih hangat dan berkesan banget, saya ingin berbagi cerita sekaligus testimoni mengenai Konser Orkestrasi Angklung XIII (KOA XIII) yang kemarin (Sabtu 23 April 2016) dihelat oleh Keluarga Paduan Angklung SMAN3 Bandung di Teater Tertutup Taman Budaya Provinsi Jawa Barat (Dago Tea House).

Kali ini saya mendapat kehormatan menonton konser sebagai tamu undangan di kursi VIP bersama beberapa alumni KPA3 lainnya. Kalau yang belum tahu, KPA3 ini sudah seperti keluarga bagi saya karena saya bertumbuh bersama KPA3 dan orang-orang di dalamnya sejak kelas 1 SMA. Meskipun sudah lama tidak terlibat aktif pada kegiatan KPA3, namun saya masih mengikuti perkembangan umum dan menghadiri kegiatan-kegiatan insidentalnya.

Empat belas tahun mengenal KPA3, mengikuti 15 konsernya (wooww…baru sadar banyak amaaat!) baik sebagai pemain, pelatih, kru, maupun penonton membuat saya mempunyai cukup gambaran mengenai perkembangan konser KPA3 dari waktu ke waktu. Setiap konser dengan masing-masing konsepnya selalu menghadirkan kesan tersendiri bagi saya.

Sejak awal melihat tajuk “Sarasakatha: Vicitra”, saya sudah punya feeling bahwa sepertinya konser kali ini akan benar-benar keluar dari ‘pakem’ atau zona nyaman konser KPA3 selama ini. Terpikat sekaligus penasaran dengan frasa judul tersebut, saya langsung bertanya kepada adik-adik panitia sekaligus konseptor mengenai maknanya.Rupanya arti dari frasa tersebut adalah “kisah yang indah”, diambil dari bahasa Sansekerta. Saya benar-benar mengapresiasi pilihan tajuk tersebut karena tidak menggunakan bahasa Inggris seperti konser-konser sebelumnya. Pasti ada pertimbangan yang sangat mendasar di balik keputusan tidak populer itu. Poster pun disajikan dalam bahasa Indonesia. Suka!

image

Ternyata feeling saya ada benarnya. Konser ini setiap sesinya benar-benar berusaha keluar dari pakem konser KPA3 yang selama ini dikenal sebagai tim angklung yang sangat ‘tertib’ dalam menampilkan musik angklung. Yang dimaksud ‘tertib’ di sini adalah format penampilan yang sangat mengedepankan kualitas audio permainan, sehingga tidak terlalu menonjolkan tampilan visual atau ke-gegapgempita-an performa (baca: nampilnya kalem-kalem aja). Sedangkan konser kemarin benar-benar menampilkan sajian yang atraktif sepanjang konser sehingga membuat penonton tidak bosan selama menonton. Padahal konsernya lebih panjang daripada biasanya lhoo… durasi kotornya 2,5 jam lebih! Biasanya saya juga selalu punya sesi favorit dari setiap konser. Kali ini ngga ada, favorit semuaaa~

Sebenarnya sebagian besar format penyajiannya sudah pernah ditampilkan pada konser-konser sebelumnya (tarian, nyanyian, teatrikal, dsb.). Namun yang membuat konser kemarin istimewa adalah mereka merangkum semuanya dalam sebuah konser! Mulai dari sesi folklore lengkap dengan tarian dan kostum daerah warna-warni yang sangat memikat mata,  chamber music, pop dan rock, jazz, klasik, musical, hingga penutup yang bernuansa nasionalis. Saya menjadi paham, kenapa mereka beberapa bulan ini sering berlatih hingga larut malam untuk mewujudkan konser sekompleks ini. Itu hanya latihannya, belum lagi persiapan belakang layar mulai dari pendanaan hingga kostum dan detail panggung. Dengan kesibukan dan ekspektasi akademis mereka yang tinggi, bisa berproses dan menghasilkan karya seperti ini membuat mereka pantas disebut anak-anak ajaib!

Mengubah mindset, suasana hati, teknik bermain dalam rangka penyesuaian tema dalam waktu yang singkat sama sekali bukan hal yang mudah, lho! Padahal saat ini KPA3 hanya mempunyai 1,5 tim angklung (chamber saya hitung setengah, hehe). Di zaman saya dulu, biasanya KPA3 punya 3 tim angklung. Karena jumlah yang termasuk sedikit ini, maka mulai dari anak SMA hingga alumninya banyak yang merangkap peran. Mulai dari bermain angklung, alat tambahan, menari, multimedia, urusan depan dan belakang panggung, pengaturan penonton, dsb–dengan kombinasi yang berbeda-beda. Ampun daah, juara umuuuum!

wp-1461493234263.jpeg
Sesi Folklore

Rangkaian apik ini berhasil membuat memori dan perasaan saya melayang ke saat-saat 6 hingga 14 tahun lalu ketika saya masih aktif ulubiung di KPA3 ini. Kenangan manis proses perjuangan, rasa penasaran, dan kepuasan atas setiap milestone yang pernah kami capai baik sebagai organisasi maupun individu. Kemasannya menjadi semakin lengkap karena didukung oleh multimedia berupa foto-foto dan video singkat perjalanan KPA3 dari masa ke masa. Ah manisnya… selalu ngangenin! Anyway, saya cukup penasaran dengan kesan penonton lain yang bukan bagian dari KPA3. Bagaimana ya kesan yang mereka tangkap dari konsep ini?

Ada energi berbeda yang saya rasakan dari konser kemarin. Energi kebebasan berekspresi yang kuat. Bagi saya terasa bahwa konsep, pilihan lagu, alur, detail-detail pengaturan benar-benar menggambarkan ‘suka-suka hati’ konseptor dan panitia. Dalam artian, semuanya tampak berusaha disajikan sepenuh hati karena didasari rasa kepenasaranan dan ketertantangan mewujudkan sesuatu. Ide liar hasil pengendapan kesan dari sebuah perjalanan yang panjang. Saya membayangkan bahwa proses penyusunannya melalui proses urun rembug berdasarkan kesukaan, momen berkesan, dan ide liar orang-orang di dalamnya. Iseng-iseng tanya pasca konser, ternyata sebagian besar betul adanya. hihi…

Ada hal yang masih muncul sebagai khas anak-anak SMA3, yaitu tidak sepenuhnya lepas dalam tersenyum dan bergerak. Jangan-jangan ini kutukan karena kebanyakan gaul sama rumus Matematika dan Fisika. Hahaha… Tapi ga terlalu kentara sih, karena diakomodir oleh detail yang atraktif. Dan segitu juga dibandingin zaman saya mah udah ekspresif pisan ;-).

Kolaborasi dengan bintang tamu dengan konsep dan teknis yang kompleks juga saya rasa patut diacungi banyak jempol. Salah satu yang saya soroti adalah kolaborasi dengan PSM Unpad. Beberapa kali konser dan penampilan KPA3 juga pernah menghadirkan mereka sebagai bintang tamu. Namun yang sangat berkesan kali ini, penampilan mereka tidak hanya bernyanyi dengan format berbaris rapi seperti biasanya. Kali ini mereka bersedia untuk ‘ikut heboh dan rempong‘ dengan format penampilan musical yang melibatkan aksi-aksi teatrikal. Kalau tidak ada relasi yang baik dan dekat dengan PSM, sudah pasti kolaborasi tidak akan sebegini kompleksnya. Dan memang, beberapa anggota PSM Unpad kemarin ada alumni KPA3. Meskipun mereka telah melanglangbuana bersama PSM Unpad, hati mereka juga masih ada di KPA3. Salut dan keren! Begitu juga dengan New Plateau dengan musik jazz nya, salah satu personelnya juga alumni KPA3. Maka tampaknya tidak terlalu sulit bagi mereka untuk ‘menyatukan hati’ dengan KPA3.

Duduk di kursi VIP tentunya membuat saya berharap mendapatkan pengalaman visual dan akustik yang optimal. Untuk urusan visual, saya benar-benar dimanjakan oleh warna-warni kostum, tata panggung, properti, dan pencahayaan yang dinamis dan detail. Salah satu adegan favorit saya adalah ketika conductor pertama memasuki panggung mengenakan kostum tari merak dengan gemulainya. Aduh kabitaaa… Spontan saat itu saya berkomentar “Kyaa…mau jadi conductor pake baju itu, masuk dengan cara itu!”. Tapi kalaupun ide itu sudah ada dulu, ngga akan diizinkan sama stage director, karena citra dan bahasa tubuh saya sama sekali ngga mecing dengan konsep itu. Nanti malah jadi komedi. hahaha… :-D. Saya juga ngefans abis dengan kostum conductor sesi klasik. Efek ayunan lengannya itu lho, cetar membahana badai *lebay mode ON deh*. Guyonan kami kepada si conductor karena dia selalu mengenakan baju-baju keren: kalau dia akad nikah dan resepsi harus sekeren apalagi bajunya biar manglingi. Karena dia sudah mencicipi berbagai kostum keren..heuheu.

wp-1461493421940.jpeg
Adegan favorit: conductor masuk dengan tarian dan kostum merak

Sayangnya berbeda halnya dengan pengalaman visual, saya tidak merasa mendapatkan pengalaman akustik yang optimal :-(. Beberapa rentang nada rendah dan tinggi kurang terdengar jelas sehingga beberapa lagu terkesan kurang ‘memijak’, tegas, megah, ataupun nyaring. Dugaan saya hal ini akibat tidak tertangkapnya bebeberapa rentang frekuensi oleh sound system, karena ketika beberapa kali saya mendengar sekilas latihan di SMA3, rasanya tidak ada masalah berarti pada persebaran angklung, teknik bermain, kualitas angklung, maupun aransemen. Dugaan sih, perlu dicari tahu yang sebenarnya. Penasaran kalau di kursi lain mengalami hal yang sama ngga, ya. Ah..andai saja akustik magis di gedung dan Aula SMA3 bisa diduplikasi dalam sebuah gedung pertunjukan…heu (colek para arsitek dan ahli akustik KPA3).

Tak ada gading yang tak retak. Adapun kesalahan-kesalahan teknis minor seperti buka-tutup tirai, mic tidak menyala, trap conductor kurang tepat penempatannya, cup yang jatuh saat cup dance (hihi…), bagi saya tidak terlalu masalah dan mengganggu. Bagi saya hal-hal tersebut terkadang perlu ada untuk menjaga kita agar lebih mawas diri dan tidak tinggi hati karena merasa sempurna :-).

Yah…tampaknya tulisan ini sudah terlalu panjang. Selamat dan salut atas perjuangan adik-adikku yang berbuah manis ini. Selalu bersyukur dan bangga pernah masih menjadi bagian dari KPA3, keluargaku. Semoga perjalanan kemarin menjadi bekal berharga untuk masa depan kalian dan KPA3. Sukses untuk program-program KPA3 ke depannya, terutama yang terdekat ESA 2016. Tetap rendah hati atas pencapaiannya ya!

Brav0 KPA3! KPA3 selalu di hati :-).

***

Tulisan ini didedikasikan untuk semua pemain dan kru atas kesungguhan dan kerja kerasnya mewujudkan KOA XIII sebagai wujud apresiasi saya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: