Aku dan Angklung, Kisah Cinta Tak Berkesudahan

“Apa makna pin yang Anda pakai di dada Anda itu?”

Itulah pertanyaan pembuka dari salah satu dosen penguji sidang sarjanaku 7 tahun yang lalu. Kala itu aku mengenakan pin angklung mini pada dada kiriku. Pin ‘jimat’ yang selalu aku kenakan di setiap event istimewa, terutama yang berkaitan dengan angklung. Pertanyaan pembuka tersebut sungguh mengejutkan. Aku sampai bertanya ulang maksud pertanyaan dosen penguji tersebut. Dosen tersebut tersenyum teduh dan menjelaskan ulang maksud pertanyaan. Diawali basmallah dan tarikan nafas panjang, akupun menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum lebar dan pandangan menerawang. Kuceritakan makna pin yang tersemat di blazerku, sebagai simbol alat musik yang membuat hatiku tertambat itu, sekaligus alat musik yang kuangkat sebagai topik penelitian skripsiku tersebut.

img_20160420_135419.jpg

(dokumentasi pribadi)

Awal persentuhanku dengan angklung dimulai ketika aku menginjak kelas 5 SD. Kala itu aku mengikuti kegiatan Pembinaan Anak-anak Salman (PAS), khususnya unit kegiatan Padvoca (Paduan Vocal Anak-anak). Kala itu Padvoca mengadakan semacam pertunjukan internal, di mana setiap kelompok diminta untuk menyajikan sebuah penampilan musik bebas yang unik. Kakak pembina kelompokku saat itu mengajukan agar kami menampilkan musik angklung. Sebagai anggota yang selalu bersuka cita dengan ajakan seru apapun, aku dan teman-temankupun mengiyakannya.

Proses latihan dan penampilan perdana musik angklungku saat itu cukup berkesan. Kalau tidak salah, kami hanya diberi waktu 2 pekan untuk mempersiapkan penampilan tersebut. Mau tidak mau, kami harus meluangkan waktu lebih untuk mempersiapkan penampilan ini. Kami bersepakat untuk menjalankan latihan 3-4 kali selama 2 pekan tersebut di sore hari. Kelompokku terdiri dari 6 orang anak kelas 4, 5, dan 6 SD. Artinya kami akan memainkan angklung dalam kelompok musik yang sangat kecil untuk ukuran tim angklung. Kakak pembina kelompokku yang cerdik memilihkan lagu populer anak melodi utamanya hanya terdiri dari 8 nada, mulai dari do (1) hingga do tinggi (i).

Tersebutlah lagu “Ambilkan Bulan, Bu” yang mencatatkan sejarah sebagai lagu pertama yang kupelajari dengan menggunakan angklung. Aku masih ingat betul melodinya hingga saat ini. Aku mendapat amanah memainkan angklung 1 (do), yang nadanya muncul hampir di setiap frasa lagu. Kala itu selain mengikuti kegiatan PAS, akupun mengikuti Les Bahasa Inggris sepekan tiga kali di sore hari, sehingga ada 1-2 kali kesempatan aku izin latihan angklung karena bentrok dengan Les Bahasa Inggris. Aku ingat betul bahwa setiap kali aku bolos latihan, teman-temanku akan protes karena latihan terhambat. Pasalnya, tidak ada yang memainkan nada 1. Saat itulah aku menyadari, bahwa angklung itu begitu unik. Satu saja anggota tim yang tidak hadir, maka lagu tidak dapat berjalan sempurna. Benar-benar membutuhkan kerjasama yang solid!

Singkat cerita, tibalah hari penampilan kami tersebut. Penampilan tersebut mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari teman-teman kelompok lain, kakak pembina lain, serta orangtua. Ah, sayang sekali aku benar-benar lupa nama dan identitas kakak pembinaku itu. Ingin sekali mengucapkan terima kasih atas jasanya memperkenalkan angklung padaku di masa kecil. Hmm…jadi terpikir untuk mulai mencari informasi tentang beliau…(!)

***

Perkenalan selanjutnya dengan angklung adalah ketika aku secara tidak sengaja melihat penampilan angklung kakakku yang saat itu tergabung di Keluarga Paduan Angklung SMAN3 Bandung (KPA3). Niat awalnya hanya menjemput kakakku bersama bapak, rupanya penampilan masih berlangsung sehingga kami berkesempatan menyaksikannya. Kakakku sering sekali membanggakan KPA3, aku si bocah biasa-biasa saja mendengarnya, karena belum melihat ‘bukti kongkretnya’. Lagu yang ditampilkan saat itu adalah “Wulan Merindu”. Melihatnya, aku juga biasa-biasa saja. Aku hanya terkesan dengan penyanyinya yang dapat menyanyikan lagu Wulan Merindu dengan sangat mirip Cici Paramida. Belakangan, aku baru paham bahwa penampilan saat itu terkesan biasa saja karena masalah akustik. Saat itu kualifikasi dan pengaturan sound system nya tidak memadai sehingga kemegahan suara angklung yang dimainkan oleh jumlah tim yang besar itu kurang terdengar.

Setelah penampilan itu, lama aku tidak berinteraksi dengan angklung, baik sekadar melihat pertunjukannya apalagi memainkannya. Di masa SMP aku asyik dengan kegiatan baruku di Pramuka SMPN 2 Bandung. Interaksiku dengan angklung baru dimulai kembali ketika menginjak kelas 1 SMA. Saat itu aku memasuki SMAN3 Bandung, tempat KPA3 bernaung. Sejak lama kakakku sudah mempromosikan KPA3 agar aku mengikutinya, tapi aku belum tertarik. Ketika demo ekstrakurikuler masa orientasi siswapun, aku ‘cukup’ terpikat dengan permainan megah dan pilihan lagu andalan saat itu, Santorini. Namun hal itu belum cukup membuatku terdorong untuk mengikuti KPA3. Alasan dangkal; malas terlalu sibuk, dan gosipnya kalau mau tampil kostumnya mahal : )). Selain itu akupun masih aktif membantu mengelola latihan Pramuka SMP2. Saat itu akhirnya aku hanya memilih mengikuti 2 ekstrakurikuler lain yang relatif tidak terlalu sibuk. Yang satu hanya insidental, satu lagi pertemuan seminggu sekali.

Takdirku berubah ketika suatu hari aku menunggui salahsatu teman yang biasa pulang naik angkot bersamaku . Malas pulang naik angkot sendiri, aku malah menungguinya latihan KPA3 hingga sore. Sambil menunggu, aku mengamati proses latihannya dan mendengarkan lagu yang sedang dilatihkan. Hmm…menarik juga. Pelatihnya juga sepertinya asyik, atraktif, ekspresif (menariknya, selang beberapa tahun kemudian beliau menjadi partner melatihku!). Tampak seru latihannya. Ketika pulang, aku ditanyai orang rumah alasan pulang sore. Mendengar alasan konyolku hanya karena menunggu teman, kakakku meledekku “Haha ya ampun…ngapain nunggu doang, sekalian aja atuh ikutan. Daripada nungguin ngga jelas, lagian kamu juga belum banyak kegiatan kan?”. Kalimat tersebut cukup menyentilku, tapi aku merespon bahwa aku akan mempertimbangkannya. Beberapa hari kemudian, aku menunggui kembali temanku latihan, dan saat itu aku semakin tertarik dan ingin bergabung dengan KPA3. Tak lama berselang, setelah berdiskusi dengan keluarga, akupun mendaftar KPA3 dengan tujuan mengisi waktu, mendapat keseruan, teman, dan pengalaman baru. Klise.

Bergabunglah aku dengan Dream Team 3 (DT3) yang berlatih di hari Selasa dan Jumat, jadinya malah tidak satu tim dengan temanku tadi. Di hari pertama latihan langsung diberi 3 angklung: B, 3, 22. Distribusi angklung perdana yang sempat menjadi ‘identitas baruku’ karena seringnya aku salah bermain. Hari pertama berlatih bersama teh Safie, yang kala itu masih menjadi mahasiswa tingkat akhir FK Unpad. Tak henti-hentinya teh Safie memanggil “B…siapa yang main B? jangan lupa main di sini ya…”. Karena sebagai pemain baru, aku belum terampil membaca ketukan dan nada. Tak heranlah jika dalam waktu singkat aku dikenal sebagai si pemain B—yang salah terus mainnya. Hahaha…

Latihan demi latihan, penampilan demi penampilan, konser demi konser aku ikuti dengan sukacita. Ketidakhadiranku pada latihan bisa dihitung dengan jari di satu tangan saja. Selalu saja ada dorongan untuk mengikuti latihan angklung. Aku selalu menikmati menggetarkan si ‘bambu goyang’ ini. Aku pun aktif menjalani kepengurusan di KPA3, belajar berorganisasi dan mengenal diri. Di masa dewasa, aku baru sadar rupanya proses mengenal diri kala itu benar-benar milestone yang sangat bermakna dalam masa perkembangan diri dan karierku di masa dewasa.

Ketika aku sedang aktif-aktifnya berorganisasi di kelas 2 SMA, aku menjadi lebih mengenal diri. Aku baru banyak disadarkan tentang kekuatan dan kelemahanku, keunikanku, kecenderungan sikapku dalam menghadapi situasi tertentu, dan hal-hal yang aku suka dan tidak suka. Singkatnya, aku mengeksplorasi ‘minat dan bakat’ sebelum aku memilih jurusan kuliah nanti. Di kelas 2 SMA tersebut juga aku baru mengenal profesi yang dinamakan psikolog—profesi yang masih sangat asing bagiku karena sejak kecil tidak mempunyai referensi tentangnya.

Menyadari kesukaanku yang senang berbicara (dalam hal ini curhat dan dicurhati), berinteraksi dengan banyak orang, mengamati dan menganalisis fenomena sosial dan hal-hal yang bersifat abstrak, merasa lebih mudah memahami pelajaran Sosial dibandingkan Pengetahuan Alam, aku mulai menaruh minat terhadap ilmu psikologi. Singkat cerita, di kelas 3 SMA aku memantapkan hati untuk memilih jurusan Arsitektur dan Psikologi untuk ujian perguruan tinggi negeri. Keduanya jurusan yang sangat aku minati dan sudah cukup aku eksplorasi sebagai langkah awal sebelum masuk. Alhamdulillah, Allah memberiku jalan untuk bertualang menyelami ilmu Psikologi. Si ilmu yang super abstrak dan sempat berada pada posisi pseudosains itu. Si ilmu yang selalu lekat dengan manusia, yang akan selalu dibutuhkan selama masih ada manusia di muka bumi ini.

Selama aku berkecimpung di dunia psikologi, mulai dari masih mahasiswa hingga saat ini, angklung hampir selalu mengiringi ceritanya. Aku menjalani berbagai peran di sana. Ketika kuliah hingga tahun pertama kelulusanku, aku aktif melatih di KPA3. Bisa dibilang, ketika kuliah angklung menjadi kajian utama dan tempat kuliahku, kuliah sebagai ekstrakurikuler…saking banyaknya aku meluangkan waktu pada berbagai aktivitas yang berkenaan dengan angklung ini.

Semakin menyelami angklung, aku semakin jatuh cinta dan penasaran. Aku mendapat berbagai kesempatan istimewa ketika bermain dari satu panggung ke panggung lainnya. Bukan dalam artian ‘eksis’nya, melainkan pengalaman proses di balik itu semua, hingga hasil yang dipetik. Aku semakin bersemangat menjalaninya dengan dukungan dosen wali di kampus yang selalu berpesan setiap perwalian “Sana kalian berkegiatan yang banyak di luar. Belajar di luar, cari network. Itu modal kalian nanti. Ngga apa-apa kuliah sesekali bolos, asa jatah absen tetep terpenuhi *upps buka kartu*. Asal ujian kalian tetep bisa, IPK bagus, cepet lulus!”. Begitulah kira-kira ‘doktrin’ yang ditanamkan beliau pada kami. Seperti biasa, aku menurutinya dengan sukacita. Hehe.

Seiring regenerasi KPA3, peranku pun beralih menjadi orang belakang layar seperti kru belakang panggung ketika konser, mengelola situs, mewakili KPA3 untuk pertemuan dengan pihak luar, mendampingi kepengurusan siswa, dsb. Aku benar-benar menikmati setiap prosesnya dan belajar banyak hal lewat semuanya. Selain itu akupun sempat melatih di beberapa tim angklung di Bandung sebagai profesional. Alhamdulillah, semasa kuliah tidak lagi meminta uang jajan sama orangtua karena ini. Hihi…

Di tahun pertama kuliah profesi, minatku meluas terhadap bidang lingkungan hidup, sehingga waktuku untuk angklung banyak berkurang. Namun saat itu aku sempat menginisiasi sebuah kegiatan mendokumentasikan dan mengelola pengetahuan tentang angklung. Proses inisiasi tersebut membuatku kembali banyak belajar mengenai filosofi di balik angklung, proses pembuatannya, filosofi bambu sebagai bahan dasarnya, serta mengenal lebih dekat pencipta angklung diatonis Daeng Soetigna—yang ternyata juga sangat akrab dengan dunia kepramukaan, melalui salah satu muridnya yaitu Handiman Diratmasasmita. Seiring kepadatan aktivitas akademis dan excitement terhadap dunia lingkungan hidup yang baru aku selami, kegiatan ini sempat tertunda lama dan baru dimulai kembali tahun lalu. Selama beberapa tahun, aku hanya sesekali menyaksikan latihan, penampilan, ataupun konser angklung. Sesekali terlibat dalam kegiatan insidental yang membutuhkan peran spesifik dariku. Beberapa kali juga sempat bermain dan melatih untuk acara-acara yang sangat istimewa, seperti pernikahan sahabat atau permintaan seseorang yang sangat aku hormati. Meskipun terkesan berjarak karena tidak intensif, namun angklung tetap selalu di hatiku dan menjadi identitasku.

Sejak tahun lalu, aku memulai kembali kegiatanku bersama beberapa teman untuk membantu pak Handiman dalam mengelola dan mendokumentasikan pengetahuan mengenai angklung di bawah komunitas yang dinamai Bale Angklung Bandung. Aku menjadi kembali sangat lekat dengan angklung. Kembali semakin bergairah, dan masih saja mempunyai banyak mimpi tentang angklung. Dan rupanya rindu kembali dengan ruang latihan.

Ya, inilah aku dan angklung. Meskipun sempat berkelana, akhirnya aku kembali juga. Hatiku memang sudah tertambat.

 

 

Advertisements

About listiarahmandaru

Penyuka jalan kaki. Pecinta aneka jajanan Bandung. Dalam keseharian bergaul dengan topik psikologi dan pendidikan. Antusias terhadap topik terkait budaya khususnya angklung, mainan edukatif anak, lingkungan hidup khususnya berkebun. Penggemar warna hijau dan batik.
This entry was posted in angklung, budaya, hobi and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s