Simbar Kancana Males Pati: Pagelaran yang Memikat Hati

Kehormatan ditempuh dengan menghalalkan berbagai cara. Peluh, air mata, dan darah rela menetes demi mewujudkan tujuan dan mimpi berada di puncak tertinggi. Luka dan perih menjelma menjadi kobaran dendam akibat pengkhianatan di tanah Talaga. Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Banda moal malire asihna pati nu ting garupay menta sebak kanu bogana. Asih mopoek ati nu sulaya kana jangji, patrem nu jadi saksi cinta nu teu suci.

Setelah sekian lama mencari kesempatan yang tepat untuk menonton pagelaran drama tari, akhirnya Rabu 25 Mei kemarin saya berkesempatan menonton pagelaran drama tari bertajuk “Simbar Kancana Males Pati”. Drama tari yang digelar di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House) ini merupakan hasil karya dari mahasiswa Pendidikan Seni Tari UPI angkatan 2013.  Pagelaran ini sekaligus merupakan ujian akhir dari beberapa mata kuliah yang mereka ikuti.

Beruntung sekali saya mendapatkan informasi mengenai pagelaran ini. Bisa dibilang secara kebetulan dan terhitung mendadak. Saya mendapat informasi dari guru tari saya, Bude Ratna Yulianti di hari pertama penyelenggaraan pagelaran tersebut melalui postingan yang melintas di Instagram. Tak banyak banyak timbang-timbang, saya pun segera memesan tiket pagelaran hari ke dua di siang hari. Bahkan saya tak sempat mengajak siapa-siapa, menyadari pilihan waktu saya merupakan jam kerja sebagian besar teman saya yang senang nonton pagelaran sejenis ini. Ini pertama kalinya saya menonton pagelaran sendirian, sekaligus menonton drama tari Sunda. Terakhir kali menonton pertunjukkan sejenis adalah sendratari Ramayana di Prambanan ketika SD (!). Kemudian longser di Pagelaran LSS ITB ketika kuliah. Sejak lama saya benar-benar menantikan kesempatan macam ini, maka ketika kesempatan tiba, waktunya pas, langsunglah memutuskan untuk menonton.

Kesempatan kali ini membuat saya bersyukur. Pasalnya, saya benar-benar terpukau oleh sajian apik dari mahasiswa-mahasiswi ini. Ngecharge abis. Hingga saat ini bahkan saya merasa sangat excited dan terbayang beberapa adegannya. Hingga rasanya keinginan saya begitu membuncah untuk membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Sekian kali manggung, menjadi panitia, dan menjadi penonton di gedung pertunjukkan tersebut membuat saya hapal sudut yang paling tepat untuk mendapat pengalaman akustik dan visual terbaik—selain di kursi VVIP.  Sengaja saya hadir 20 menit sebelum gerbang dibuka, dengan semangat 45 mendapat barisan antre terdepan demi memperoleh kursi idaman. Hihi. Sayapun mendapat barisan antre ke dua terdepan, dan berhasil mendapat kursi di bagian tengah, ke empat terdepan di dekat panggung. Yeaaay! Sedikit catatan, sayang sekali gerbang terlambat dibuka 20 menit. Di satu sisi mengerti, karena pasti di dalam sana ada hal yang ternyata di luar kendali, di sisi lain merasa sebaiknya hal ini tidak terlalu ‘dimaklumi’ agar tidak menjadi pembiasaan. Hehe. Agak ‘gubrak’ ketika salah satu calon penonton berseloroh “Telat dibuka ya? Ya udah deh, da udah biasa telat mah ya…pasti telat beginian mah”. Aduh jangan atuhhh…heuheu.

Setelah serangkaian pembuka oleh MC yang kostumnya cetar membahana badai, dan sambutan wakil dekan, dibukalah tirai penutup panggung. Ketika musik gamelan mulai dimainkan keras membahana, diiringi sorot aneka lampu benderang, para penari mulai menggerakan tubuhnya, sejak saat itu pandangan mata saya nyaris tidak beralih dari panggung. Sesekali badan saya maju mundur untuk melihat lebih jelas detail ekspresi atau kostum pemain (nasib minus mata nambah tapi belom ganti lensa XD), atau mencari frame yang tepat untuk mengambil gambar. Untuk mengambil gambar saja, saya hanya mengalihkan pandangan sebentar untuk mengatur frame, lalu segera memandang ke arah panggung kembali *lebay abis*, walhasil banyak fokus foto yang tidak optimal. Hahaha. Payaaahhh… Saya tak ingin melewatkan sedikitpun sajian visual dan akustik yang sangat memikat ini! Keren maksimaaal~

Penasaran dengan kemampuan saya menginterpretasi cerita melalui ekspresi, gerak tubuh, musik, dan tata panggung, saya sengaja tidak membaca alur cerita yang tertera di leaflet untuk penonton. Dan rupanya dengan kemampuan berbahasa Sunda saya yang pas-pasan ini, kemampuan para pemain dalam berekspresi membuat saya mampu menangkap keseluruhan ceritanya. Meskipun ada sedikit misinterpretasi pada salah satu adegan, gegara saya memaknakannya secara terlalu romantis. hihi.

Keindahan gerak tubuh, kekuatan ekspresi wajah didukung tata rias wajah yang optimal, warna warni kostum, detail properti panggung dan pemain, tata cahaya, benar-benar memanjakan mata saya. Video mapping yang ditembakkan ke layar belakang panggung juga sangat membantu dalam membangun suasana. Ditambah komposisi musik yang tak kalah ekspresifnya untuk merepresentasikan sebuah situasi dan perasaan. Adapun sedikit keseragaman gerak yang ‘kurang rapi’ tertangkap mata saya, tapi saya tidak terganggu olehnya.

Semuanya menjalankan peran dengan penuh kesungguhan tanpa terkecuali. Segenap jiwa dan raga. Saya bisa merasakannya. Tak ada peran kecil ataupun besar, penting ataupun tidak penting. Yang membedakan hanyalah kostum yang mencolok atau tidak mencolok, serta tempat berdiri di tengah atau di pinggir; yang membuat penonton secara otomatis lebih terpusat perhatiannya pada pengondisian tersebut. Yang jelas semua elemen saling mendukung.

Semua paduan ini membuat kesan kuat pada saya: bahwa semua ini ada ilmunya. Semua yang ada di atas panggung ditampilkan tak hanya sebagai wujud ekspresi, melainkan juga implementasi dari berbagai ilmu yang mendukungnya. Tak heran urusan tari ‘saja’ menjadi jurusan kuliah tersendiri. Karena mulai dari konsep tarian, pengembangan gerakan, hingga eksekusinya sesungguhnya merupakan proses yang kompleks! Mereka ini sungguh calon profesional yang potensial di mata saya. Kalian memang luar biasaaaa~ (ala ala Ariel Noah).

Karena terlarut dalam alur cerita, pertunjukkan berdurasi sekitar 1,5 jam ini pun terasa berlangsung begitu cepat. Rasanya kalau ditambah sekitar 30 menit lagi, saya baru merasa ‘kenyang’. Hehe. Ketika pagelarannya ditutup oleh MC, saya gemas ingin berfoto dan bertanya-tanya pada kru atau pemain. Berhubung datang sendirian, saya agak malu-malu mendatangi para pemain. Hingga akhirnya saya mendapat kesempatan berfoto dan sedikit berbincang dengan pelakon Citra Singa. Sayang sekali para pemeran utama tak muncul di penutupan, karena konon kelelahan, dan sepertinya perlu segera beristirahat dan bersiap untuk pagelaran terakhir malam hari. Urusan stamina fisik ini memang juara juga. Dulu saya manggung angklung 2 kali sehari dengan masing-masing durasi 90 menit saja rasanya tepar. Apalagi ini total 4 kali selama 2 hari berturut-turut (!). belum lagi memang menari itu butuh energi jauh lebih besar. Saya 1 tarian durasi 4-5 menit aja udah hah-heh-hoh. Hahaha…

Penasaran, saya bertanya kepada kru dan pemeran Citra Singa tersebut mengenai waktu latihan dan koreografi. Dan rupanya waktu efektif mereka berlatih hanya 1 bulan (!!!) dari total persiapan 3 bulan. Koreografi diciptakan sendiri oleh para mahasiswa dengan bimbingan beberapa dosen. Lagi-lagi membuat saya terkagum.

Selamat untuk seluruh penampil, kru manajemen, dan dosen pembimbing.  Kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis. Membuat saya semakin bangga menjadi orang Indonesia dengan kekayaan budayanya. Melihat generasi muda melestarikan budaya membuat hati saya tergetar. Karena untuk menjadi bangsa yang berbudaya, estetika sejatinya mendahului etika.

Rindu menari. Mudah-mudahan bisa latihan lagi, dan ada kesempatan  menyaksikan pertunjukan lainnya :-). Saya sangat menantikan karya-karya berikutnya.

PS : Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan informasi, nama, atau istilah pada tulisan ini 😉

Salam Budaya!

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: