SI PENGINGAT KECIL

Kebersamaanku dengan si duri ikan kecil yang bertengger selama sekitar 5 jam di kerongkonganku ini rupanya menghadirkan banyak kisah.

Tak seperti biasanya, kemarin aku makan dengan lauk ikan ketika sarapan. Biasanya aku ‘malas’ makan ikan di pagi hari, menyadari bahwa aku kurang telaten memisahkan durinya di pagi yang tergesa atau belom ON betul. Jeng jeng…bener aja kejadian, si duri ikan nyangkut di kerongkonganku. Awalnya biasa aja, karena ini bukan pertama kalinya terjadi padaku. Banyak banyak minum. Lega dikit, berharap si duri ikan ikut hanyut bersama air minum. Biar lupa rasa tidak nyamannya, gogoleran di sofa hingga terlelap selama sekitar setengah jam. Ketika terbangun, ternyata si duri ikan masih menggelitik. Banyak minum lagi, dan menelan nasi. Masih nyangkut juga. Coba dibatuk-batukkan, sampe akhirnya muntah… Alhamdulillah sepertinya keluar. Eh ternyataaaaaa posisi nyangkutnya makin parah 😩. Sakit menelan, telinga terasa gatal, air mata keluar terus. Ah, ini mah udah ga beres. Saluran yang terhubung mengalami gangguan.

Menyadari bahwa kondisinya tak biasa, kakakku tentunya jadi pihak pertama tempat konsul. Si bu dokter dengan 3 bocah aktif yang sedang berada nun jauh di mato. Ternyata kondisi dia sedang tidak memungkinkan untuk cepat merespon dan mendampingiku secara ‘psikologis’ yang mulai cemas bin panik ini. Opsi ke dua, akhirnya aku bertanya di grup WA alumni SMA; grup palugada-ensiklopedi berjalan-kumpulan 248 profesional di bidangnya masing2-responsif dan helpful. Perbincangan seru tentang dunia perbankan aku interupsi dengan ‘teriakan minta tolong’ atas kondisi (yang kuanggap) darurat.

image

Grup palugada. Apa lu mau gua ada.

Seperti biasa, grup WA ini merespon dengan cepat. Dua temanku yang dokter segera merespon dan memberi saran praktis penanganan dan tindaklanjutnya. Bahkan salah satunya, temanku dr. Ratih terus mendampingiku dari jarak jauh melalui WA (hatur nuhun pisan, bu dok!). Hasil konsulnya, aku perlu ke dokter THT atau IGD untuk penanganan cepat. Awalnya aku akan berangkat selepas sholat Jumat, agar ada yang bisa mengantar. Namun setelah aku muntah-muntah lagi dan badan menghangat, aku memutuskan untuk segera pergi sendiri. Detak jantung dan ritme napas mulai tidak beraturan. Hmmm…aku kenali ini gejala panic attack, yang sebenernya solusinya adalah ada yang menemani biar aku tenang dan merasa aman hahahaha *tawa menghibur diri*. Badan menghangat mungkin hanya sugesti atau mulai ada gejala peradangan, pikirku.

Kuputuskan pergi ke RS Boromeous, sekalian searah dengan agendaku yang lain. Malas memesan transport apapun yang butuh bicara di telpon, aku putuskan naik angkot (dengan resiko lama heu). Hujan pula, suasana hati makin mellow. Bonus meler karena dingin 😂. Sesekali angkot berhenti untuk menaik-turunkan penumpang atau ngetem. Nunggu semenit berasa setahun. Refleksku meremas-remas tangan pertanda risau, memijat mijat kepala yang tegang. Produksi ludah meningkat, tapi ditelan sakit, meludah di angkot ga pantes. Kalo ngomong, rasanya si duri makin menari-nari di kerongkongan. Untuk asertif bilang ke supir “Pak tolong cepetan dikit, saya mau ke RS” saja aku malas. Mulai dibayangi pikiran resiko tertinggi kalo situasinya tidak segera teratasi. Ya udah, fokus atur pernapasan dan dzikir banyak banyak aja… Kuhayati betul setiap prosesku, dan mulai merangkai kata di otak untuk kelak dituliskan…hahaha.

Tibalah di RS, segera tanya poli THT di mana, tiba di sana celingak celinguk. Dalam kondisi tidak nyaman fisik dan mental begini, kadang aku jadi orang yang resek; ga sabaran, ga komunikatif, dan lemot/linglung. Dibantu satpam, langsung diminta ngambil nomor antrian. Ketika tanya ke petugas, ternyata dokter THT yang tugas pagi udah ga ada, baru ada lagi sore. Ya sudah, pilihan terakhir ke IGD. Setelah melalui rangkaian singkat administratif, aku dibawa ke ruangan tindakan.

Lagi-lagi, semenit berasa setahun. Dokter masih hilir mudik mengurus pasien lain yang tentunya (terlihat) lebih darurat kondisinya daripada aku. Sekitar 10 menit menunggu, kudatangi salah satu perawat dan bertanya. Untuk menenangkanku, ia pun sedikit bertanya mengenai kondisiku dan memasangkan gelang pasien padaku (wowww…ini pertama kalinya aku jadi pasien beneran di RS!).

image

Gelang pasien perdanaku seumur hidup (!)

Ditinggal lagi sekitar 5 menit. Mendadak situasi IGD agak ricuh. Bukan karena kondisiku tentunya. Perawat mendapat telpon dari bagian lain. Katanya lift tidak boleh digunakan karena sedang ada (simulasi) kebakaran. Perawat berdiskusi sengit, situasi jadi tambah dramatis karena ada dokter yang mengomel memprotes prosedur, karena ada pasien yang perlu segera diangkut. Hadeuuuw…situasi psikologis yang sungguh ga asyik (itulah alasan agak keder ke IGD). Ya udah lah sabar aja. Dzikir. NgePath…bentuk sosialisasi non-resiprok pengalih kecemasan.. Plus foto-foto untuk kebutuhan dokumentasi (meni masih kepikiran! Haha)

Selang sekitar 5 menit, dokter pun datang. Bertanya sedikit, dan menjelaskan prosedur tindakan. Butuh waktu beberapa menit untuk aku merilekskan diri, dan berpasrah kerongkonganku dimasuki besi panjang beserta pinset. “Nah, keliatan tuh durinya! Agak dalam dan besar. Sabar ya, tarik napas panjang, baru saya ambil”, ujar sang dokter. Bismillah…dan setttt! Beberapa detik kemudian si duri sepanjang 2,5 cm itu sudah berada di hadapanku. Dijepit pinset raksasa di tangan sang dokter. Alhamdulillaaaah…

image

Si duri kecil yang bersamaku selama 4 jam

Refleks, air mataku keluar deras. Kali ini menangis. Menahan sedikit rasa sakit karena luka di kerongkongan, tapi utamanya adalah tumpahan rasa lega (melankolis mode ON). Lega situasinya terlalui. Dokter memberi tahu bahwa aku perlu minum antibiotik karena ada luka di dalam. Aku manggut2 tanda setuju, mengacungkan jempol sambil tersenyum lega. Dokterpun segera beralih ke pasien lain.

Setelah mengurus administrasi dan mengambil obat, aku segera menuju tukang bubur di sebrang Salman. Bubur yang sudah sejak tadi kuidamkan. Memesan, duduk, mengatur napas. Banyak banyak istighfar. Kupindai jiwa dan ragaku. Alhamdulillah, kerongkongan nyaman, perih sedikit saja. Lemas, karena cadangan energiku keluar ketika muntah tadi. Muncul rasa sakit kepala, yang kukenali sebagai rasa sakit yang biasa muncul setelah mengalami ketegangan secara intens. Lama-lama juga akan mereda. Pesanan datang, kunikmati bubur yang meluncur dengan nyaman di kerongkonganku. Ah nikmatnya.

Si duri kecil, yang dikirim Allah untuk jadi pengingatku. Barangkali kemarin2 aku kurang bersyukur, kurang sabar, dan kurang sedekah. Semoga aku menjadi lebih baik. Mungkin untuk beberapa lama aku tidak makan ikan dulu, memulihkan kondisi psikis–untuk menetralkan asosiasi negatif tentang duri ikan :mrgreen:.

Advertisements

About listiarahmandaru

Penyuka jalan kaki. Pecinta aneka jajanan Bandung. Dalam keseharian bergaul dengan topik psikologi dan pendidikan. Antusias terhadap topik terkait budaya khususnya angklung, mainan edukatif anak, lingkungan hidup khususnya berkebun. Penggemar warna hijau dan batik.
This entry was posted in keseharian and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s