MENEMUKAN BELAHAN JIWA

Bulan ini memasuki bulan ke-3 pernikahan kami. Bulan-bulan yang seru. Bulan yang penuh penyesuaian diri. Bulan yang menjawab berbagai keresahan yang dahulu kala menghinggapi. Bulan yang penuh rasa syukur, menikmati masa-masa awal pertemuanku dengan sang belahan jiwa. Sang lelaki yang dipertemukan Allah untukku, agar kami bisa menyempurnakan ibadah.

Di kesempatan ini aku ingin bercerita tentang pengalaman spiritual pertautan hati kami menjelang pernikahan. Pengalaman spiritual yang tentunya sangat unik dan istimewa bagi kami, tentu saja, karena tidak ada proses spiritual yang sama persis antara satu orang dengan orang lainnya. Maka pengalaman spiritual setiap insan menjadi unik.

Aku dan suamiku berproses menuju pernikahan dalam waktu yang -menurut kebanyakan orang sih- cepat. Mulai dari pertemuan kembali hingga pernikahan jarak waktunya 7 bulan. Interaksi di media sosial Mei 2016, bertemu fisik Juni, mengajukan keseriusan Juli 2016, menikah Desember 2016. Kilat yah? Ngga sih untuk ukuran kami mah, segitu teh ideal. Hehehe…

 

Awal Perjumpaan

Lelaki yang kini menjadi suamiku ini, sebenarnya sudah kukenal sejak sekitar 4 tahun yang lalu, sekitar tahun 2012. Kami saling mengenal dalam salah satu kegiatan komunitas yang kami ikuti. Sebut saja BdgBerkebun. Hehe. Kala itu perkenalan kami tidaklah istimewa. Saat itu ia penggiat ‘junior’ yang sering bolos ke kebun karena kesibukannya di tempat lain. Di mataku dulu, lelaki ini juga tidak terlalu istimewa. Dia memang keren, tapi rasanya saat itu sih masih banyak lelaki di sekitarku yang lebih keren. Hahaha *peace*. Yang aku ingat betul, dia ini tipe yang suka menclok komunitas sana-sini, mencuri ilmu dan energi dari mana-mana. Beberapa sisinya mengingatkan pada diriku sendiri. Bahkan bisa dibilang, aku melihatnya sebagai ‘Listi versi cowok’. Aku suka kerut kening dan malu sendiri kalau mengamati dia, berasa sedang menghadap cermin “ya ampun…ni anak kaya gue versi cowok. Gue gitu-gitu amat ya ternyata…”. Hihihi. Dia itu lelaki yang sangat talk active, pecicilan, banci tampil, beberapa gerakannya seperti melompat. Seperti sedang menceritakan diri sendiri kan?! Hihihi. Tipe cowok pecicilan seperti itu sebenarnya bukan ‘selera’ku. Aku biasanya lebih mudah terpikat pada sosok-sosok lelaki yang kalem dan cool gimanaaa gitu…

Ketika pertemuan terakhir penutup kegiatan BdgBerkebun, dia meminta nomor ponsel semua penggiat, termasuk nomorku. Saat itu dia berkata padaku “Kalau suatu saat teteh jadi pembicara dan butuh moderator, saya mau ya jadi moderatornya! Saya serius nih. Just call me!”. Hahaha…(jangan-jangan itu modus dia aja *geer*). Kujawab dengan setengah bercanda tapi terbersit keseriusan juga “Bener ya? Kamu bisa jadi MC nikahan ga? Jadi MC nikahan saya aja ya…hehe”. “Siap teh!” jawabnya lantang.

Bagaimana dengan pandangan dia kepadaku? Belakangan sih dia mengaku kalau sejak dulu, aku merupakan sosok yang meninggalkan kesan yang kuat padanya, meskipun tidak sampai tahap ‘menaruh hati’. Barangkali itu yang disebut intuisi kali, ya….hihi.

Sekian lama tidak berjumpa karena dia tidak aktif di komunitas, aku mendapat kabar bahwa dia menjadi ketua Himpunan, lalu ketua BEM di kampusnya. Kabar yang tidak mengagetkan bagiku, karena potensinya memang sudah terpancar. Kabar terakhir yang kudapat, dia sempat dirawat di RS karena stroke ringan (hah?!). Konon gegara terlalu lelah berkegiatan dan kebanyakan makan daging (ckckck), karena saat itu dia mengelola sebuah kedai steak di dekat kampusnya. Kedai yang didirikannya sebagai buah dari kemenangannya mengikuti lomba proposal kewirausahaan (ternyata dia memang keren..hehe). Beberapa kali ingin berkunjung mencicip steak di kedainya, tapi gagal terus. Hingga akhirnya kedainya keburu tutup… yah, sayang sekali. Selepas itu, akupun tak mendengar kabar tentangnya. Seiring waktu, akupun lupa bahwa ada sesosok manusia ini di muka bumi…hehehe.

 

Perjumpaan Kembali

21 Mei 2016. Tiba-tiba akun @tanyaasepramdanaja –nama akun yang belakangan aku minta ganti karena menurutku terlalu narsis haha—memberi komentar pada salah satu postinganku tentang suatu forum pendidikan. Ia tertarik pada kegiatan tersebut, sehingga meminta nomer ponselku kembali, meminta agar diajak jika ada kegiatan sejenis.  Titik tersebutlah yang mengawali interaksi kami yang berujung pada ajakan menikah.

Sejak saat itu kami sering berkirim pesan melalui WhatsApp, berdiskusi tentang banyak hal, namun sebagian besar bertema pendidikan, tema sentral yang menjadi minat utama kehidupan sehari-hari kami. Kamipun bertemu kembali untuk pertama kalinya setelah 4 tahun putus kontak. Dan di pertemuan itu, aku merasakan bahwa dia sudah berubah. Bukan lagi Asep yang dulu pertama aku kenal—in a good way. Lebih matang. Terasa dari pancarannya, bahwa selama 4 tahun terakhir ia telah mengalami suatu pengalaman spiritual yang luar biasa, dan mendewasakan dirinya. Ia tampak lebih kalem dan bijak, meskipun tetap tentu saja ada cengos-cengos khasnya.

Dalam beberapa kesempatan, kami bertemu untuk saling meminjam/mengembalikan buku, mengajak kerja sama suatu ‘proyek’, atau menjelajah tempat baru. Tak ada kecurigaan dariku mengenai maksud dan tujuan dirinya. Bukannya aku ‘terlalu polos’, karena sebenarnya aku punya banyak teman juga yang senang ngajak jalan bareng dengan tujuan diskusi atau mengisi energi. Aku dibekali cukup keterampilan pengamatan untuk menilai mana relasi yang pertemanan biasa, mana yang mengarah pada intimate relationship. Ditambah lagi, dia yang berusia lebih muda dariku. Teman-teman seusianya juga ada beberapa yang senang ngobrol denganku untuk sekadar curhat atau meminta masukan. Jadi rasanya tak ada alasan cukup kuat bagiku untuk kegeeran atas sikapnya. Atau bisa jadi, ini semua proses yang berada di luar tataran logika dan olah rasaku. Sang Maha Pembolak-balik Hati melindungiku dari perasaan bertanya-tanya, geer, atau excitement berlebihan yang dapat menumpulkan kejernihan hati. Wallahu’alam bishawab.

Kondisi berubah ketika dalam suatu kurun waktu, intensitasnya menghubungiku bertambah *ehem*. Dia juga mulai suka bertanya banyak hal, termasuk mengenai harapanku terhadap pernikahan dan keluarga. Semua ditanyakan dalam bentuk dialog casual, cara bertanya ala menggali informasi, bukan ala ala gombal getek. Sopan, disertai permintaan izin, dan aku suka cara itu. Aku mulai curiga arah-arahnya…boong banget tipe lelaki santun macam dia ga ada maksud apa-apa tanya begituan. Dalam suatu kesempatan percakapan via WhatsApp, aku bertanya tujuannya bertanya hal-hal tersebut. Secara sederhana dia menjawab “Soalnya saya lagi cari calon untuk menikah sekitar awal tahun depan”. Dengan serius tapi santai aku jawab “Oooh jadi ceritanya sedang menggali informasi dan memprospek aku nih? Haha”, tak lain tujuannya untuk mengonfirmasi dan menghindari diri dari kegeeran. Kembali dengan sederhana dia menjawab “Iya semacam itu”. Untuk menjaga hati, aku jawab “Ya udah, ini mah judulnya sebagai informasi aku aja kan? Jadi aku juga ga usah merespon apapun?”. “Iya ga usah. Ga usah dipikirin juga. Arahnya kan belum jelas…”. Cara yang elegan dalam memberi sinyal, menurutku. Hehehe… Setelah itu komunikasi berlangsung seperti biasa. Boong banget kalo aku ga kepikiran gegara informasi seperti ini. Tapi alhamdulillah, bawaannya tenang, ga galau gitu. Saat itu aku mulai mengintensifkan doa dan pertanyaanku pada Allah.

”Ya Allah, jagalah dan jernihkanlah hati hamba. Pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba yang Engkau ridhoi, dan mendekatkan hamba pada-Mu”

Demikian doa yang terus kuulang-ulang dalam setiap sholatku.

Suatu hari, kami bertemu—untuk keperluan lupa apa. Karena sudah waktu maghrib, maka kami memutuskan untuk sholat di mushola di bilangan Dipati Ukur. Musholanya cukup besar, dan banyak yang sholat berjamaah di sana. Karena yang mengajukan diri menjadi imam tak kunjung ada, akhirnya si lelaki yang bersamaku ini mengajukan diri menjadi imam. Sholatlah kami semua. Daaan…hatiku bergetar ketika diimami sholat maghrib olehnya. Lantunan merdu ayat suci yang dibacakannya membuatku merasa begitu dekat. Dekat dengan Allah. Selepas sholat, aku banyak-banyak istighfar, meyakinkan bahwa getaran tadi sifatnya vertikal, bukan horizontal. Meyakinkan bahwa getaranku tadi adalah antara aku dan Allah, bukan antara aku dan dirinya yang bersuara merdu melantukan ayat suci.

Selang beberapa waktu, tepatnya tanggal 30 Juli malam, setelah kami ngobrol ngaler ngidul melalui WhatsApp, dia meminta izin untuk bertanya suatu hal. Jujur, udah feeling dan ketebak saat itu topiknya. Simply dia bertanya

“Kamu sedang berproses atau ta’aruf dengan seseorang ga?”

“Ngga”

“Kalo gitu aku mau ngajak kamu taaruf. Kita akhir-akhir ini udah cukup intens kan. Kalo kamu oke, saya akan langsung ke rumah ngadep bapak. Prosesnya ga akan lama kok…”

Dan seterusnyaaa….. (off the record. Hehe).

Caranya mengajukan diri, lagi-lagi menurutku elegan (meskipun belakangan dia merasa itu agak nekad. Haha). Menurutku, hal ini menggambarkan kedewasaannya sebagai lelaki yang berani berkomitmen, mengutarakan maksud mulianya pada sang perempuan tanpa ada cerita gantung-gantungan, PHP, baper dan sejenisnya. Hal yang biasanya menjadi tantangan/kendala bagi sebagian lelaki untuk berkomitmen, rupanya dapat diatasinya dengan baik. Luluhlah hati perempuan yang mendapat ajakan seperti ini, ajakan menuju kepastian…

Kami sepakat untuk mendalami proses perkenalan (ta’aruf) dengan cara bertukar CV. Kami sama-sama sudah mempunyai CV untuk diajukan untuk perkenalan semacam ini, tapi memerlukan beberapa pembaharuan sebelum saling bertukar. Sebenarnya melalui interaksi kami sebelumnya pun, tanpa CV tersebut aku sudah merasa cukup mengenal dia sebagai bahan pertimbangan dijadikan suami. Bagaimana tabiatnya (yang tampak maupun bersembunyi), latar belakang keluarganya, kesholehannya, singkat kata bibit-bebet-bobotnya. Tujuan pengajuan CV itu lebih kepada kebutuhan orangtua kami. Agar pengajuannya jelas, terdokumentasi, dan terstruktur. Hehe. Perasaanku pun terjaga netral, ga pake baper. Seiring semua proses tersebut, aku terus berdoa dan mengintenskan ibadah sunnah.

“ Ya Allah, jika benar dia jodohku, jawaban atas doaku, maka tunjukanlah jalan. Engkau Maha Pembolak-balik Hati. Arahkan hati kami jika ini adalah jawaban-Mu”.

Meskipun aku berpasrah pada jawaban Allah, aku sebagai makhluk berakal tetap menimbang-nimbang berdasarkan pengenalanku terhadapnya. Sebagian tampilan luar dirinya merupakan cermin dari diriku—alias Listi versi cowok, seperti kesan pertamaku tentang dirinya. Sebagian lagi berkebalikan dari diriku—ruang kami saling melengkapi.

Bagaimana dengan usianya yang lebih muda? Jujur, sebelumnya aku tak membayangkan mempunyai suami yang berusia lebih muda, meskipun aku tak pernah menyangkal bahwa itu mungkin terjadi. Yang aku yakini, ia sudah cukup matang secara mental untuk menikah. Sebagian besar harapanku tentang seorang pasangan ada pada dirinya, jadi itu sudah lebih dari cukup. Tentu akan ada gap tugas perkembangan antara aku dan dirinya (terutama yang signifikan terkait tahapan perkembangan karier), apalagi konon perempuan lebih cepat matang. Hal tersebut kami sadari betul, dan dalam beberapa titik, kami berkompromi. Melalui proses komunikasi tersebut, kami pun memetakan apa kekuatan dan titik-titik kewaspadaan/potensi konflik kami jika berpasangan. Itu emang udah jadi semacam refleks…maklum faktor didikan banget…hehe.

soulmate.jpgKamipun bertukar CV dan mengajukannya kepada orangtua masing-masing. Masing-masing dari kami punya cerita menarik dari proses pengajuan kepada orangtua ini. Intinya, dengan cepat mereka semua setuju. Alhamdulillah. Salah satu yang luar biasa, adalah respon ayahku setelah membaca CV nya “Sok atuh, kapan mau ke rumah? Alhamdulillah, orangnya bagus ya…”. That simple. Antara kaget, senang, dan lega. Karena ayahku ini pada dasarnya tipikal yang sangat kritis. Jika responnya seperti itu, sudah pasti ada faktor X di balik itu semua. Dan hal tersebut memantapkan hati dan keputusanku. Hal yang selalu menjadi keyakinan dan peganganku urusan jodoh sejak dulu: Kalau ada lelaki yang kehadirannya bisa membuatku tenang, ga galau, ga suka berlebihan, jadi ingat Allah terus, dialah orangnya. Dialah belahan jiwaku. Bismillah….

17 Agustus, ia datang ke rumahku untuk bertemu orangtuaku. Secara syariat, inilah tanggal khitbah nya kepadaku. Ia mengajukan maksudnya untuk meminangku, dan orangtuaku pun setuju. Tentunya ditambah wejangan-wejangan dasar tentang pernikahan. Sejak tanggal tersebut, kami mulai persiapan teknis pernikahan (akan aku tulis ceritanya di tulisan terpisah).

Sambil menunggu jadwal yang cocok orangtuanya datang berkenalan dengan keluargaku, aku berkunjung ke rumahnya untuk berkenalan dengan orangtuanya. Keluarga sahaja yang hangat dan jenaka. Oooh…keluarga mertua idamanku. Bisa dibilang, aku lebih dulu jatuh cinta pada keluarganya dibandingkan pada dirinya sendiri <3. hihi…

belahan jiwa 2Akhirnya tanggal 18 September orangtuanya datang ke rumahku. Dasar udah insting ‘bikin skenario’, aku membuat rancangan alur bersama ibu dan si calon suami (prikitiewww sekarang disebutnya calon suami ya) agar pertemuan berlangsung cair dan tercapai tujuannya. Haha. Hari itu disepakati tanggal 6 November untuk lamaran (tepatnya perkenalan keluarga besar sih), dan 11 Desember pernikahan. Persiapan 3 bulan menurut kami sangat ideal dan cukup, meskipun sebagian orang menganggapnya cepat. Sebenarnya sebelum itu kami sempat mengajukan agar akad nikah dilakukan terlebih dahulu sekitar bulan September atau Oktober, resepsi dilakukan belakangan. Tujuannya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kedua pihak orangtua tidak setuju karena merasa tetap butuh waktu lebih untuk persiapan. Selain itu orangtuaku yang pernah berpengalaman menjalani cara seperti itu ketika pernikahan kakakku, merasa bahwa rangkaian itu terlalu melelahkan karena memerlukan energi dan budget 2 kali lipat.

Sepanjang persiapan, kami semakin saling mengenali, memetakan diri, dan berkomitmen melakukan persiapan fisik, mental dan spiritual. Kami membiasakan senantiasa mengapresiasi secara spesifik tingkah laku yang positif (bawaan sama-sama pendidik, sih…hehe), dan memberi masukan atas perilaku yang negatif. Semuanya dikomunikasikan secara terbuka disertai perencanaan tahap yang kongkret. Aku yang notabene ‘sudah mempersiapkan ini sejak lama’ mengatur alur proses ini semua. Seperti biasa, naluri manager banget. Aku mengatur hal yang bersifat detail, dia pengambil keputusan tertinggi dengan pendekatan global. Semakin terbaca arah pembagian peran ketika berumah tangga kelak.

kepingan hati.jpgTibalah tanggal 11 Desember, terjadinya ‘perjanjian agung’ antara aku dan sang lelaki, Asep Ramdan yang kini menjadi suamiku. Lelaki yang awalnya aku prospek untuk menjadi MC pernikahanku, ternyata bersanding denganku di pelaminan…(isn’t it sounds a little bit silly?hihi).

Sejak saat itu, aku berada di bawah tanggung jawabnya. Prioritasku sebagai wanita yang telah menjadi istri adalah suamiku. Sejak saat itu, separuh jiwaku adalah dirinya. Berbagai kecemasan dan kegundahan ketika masih single banyak terobati dengan kehadirannya yang mengamankan dan menyamankan diriku. Diriku merasa utuh, lengkap. Tak heran jika penemuan jodoh diibaratkan juga sebagai menemukan kepingan hati. Sebuah perasaan bahagia yang sulit dilukiskan kata-kata. Yang jelas, kehadirannya membuatku senantiasa bersyukur.

Tak ada pertanyaan dalam hati, mengapa kami baru menikah tahun 2016 meskipun sudah bertemu 4 tahun sebelumnya. Di rentang waktu tersebut Allah sedang mempersiapkan diri kami masing-masing. Aku dipertemukan dengannya di waktu, situasi, dan kesiapan yang tepat. Allah selalu punya skenario terbaik. Subhaanallah

 

***

Itu kisahku, bagaimana dengan kisahmu? Bagi yang belum bertemu belahan jiwanya, tak perlu berkecil hati…teruslah berusaha, berdoa dan memantaskan diri. Semua orang mempunyai prosesnya masing-masing. Yakini bahwa Allah selalu mempersiapkan skenario terbaik bagi hamba-Nya. Mempertemukan hamba-Nya dengan takdir, di waktu, situasi, dan kesempatan yang tepat. Wallahu’alam bishawab….

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: