Refleksi Kaum Urban (part.1: transportasi publik)

Akhir-akhir ini mulai meragukan ketahanan (dan keteguhan) diri untuk tetap setia pada transportasi publik kelas menengah, khususnya angkot dan ojek online. Fisik mulai sering protes.

Kalo naik angkot, supir yang suka gas-rem seenak udel ga jarang bikin mual dan puyeng. Ngelewatin lubang di jalan dan polisi tidur semena-mena yang bikin sakit badan. Ditambah kalo ada penumpang lain/supir yang ngerokok. Eungab.

Naik ojek online sama dilematisnya. Murah dan cepet sih. Tapi ya Allah…polusi jalanannya bikin mabok. Belom lagi kalo jackpot driver nya not riding safely. Spaneng bin tegang sepanjang perjalanan.

Aku juga sangat senang jalan kaki. Tapi akhir-akhir ini berkurang, karena merasa hak ku menggunakan jalan sering dilanggar oleh pengguna kendaraan bermotor. Merasa terintimidasi.

Timbul pertanyaan:
1. sebenernya dari dulu begini tapi ga dirasa-rasa? (= skrg semakin ringkih dan suka mengeluh, ketahanan fisik menurun, daya toleransi menurun)
2. atau pelayanannnya tambah parah akhir-akhir ini?
3. keduanya benar

Taksi konvensional dan taksi online tentunya nyaman. Tapi ga nyaman di saku kalo rutin mah…hahaha.

Beberapa waktu terakhir, mulai mewacanakan bersama suami untuk punya mobil pribadi. Namun suatu hari ketika sedang boncengan di motor, dia berujar

“Liat deh, orang2 yang dalem mobil sekilas terlihat nyaman. Pake AC, terlindung polusi, ga kehujanan, duduk nyaman…

Tapi perhatiin dgn seksama, hampir semuanya nyetir sambil cemberut. Stress sama kemacetan dan hiruk pikuk lalu lintas.

Aku jadi mikir… Apakah kita kelak akan menjadi bagian dari……..kesemrawutan ini?”

Akupun bergeming. Bingung juga jawabnya. Karena diri sendiri juga tengah menghadapi dilema yang sama.

Sekian lama aku berteguh hati menggunakan transportasi publik untuk mobilisasi dengan berbagai alasan. Bahkan tak jarang mengkampanyekan ajakan agar menggunakan transportasi publik. Apa iya ini saatnya ‘menyerah’ dengan ‘idealisme’ ini? Semakin banyak orang tidak nyaman dengan transportasi publik, semakin banyak orang beli kendaraan pribadi dengan kredit ringan, semakin banyak kendaraan, semakin semrawut. Begitu seterusnya. Lingkaran setan.

Eh, masih ada opsi sih! Bis kota dan kereta lokal sudah nyaman lho. Meskipun dari segi jalur dan jarak ga selalu cocok.

Intinya untuk transportasi publik dalam kota masih mentok. Hanya bisa berharap agar transportasi publik di Bandung semakin dan semakin baik. Bisa dibilang itu harapan terbesarku terhadap kotaku ini.

Kalau udah ngga kuat banget, opsi punya mobil pribadi masih ada. Meskipun tetep komit agar penggunaannya dibatasi. Atau…banting stir saja. Tinggal di desa menjauhi kesemrawutan kota ini. Mungkin.

Ya udah gitu aja refleksi curhatnya. Nyampah banget ya… Dan emang lagi ingin menumpahkan saja tanpa solusi. Haha..

– ditulis di kereta api lokal selama perjalanan Bandung-Padalarang-

Advertisements

2 thoughts on “Refleksi Kaum Urban (part.1: transportasi publik)

Add yours

  1. Karek kepikiran hal yg sama listiiii. Bukan perkara punya mobilnya sih, tp ngajak orang mix aneka moda transportasi. Mix weh heula. Da kalo full angkot teh skarang kondisinya asa geus beda. Ato memang faktor yuswa 👻👻

    Like

    1. Hahaha. Ada temen euy ternyata. Iya bener, sekarang ge aku mix aneka moda sih. Tergantung sikon dan jarak/waktu yang mau ditempuh. Kalopun pada akhirnya punya mobil pribadi, kumaha carana kudu optimal pemanfaatannya setiap kali jalan. Heu… Bener2 deh dilematiiissss….

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: