Ini mah Bandung Banget!

Hari ini aku dan teman-teman memilih Taman Kota sebagai tempat kami untuk rapat. Taman Balai Kota menjadi pilihan kami, karena posisinya yang ‘adil’ secara jarak bagi kami yang berasal dari belahan Bandung yang berbeda-beda.

Setiap memasuki taman ini, selalu ada memori manis masa kecil berkelebat dalam pikiranku. Di masa sekolah dasar, aku memang cukup sering ke Taman Balai Kota. Di sana biasa dilaksanakan program olahraga sekolahku yang terletak di sebrangnya.

Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kali ini. Aku ingin bercerita tentang keseruan akan hidupnya taman ini.

Kami nongkrong di salah satu pojok taman, tepatnya di tepi kolam dangkal yang bersebrangan dengan Taman Vanda. Awalnya pojok itu kami nikmati dengan cara diskusi ditemani suara tonggeret, semilir angin, matahari hangat, dan rindangnya pohon. Entah bagaimana, suara kendaraan motor seolah terbaikan bagi pendengaran kami.

Kenikmatan kami teralih ketika 2 orang gadis kecil berseragam batik dan rok rimpel merah bermain di kolam dangkal tersebut (Oh mereka rupanya sealmamater SD denganku! Hihi). Mereka tampak berhati-hati memasuki kolam setinggi lutut mereka itu. Diangkatnya rok mereka agar tidak basah. Tentu saja itu percuma seiring keaktifan gerakan mereka di sana. Hihi. Sambil berdiskusi, perhatian kamipun teralih karena tingkah polah dan keceriaan mereka.

“Haha…percuma deh diangkat gitu roknya. Bentar lagi juga basah”
“Liat aja, ntar lagi juga mereka berenang…”
Komentar kami bergantian sambil cekikikan dan (tidak) berbisik.

image

Pandangan kamipun awas terhadap mereka, karena bagaimanapun seharusnya sih mereka diawasi ketika bermain, karena posisi kolam dangkalnya berhubungan langsung dengan selokan besar pinggir jalan. Bertanya-tanya, ke mana ya orangtua mereka? Heu. Tapi tentu saja kami tidak ingin mengganggu kesenangan mereka dengan ‘melarang’ mereka berbasah-basahan.

Tak lama kemudian kehebohan…eh…keceriaan bertambah. Tiga temannya yang lain mendekat sambil main lempar tangkap bola plastik. Awalnya sih mereka sepertinya tidak berniat ikut basah-basahan. Namun hal tersebut berbalik ketika bola yang mereka lempar masuk ke kolam, dan mau tak mau mereka harus mengambilnya sebelum bola jatuh ke selokan besar. Awalnya anak lelaki dalam grup itu protes “iiih..aku udah bilang jangan dilempar ke sana. Kan jadi masuk ke kolam…“. Meskipun demikian, pada akhirnya ia nyemplung juga. Dan sesuai dugaaan, dua teman perempuannya yang lain akhirnya ikut nyemplung dengan ceria. Ya sudah, semua kadung basah. Akhirnya ke lima bocah itu pun membasahi sekujur tubuh mereka yang masih berpakaian lengkap di kolam itu. Haha… Seru! Beberapa kali kami ingatkan agar mereka bermain di tengah kolam, tidak terlalu ke pinggir yang dekat selokan besar agar bolanya atau mereka sendiri tidak jatuh.

image

Tapi yah namanya juga anak-anak… Kalo ga dicobain ya belom belajar. Selanjutnya bisa ditebak. Bola melambung tinggi dan…byur! Masuklah bola itu ke selokan besar. Seketika mereka hening. Wajah mereka semua muram. Kami yang sedari tadi berdiskusi dengan latar suara mereka, seketika menyadarinya karena tiba-tiba suara ceria mereka hilang.

Bolanya mana?” *pertanyaan retoris*
Jatuh tante…”
(Dalam hati: tuh kaaan udah dibilangin…).

Mereka panik dan awalnya saling menyalahkan, namun tak lama merekapun tampak pasrah, termasuk pasrah dengan konsekuensi merelakan sebagian uang jajan mereka untuk menggantikan bola tersebut.

Salah satu temanku berinisiatif membantu dengan menyusuri ke mana bola itu hanyut. Ternyata masih dekat dan terjangkau. Diambilnya sebuah potongan ranting besar untuk menahan bola agar tidak hanyut lebih jauh–untung untung kalau bisa diambil langsung. Anak-anak itupun berbinar-binar dan bersorak..

Eh..dibantuin sama Om ngambil bolanya!”

Akupun tergelitik untuk mendorong mereka agar berlatih problem solving (cieeeee….).

Dek, tadi liat ga ada bapak-bapak yang bersihin kolam ini pake penyaring besar? Itu bisa dipake buat ngambil bolanya lho. Ayo cari bapaknya!”

“Ga liat…”

“Ngg…ya udah kalo gitu sekarang cari sapu besar atau ranting besar 1 lagi biar bolanya bisa diangkat ya!”

Seketika mereka berkumpul, bernegosiasi, dan berbagi tugas.

“Kita nyebar ya, biar cepet”
“Aku ga berani tapi kalo cari sendiri”
“Ya udah, kamu ditemenin dia ya carinya”

Melihatnya saja aku ikut merasa tertantang, tegang, sekaligus geli! Haha. Ini misi penting bagi mereka: mencari ranting pohon untuk menyelamatkan bola. Seru kan?

Sesaat sebelum mereka berpencar, aku menitipi pesan “Carinya ga usah lama-lama ya, kalo 10 menit belum dapet, balik lagi ke sini aja“. Baru inget kalo taman itu sangat besar untuk manusia seukuran mereka, dan bahaya juga kalo berkeliaran sendiri di antara banyak orang ini. Belakangan kami tahu kalo ternyata mereka masih kelas 1&2 SD, awalnya kami kira kelas 3 atau 4 karena ukuran tubuhnya yang cukup bongsor untuk ukuran mereka.

Akupun mengawasi persebaran mereka dari kejauhan (ya, diskusinya jadi tertunda beberapa lama gegara ini…hehe). Bisi nanaon. Tak lama berselang, 2 dari mereka berlari sambil bersorak

“Ini ada yang mau bantuin!”

Ternyata mereka datang bersama seorang petugas kebersihan yang membawa sapu besar yang bisa digunakan untuk mengambil bola tersebut. Cerdas! Belakangan kami tahu, bahwa awalnya mereka meminta tolong pada satpam, dan satpam nya lah yang meminta bantuan petugas kebersihan.

image

Dengan sigap petugas tersebut berusaha menjangkau bola yang semakin menjauh. Anak-anak itu menunggui di pinggir dengan wajah cemas sekaligus penasaran. Tak berhasil mendapatkannya, petugas pun dengan heroiknya nyemplung ke selokan dan mengambilnya. Aku sempat mengambil gambar tindakan heroik ini.

Yeeeeey!” anak-anak bersorak riang penuh kelegaan. Merekapun berterima kasih kepada petugas tersebut dan juga kami.

Mereka pun bermain kembali, kali ini mereka melempar bola dengan lebih hati-hati.

Namun ternyata ceritanya belum berakhir sampai di situ….hahaha. Beberapa menit kemudian mereka hening lagi. Bolanya jatuh lagi…. Kali ini kami diamkan, penasaran dengan kemampuan problem solving mereka kali ini; setelah pengalaman tadi.

Tiba-tiba saja…. Seorang pahlawan dengan sigap sudah turun ke selokan dan mengambilkannya. Tanpa diminta. Pahlawan tersebut adalah kakak kelas mereka. Mereka pun serentak berterima kasih kepada pahlawan yang menyelamatkan hari mereka. Sang kakak kelas tersipu malu sambil menyiratkan ekspresi kebanggaan. Prikitieeeew…

Mereka pun kembali bermain di kolam. Kali ini tanpa bola. Bukan kapok, tapi mereka belajar bahwa bola yang ringan itu akan mudah terbawa angin dan riak air sehingga bisa jatuh ke selokan yang membahayakan. Mereka belajar, kalau mau main bola di taman ini lebih baik jangan di kolam. Rasanya malu juga kalau sampai melakukan kesalahan dan ‘merepotkan’ orang lain sampai 3 kali. Dan yang terpenting, mereka belajar tentang kerja sama, problem solving, dan berinteraksi dengan orang baru. 

image

Aku juga belajar dari pengalaman ini. Bahwaaa… Taman Kota ini menyenangkaaaan! Ruang terbuka seperti ini membuka ruang interaksi dan pembelajaran yang menakjubkan. Coba hitung, gegara kejadian sepak bola tadi ada berapa orang yang terlibat dan melakukan kebaikan. Ah, aku cinta taman ini! ❤

Ini mah Bandung banget, ya kan?

image

Advertisements

3 thoughts on “Ini mah Bandung Banget!

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: