Simbar Kancana Males Pati: Pagelaran yang Memikat Hati

Kehormatan ditempuh dengan menghalalkan berbagai cara. Peluh, air mata, dan darah rela menetes demi mewujudkan tujuan dan mimpi berada di puncak tertinggi. Luka dan perih menjelma menjadi kobaran dendam akibat pengkhianatan di tanah Talaga. Darah dibalas darah, nyawa dibalas nyawa. Banda moal malire asihna pati nu ting garupay menta sebak kanu bogana. Asih mopoek ati nu sulaya kana jangji, patrem nu jadi saksi cinta nu teu suci.

Setelah sekian lama mencari kesempatan yang tepat untuk menonton pagelaran drama tari, akhirnya Rabu 25 Mei kemarin saya berkesempatan menonton pagelaran drama tari bertajuk “Simbar Kancana Males Pati”. Drama tari yang digelar di Teater Tertutup Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House) ini merupakan hasil karya dari mahasiswa Pendidikan Seni Tari UPI angkatan 2013.  Pagelaran ini sekaligus merupakan ujian akhir dari beberapa mata kuliah yang mereka ikuti.

Beruntung sekali saya mendapatkan informasi mengenai pagelaran ini. Bisa dibilang secara kebetulan dan terhitung mendadak. Saya mendapat informasi dari guru tari saya, Bude Ratna Yulianti di hari pertama penyelenggaraan pagelaran tersebut melalui postingan yang melintas di Instagram. Tak banyak banyak timbang-timbang, saya pun segera memesan tiket pagelaran hari ke dua di siang hari. Bahkan saya tak sempat mengajak siapa-siapa, menyadari pilihan waktu saya merupakan jam kerja sebagian besar teman saya yang senang nonton pagelaran sejenis ini. Ini pertama kalinya saya menonton pagelaran sendirian, sekaligus menonton drama tari Sunda. Terakhir kali menonton pertunjukkan sejenis adalah sendratari Ramayana di Prambanan ketika SD (!). Kemudian longser di Pagelaran LSS ITB ketika kuliah. Sejak lama saya benar-benar menantikan kesempatan macam ini, maka ketika kesempatan tiba, waktunya pas, langsunglah memutuskan untuk menonton.

Kesempatan kali ini membuat saya bersyukur. Pasalnya, saya benar-benar terpukau oleh sajian apik dari mahasiswa-mahasiswi ini. Ngecharge abis. Hingga saat ini bahkan saya merasa sangat excited dan terbayang beberapa adegannya. Hingga rasanya keinginan saya begitu membuncah untuk membuat tulisan ini sebagai bentuk apresiasi kepada semua pihak yang terlibat di dalamnya.

Sekian kali manggung, menjadi panitia, dan menjadi penonton di gedung pertunjukkan tersebut membuat saya hapal sudut yang paling tepat untuk mendapat pengalaman akustik dan visual terbaik—selain di kursi VVIP.  Sengaja saya hadir 20 menit sebelum gerbang dibuka, dengan semangat 45 mendapat barisan antre terdepan demi memperoleh kursi idaman. Hihi. Sayapun mendapat barisan antre ke dua terdepan, dan berhasil mendapat kursi di bagian tengah, ke empat terdepan di dekat panggung. Yeaaay! Sedikit catatan, sayang sekali gerbang terlambat dibuka 20 menit. Di satu sisi mengerti, karena pasti di dalam sana ada hal yang ternyata di luar kendali, di sisi lain merasa sebaiknya hal ini tidak terlalu ‘dimaklumi’ agar tidak menjadi pembiasaan. Hehe. Agak ‘gubrak’ ketika salah satu calon penonton berseloroh “Telat dibuka ya? Ya udah deh, da udah biasa telat mah ya…pasti telat beginian mah”. Aduh jangan atuhhh…heuheu.

Setelah serangkaian pembuka oleh MC yang kostumnya cetar membahana badai, dan sambutan wakil dekan, dibukalah tirai penutup panggung. Ketika musik gamelan mulai dimainkan keras membahana, diiringi sorot aneka lampu benderang, para penari mulai menggerakan tubuhnya, sejak saat itu pandangan mata saya nyaris tidak beralih dari panggung. Sesekali badan saya maju mundur untuk melihat lebih jelas detail ekspresi atau kostum pemain (nasib minus mata nambah tapi belom ganti lensa XD), atau mencari frame yang tepat untuk mengambil gambar. Untuk mengambil gambar saja, saya hanya mengalihkan pandangan sebentar untuk mengatur frame, lalu segera memandang ke arah panggung kembali *lebay abis*, walhasil banyak fokus foto yang tidak optimal. Hahaha. Payaaahhh… Saya tak ingin melewatkan sedikitpun sajian visual dan akustik yang sangat memikat ini! Keren maksimaaal~

Penasaran dengan kemampuan saya menginterpretasi cerita melalui ekspresi, gerak tubuh, musik, dan tata panggung, saya sengaja tidak membaca alur cerita yang tertera di leaflet untuk penonton. Dan rupanya dengan kemampuan berbahasa Sunda saya yang pas-pasan ini, kemampuan para pemain dalam berekspresi membuat saya mampu menangkap keseluruhan ceritanya. Meskipun ada sedikit misinterpretasi pada salah satu adegan, gegara saya memaknakannya secara terlalu romantis. hihi.

Keindahan gerak tubuh, kekuatan ekspresi wajah didukung tata rias wajah yang optimal, warna warni kostum, detail properti panggung dan pemain, tata cahaya, benar-benar memanjakan mata saya. Video mapping yang ditembakkan ke layar belakang panggung juga sangat membantu dalam membangun suasana. Ditambah komposisi musik yang tak kalah ekspresifnya untuk merepresentasikan sebuah situasi dan perasaan. Adapun sedikit keseragaman gerak yang ‘kurang rapi’ tertangkap mata saya, tapi saya tidak terganggu olehnya.

Semuanya menjalankan peran dengan penuh kesungguhan tanpa terkecuali. Segenap jiwa dan raga. Saya bisa merasakannya. Tak ada peran kecil ataupun besar, penting ataupun tidak penting. Yang membedakan hanyalah kostum yang mencolok atau tidak mencolok, serta tempat berdiri di tengah atau di pinggir; yang membuat penonton secara otomatis lebih terpusat perhatiannya pada pengondisian tersebut. Yang jelas semua elemen saling mendukung.

Semua paduan ini membuat kesan kuat pada saya: bahwa semua ini ada ilmunya. Semua yang ada di atas panggung ditampilkan tak hanya sebagai wujud ekspresi, melainkan juga implementasi dari berbagai ilmu yang mendukungnya. Tak heran urusan tari ‘saja’ menjadi jurusan kuliah tersendiri. Karena mulai dari konsep tarian, pengembangan gerakan, hingga eksekusinya sesungguhnya merupakan proses yang kompleks! Mereka ini sungguh calon profesional yang potensial di mata saya. Kalian memang luar biasaaaa~ (ala ala Ariel Noah).

Karena terlarut dalam alur cerita, pertunjukkan berdurasi sekitar 1,5 jam ini pun terasa berlangsung begitu cepat. Rasanya kalau ditambah sekitar 30 menit lagi, saya baru merasa ‘kenyang’. Hehe. Ketika pagelarannya ditutup oleh MC, saya gemas ingin berfoto dan bertanya-tanya pada kru atau pemain. Berhubung datang sendirian, saya agak malu-malu mendatangi para pemain. Hingga akhirnya saya mendapat kesempatan berfoto dan sedikit berbincang dengan pelakon Citra Singa. Sayang sekali para pemeran utama tak muncul di penutupan, karena konon kelelahan, dan sepertinya perlu segera beristirahat dan bersiap untuk pagelaran terakhir malam hari. Urusan stamina fisik ini memang juara juga. Dulu saya manggung angklung 2 kali sehari dengan masing-masing durasi 90 menit saja rasanya tepar. Apalagi ini total 4 kali selama 2 hari berturut-turut (!). belum lagi memang menari itu butuh energi jauh lebih besar. Saya 1 tarian durasi 4-5 menit aja udah hah-heh-hoh. Hahaha…

Penasaran, saya bertanya kepada kru dan pemeran Citra Singa tersebut mengenai waktu latihan dan koreografi. Dan rupanya waktu efektif mereka berlatih hanya 1 bulan (!!!) dari total persiapan 3 bulan. Koreografi diciptakan sendiri oleh para mahasiswa dengan bimbingan beberapa dosen. Lagi-lagi membuat saya terkagum.

Selamat untuk seluruh penampil, kru manajemen, dan dosen pembimbing.  Kerja kerasnya membuahkan hasil yang manis. Membuat saya semakin bangga menjadi orang Indonesia dengan kekayaan budayanya. Melihat generasi muda melestarikan budaya membuat hati saya tergetar. Karena untuk menjadi bangsa yang berbudaya, estetika sejatinya mendahului etika.

Rindu menari. Mudah-mudahan bisa latihan lagi, dan ada kesempatan  menyaksikan pertunjukan lainnya :-). Saya sangat menantikan karya-karya berikutnya.

PS : Mohon maaf jika ada kesalahan penulisan informasi, nama, atau istilah pada tulisan ini 😉

Salam Budaya!

 

 

Posted in budaya, hobi | Tagged , , , , , | Leave a comment

Aku dan Angklung, Kisah Cinta Tak Berkesudahan

“Apa makna pin yang Anda pakai di dada Anda itu?”

Itulah pertanyaan pembuka dari salah satu dosen penguji sidang sarjanaku 7 tahun yang lalu. Kala itu aku mengenakan pin angklung mini pada dada kiriku. Pin ‘jimat’ yang selalu aku kenakan di setiap event istimewa, terutama yang berkaitan dengan angklung. Pertanyaan pembuka tersebut sungguh mengejutkan. Aku sampai bertanya ulang maksud pertanyaan dosen penguji tersebut. Dosen tersebut tersenyum teduh dan menjelaskan ulang maksud pertanyaan. Diawali basmallah dan tarikan nafas panjang, akupun menjawab pertanyaan tersebut dengan senyum lebar dan pandangan menerawang. Kuceritakan makna pin yang tersemat di blazerku, sebagai simbol alat musik yang membuat hatiku tertambat itu, sekaligus alat musik yang kuangkat sebagai topik penelitian skripsiku tersebut.

img_20160420_135419.jpg

(dokumentasi pribadi)

Awal persentuhanku dengan angklung dimulai ketika aku menginjak kelas 5 SD. Kala itu aku mengikuti kegiatan Pembinaan Anak-anak Salman (PAS), khususnya unit kegiatan Padvoca (Paduan Vocal Anak-anak). Kala itu Padvoca mengadakan semacam pertunjukan internal, di mana setiap kelompok diminta untuk menyajikan sebuah penampilan musik bebas yang unik. Kakak pembina kelompokku saat itu mengajukan agar kami menampilkan musik angklung. Sebagai anggota yang selalu bersuka cita dengan ajakan seru apapun, aku dan teman-temankupun mengiyakannya.

Proses latihan dan penampilan perdana musik angklungku saat itu cukup berkesan. Kalau tidak salah, kami hanya diberi waktu 2 pekan untuk mempersiapkan penampilan tersebut. Mau tidak mau, kami harus meluangkan waktu lebih untuk mempersiapkan penampilan ini. Kami bersepakat untuk menjalankan latihan 3-4 kali selama 2 pekan tersebut di sore hari. Kelompokku terdiri dari 6 orang anak kelas 4, 5, dan 6 SD. Artinya kami akan memainkan angklung dalam kelompok musik yang sangat kecil untuk ukuran tim angklung. Kakak pembina kelompokku yang cerdik memilihkan lagu populer anak melodi utamanya hanya terdiri dari 8 nada, mulai dari do (1) hingga do tinggi (i).

Tersebutlah lagu “Ambilkan Bulan, Bu” yang mencatatkan sejarah sebagai lagu pertama yang kupelajari dengan menggunakan angklung. Aku masih ingat betul melodinya hingga saat ini. Aku mendapat amanah memainkan angklung 1 (do), yang nadanya muncul hampir di setiap frasa lagu. Kala itu selain mengikuti kegiatan PAS, akupun mengikuti Les Bahasa Inggris sepekan tiga kali di sore hari, sehingga ada 1-2 kali kesempatan aku izin latihan angklung karena bentrok dengan Les Bahasa Inggris. Aku ingat betul bahwa setiap kali aku bolos latihan, teman-temanku akan protes karena latihan terhambat. Pasalnya, tidak ada yang memainkan nada 1. Saat itulah aku menyadari, bahwa angklung itu begitu unik. Satu saja anggota tim yang tidak hadir, maka lagu tidak dapat berjalan sempurna. Benar-benar membutuhkan kerjasama yang solid!

Singkat cerita, tibalah hari penampilan kami tersebut. Penampilan tersebut mendapatkan apresiasi yang sangat baik dari teman-teman kelompok lain, kakak pembina lain, serta orangtua. Ah, sayang sekali aku benar-benar lupa nama dan identitas kakak pembinaku itu. Ingin sekali mengucapkan terima kasih atas jasanya memperkenalkan angklung padaku di masa kecil. Hmm…jadi terpikir untuk mulai mencari informasi tentang beliau…(!)

***

Perkenalan selanjutnya dengan angklung adalah ketika aku secara tidak sengaja melihat penampilan angklung kakakku yang saat itu tergabung di Keluarga Paduan Angklung SMAN3 Bandung (KPA3). Niat awalnya hanya menjemput kakakku bersama bapak, rupanya penampilan masih berlangsung sehingga kami berkesempatan menyaksikannya. Kakakku sering sekali membanggakan KPA3, aku si bocah biasa-biasa saja mendengarnya, karena belum melihat ‘bukti kongkretnya’. Lagu yang ditampilkan saat itu adalah “Wulan Merindu”. Melihatnya, aku juga biasa-biasa saja. Aku hanya terkesan dengan penyanyinya yang dapat menyanyikan lagu Wulan Merindu dengan sangat mirip Cici Paramida. Belakangan, aku baru paham bahwa penampilan saat itu terkesan biasa saja karena masalah akustik. Saat itu kualifikasi dan pengaturan sound system nya tidak memadai sehingga kemegahan suara angklung yang dimainkan oleh jumlah tim yang besar itu kurang terdengar.

Setelah penampilan itu, lama aku tidak berinteraksi dengan angklung, baik sekadar melihat pertunjukannya apalagi memainkannya. Di masa SMP aku asyik dengan kegiatan baruku di Pramuka SMPN 2 Bandung. Interaksiku dengan angklung baru dimulai kembali ketika menginjak kelas 1 SMA. Saat itu aku memasuki SMAN3 Bandung, tempat KPA3 bernaung. Sejak lama kakakku sudah mempromosikan KPA3 agar aku mengikutinya, tapi aku belum tertarik. Ketika demo ekstrakurikuler masa orientasi siswapun, aku ‘cukup’ terpikat dengan permainan megah dan pilihan lagu andalan saat itu, Santorini. Namun hal itu belum cukup membuatku terdorong untuk mengikuti KPA3. Alasan dangkal; malas terlalu sibuk, dan gosipnya kalau mau tampil kostumnya mahal : )). Selain itu akupun masih aktif membantu mengelola latihan Pramuka SMP2. Saat itu akhirnya aku hanya memilih mengikuti 2 ekstrakurikuler lain yang relatif tidak terlalu sibuk. Yang satu hanya insidental, satu lagi pertemuan seminggu sekali.

Takdirku berubah ketika suatu hari aku menunggui salahsatu teman yang biasa pulang naik angkot bersamaku . Malas pulang naik angkot sendiri, aku malah menungguinya latihan KPA3 hingga sore. Sambil menunggu, aku mengamati proses latihannya dan mendengarkan lagu yang sedang dilatihkan. Hmm…menarik juga. Pelatihnya juga sepertinya asyik, atraktif, ekspresif (menariknya, selang beberapa tahun kemudian beliau menjadi partner melatihku!). Tampak seru latihannya. Ketika pulang, aku ditanyai orang rumah alasan pulang sore. Mendengar alasan konyolku hanya karena menunggu teman, kakakku meledekku “Haha ya ampun…ngapain nunggu doang, sekalian aja atuh ikutan. Daripada nungguin ngga jelas, lagian kamu juga belum banyak kegiatan kan?”. Kalimat tersebut cukup menyentilku, tapi aku merespon bahwa aku akan mempertimbangkannya. Beberapa hari kemudian, aku menunggui kembali temanku latihan, dan saat itu aku semakin tertarik dan ingin bergabung dengan KPA3. Tak lama berselang, setelah berdiskusi dengan keluarga, akupun mendaftar KPA3 dengan tujuan mengisi waktu, mendapat keseruan, teman, dan pengalaman baru. Klise.

Bergabunglah aku dengan Dream Team 3 (DT3) yang berlatih di hari Selasa dan Jumat, jadinya malah tidak satu tim dengan temanku tadi. Di hari pertama latihan langsung diberi 3 angklung: B, 3, 22. Distribusi angklung perdana yang sempat menjadi ‘identitas baruku’ karena seringnya aku salah bermain. Hari pertama berlatih bersama teh Safie, yang kala itu masih menjadi mahasiswa tingkat akhir FK Unpad. Tak henti-hentinya teh Safie memanggil “B…siapa yang main B? jangan lupa main di sini ya…”. Karena sebagai pemain baru, aku belum terampil membaca ketukan dan nada. Tak heranlah jika dalam waktu singkat aku dikenal sebagai si pemain B—yang salah terus mainnya. Hahaha…

Latihan demi latihan, penampilan demi penampilan, konser demi konser aku ikuti dengan sukacita. Ketidakhadiranku pada latihan bisa dihitung dengan jari di satu tangan saja. Selalu saja ada dorongan untuk mengikuti latihan angklung. Aku selalu menikmati menggetarkan si ‘bambu goyang’ ini. Aku pun aktif menjalani kepengurusan di KPA3, belajar berorganisasi dan mengenal diri. Di masa dewasa, aku baru sadar rupanya proses mengenal diri kala itu benar-benar milestone yang sangat bermakna dalam masa perkembangan diri dan karierku di masa dewasa.

Ketika aku sedang aktif-aktifnya berorganisasi di kelas 2 SMA, aku menjadi lebih mengenal diri. Aku baru banyak disadarkan tentang kekuatan dan kelemahanku, keunikanku, kecenderungan sikapku dalam menghadapi situasi tertentu, dan hal-hal yang aku suka dan tidak suka. Singkatnya, aku mengeksplorasi ‘minat dan bakat’ sebelum aku memilih jurusan kuliah nanti. Di kelas 2 SMA tersebut juga aku baru mengenal profesi yang dinamakan psikolog—profesi yang masih sangat asing bagiku karena sejak kecil tidak mempunyai referensi tentangnya.

Menyadari kesukaanku yang senang berbicara (dalam hal ini curhat dan dicurhati), berinteraksi dengan banyak orang, mengamati dan menganalisis fenomena sosial dan hal-hal yang bersifat abstrak, merasa lebih mudah memahami pelajaran Sosial dibandingkan Pengetahuan Alam, aku mulai menaruh minat terhadap ilmu psikologi. Singkat cerita, di kelas 3 SMA aku memantapkan hati untuk memilih jurusan Arsitektur dan Psikologi untuk ujian perguruan tinggi negeri. Keduanya jurusan yang sangat aku minati dan sudah cukup aku eksplorasi sebagai langkah awal sebelum masuk. Alhamdulillah, Allah memberiku jalan untuk bertualang menyelami ilmu Psikologi. Si ilmu yang super abstrak dan sempat berada pada posisi pseudosains itu. Si ilmu yang selalu lekat dengan manusia, yang akan selalu dibutuhkan selama masih ada manusia di muka bumi ini.

Selama aku berkecimpung di dunia psikologi, mulai dari masih mahasiswa hingga saat ini, angklung hampir selalu mengiringi ceritanya. Aku menjalani berbagai peran di sana. Ketika kuliah hingga tahun pertama kelulusanku, aku aktif melatih di KPA3. Bisa dibilang, ketika kuliah angklung menjadi kajian utama dan tempat kuliahku, kuliah sebagai ekstrakurikuler…saking banyaknya aku meluangkan waktu pada berbagai aktivitas yang berkenaan dengan angklung ini.

Semakin menyelami angklung, aku semakin jatuh cinta dan penasaran. Aku mendapat berbagai kesempatan istimewa ketika bermain dari satu panggung ke panggung lainnya. Bukan dalam artian ‘eksis’nya, melainkan pengalaman proses di balik itu semua, hingga hasil yang dipetik. Aku semakin bersemangat menjalaninya dengan dukungan dosen wali di kampus yang selalu berpesan setiap perwalian “Sana kalian berkegiatan yang banyak di luar. Belajar di luar, cari network. Itu modal kalian nanti. Ngga apa-apa kuliah sesekali bolos, asa jatah absen tetep terpenuhi *upps buka kartu*. Asal ujian kalian tetep bisa, IPK bagus, cepet lulus!”. Begitulah kira-kira ‘doktrin’ yang ditanamkan beliau pada kami. Seperti biasa, aku menurutinya dengan sukacita. Hehe.

Seiring regenerasi KPA3, peranku pun beralih menjadi orang belakang layar seperti kru belakang panggung ketika konser, mengelola situs, mewakili KPA3 untuk pertemuan dengan pihak luar, mendampingi kepengurusan siswa, dsb. Aku benar-benar menikmati setiap prosesnya dan belajar banyak hal lewat semuanya. Selain itu akupun sempat melatih di beberapa tim angklung di Bandung sebagai profesional. Alhamdulillah, semasa kuliah tidak lagi meminta uang jajan sama orangtua karena ini. Hihi…

Di tahun pertama kuliah profesi, minatku meluas terhadap bidang lingkungan hidup, sehingga waktuku untuk angklung banyak berkurang. Namun saat itu aku sempat menginisiasi sebuah kegiatan mendokumentasikan dan mengelola pengetahuan tentang angklung. Proses inisiasi tersebut membuatku kembali banyak belajar mengenai filosofi di balik angklung, proses pembuatannya, filosofi bambu sebagai bahan dasarnya, serta mengenal lebih dekat pencipta angklung diatonis Daeng Soetigna—yang ternyata juga sangat akrab dengan dunia kepramukaan, melalui salah satu muridnya yaitu Handiman Diratmasasmita. Seiring kepadatan aktivitas akademis dan excitement terhadap dunia lingkungan hidup yang baru aku selami, kegiatan ini sempat tertunda lama dan baru dimulai kembali tahun lalu. Selama beberapa tahun, aku hanya sesekali menyaksikan latihan, penampilan, ataupun konser angklung. Sesekali terlibat dalam kegiatan insidental yang membutuhkan peran spesifik dariku. Beberapa kali juga sempat bermain dan melatih untuk acara-acara yang sangat istimewa, seperti pernikahan sahabat atau permintaan seseorang yang sangat aku hormati. Meskipun terkesan berjarak karena tidak intensif, namun angklung tetap selalu di hatiku dan menjadi identitasku.

Sejak tahun lalu, aku memulai kembali kegiatanku bersama beberapa teman untuk membantu pak Handiman dalam mengelola dan mendokumentasikan pengetahuan mengenai angklung di bawah komunitas yang dinamai Bale Angklung Bandung. Aku menjadi kembali sangat lekat dengan angklung. Kembali semakin bergairah, dan masih saja mempunyai banyak mimpi tentang angklung. Dan rupanya rindu kembali dengan ruang latihan.

Ya, inilah aku dan angklung. Meskipun sempat berkelana, akhirnya aku kembali juga. Hatiku memang sudah tertambat.

 

 

Posted in angklung, budaya, hobi | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Waspadai Gejala Psikologis Ini!

Dalam perkembangan ilmu psikologi, setiap kurun waktunya mempunyai fokus berbeda sesuai fenomena yang terjadi pada zamannya. Pada era awal perkembangan psikologi, fokus penelitian dan pengembangan terapinya adalah perihal penyembuhan penyakit mental. Pada era selanjutnya, fokus beralih pada penelitian dan pengembangan mengenai intelegensi, seiring dengan perkembangan keilmuan dan teknologi pada berbagai bidang. Selanjutnya, pada era ini fokus beralih pada upaya agar manusia menuju pada kondisi well-being alias bahagia, setimbang, stabil. Hal ini merupakan respon atas fenomena saat ini di mana setiap individu semakin menyadari bahwa makna ‘kebahagiaan’ bagi setiap individu begitu berbeda, unik. Untuk itu topik mengenai mencari/menemukan/menciptakan kebahagiaan selalu menjadi topik yang menarik saat ini.

Padatnya aktivitas dan hiruk pikuk perkotaan, agaknya berdampak langsung pada kondisi psikologis individu yang hidup di kota. Kalau tidak pandai-pandai mengelola waktu dan energi, bisa-bisa akan tergulung pada kesibukan yang membola salju. Terlalu asyik (atau tidak asyik, hehe) bekerja bisa menyebabkan kita ‘kehilangan kesadaran’ sehingga kurang menyetimbangkannya dengan ragam kegiatan dalam rangka refreshing, atau sekadar rehat bersantai dan berdiam diri untuk memulihkan energi. Lebih lanjut, kondisi ini akan membawa individu pada kondisi psikis yang kurang bugar ketika beraktivitas, serta mempunyai ambang batas stress yang rendah. Walhasil, tingkat kebahagiaan menjadi menurun.

Salah satu gejala psikologis yang perlu diwaspadai dan teramati cukup banyak terjadi saat ini adalah gejala hipopiknikis (alias kurang piknik, hehe).  Ciri-ciri dari gejala ini di antaranya mudah merasa stress, uring-uringan, banyak protes tanpa solusi,  berkurangnya minat terhadap banyak hal, dan lain-lain. Alih-alih fokus terhadap pekerjaan, produktivitas malah menurun karena sulit berkonsentrasi. Gejala ini harus diwaspadai, karena jika berkelanjutan dapat menimbulkan kesehatan mental yang terus menurun seperti perasaan gagal terus menerus, frustrasi, hingga depresi. Kenali gejala ini! Jika Anda merasa sudah merasakan ciri-ciri tersebut, bisa jadi Anda mengalami gejala hipopiknikis ini. Namun sebelumnya, kenali terlebih dahulu tingkat dan jenis kebutuhan piknik Anda.

FB_IMG_1445186444988

ilustrasi: suduthijau.blogspot.com

Setiap orang mempunyai tingkat kebutuhan piknik yang berbeda-beda. Ada yang sedikit, sedang, dan banyak, tergantung aktivitas mental kesehariannya. Umumnya, tipe orang yang hobi (atau dituntut) banyak berpikir mempunyai kebutuhan piknik yang tinggi juga. Tipe kebutuhan piknik setiap orang juga berbeda-beda. Ada tipe yang merasa cukup terpenuhi dengan refresh setiap sore/malam/pagi dengan kegiatan sederhana di rumah atau luar rumah, ada tipe yang cukup dengan berjalan-jalan di kota setiap akhir pekan, ada yang butuh berjalan-jalan keluar kota bahkan luar negeri dalam jarak dan kurun waktu tertentu, ada juga yang sekadar butuh kebersamaan dengan orang-orang terdekat, bisa juga kombinasi dari beberapa tipe tersebut. Dengan tipe kebutuhan yang beragam ini, tentunya cara dan tempat memenuhinya juga sangat bervariasi tergantung selera masing-masing.

Saya sendiri tipe yang butuh banyak piknik, dengan ragam aktivitas dan tempat tinggi juga. Awalnya pun saya tidak terlalu menyadarinya, sehingga sempat beberapa lama pada kondisi hipopiknikis tadi. Haha. Setelah kebutuhan ini teridentifikasi, saya jadi semangat 45 mengagendakan piknik mulai dari yang berlokasi dekat sampai jauh, spontan sampai terencana, bergaya urban hingga kembali ke alam. Dan ternyata cara ini cukup efektif menjaga semangat dan ritme bekerja saya dalam keseharian. Implikasi langsung dari agenda piknik ini tentu salah satunya adalah pengelolaan finansial yang harus lebih rapi. Hehe. Beberapa pengeluaran tersier perlu lebih ditahan agar bisa menabung untuk piknik nanti

Piknik ala saya (1): Jalan kaki di kota sendiri dan menemukan objek menarik, kumpul bersama keluarga, dan nongkrong di ruang publik kota.

 

Piknik ala saya (2) : Jalan-jalan keluar kota, ke tempat-tempat istimewa

Jadi, bagaimana dengan kebutuhan piknik Anda? Apakah sudah cukup terpenuhi? Jika belum, segera agendakan piknik Anda! Jika sudah piknik tapi gejala terus berlanjut, hubungi orang terdekat untuk curhat, atau psikolog terdekat di sekitar Anda…hehehe.

 

Salam Piknik dan Bahagia!

 

Posted in psikologi | Tagged , , , | Leave a comment

Jarak mulut dan telinga kita sangatlah dekat, tapi mengapa sangat sulit mendengar kata-kata dan nada bicara kita sendiri? Karena dibutuhkan indra tambahan untuk dapat mendengarnya, indra itu dinamakan ‘kesadaran’
-Rahmandaru, 2016

Quote | Posted on by | Leave a comment

Berkebun hanya butuh sedikit lahan, banyak keinginan, dan SEJIBUN kreativitas!

Maret 2015 lalu, Indonesia Berkebun meluncurkan buku yang berjudul “Urban Farming ala Indonesia Berkebun”. Buku ini merupakan tulisan dari penggiat-penggiat di kota-kota berkebun jejaring Indonesia Berkebun yang telah melalui proses seleksi dan penyuntingan tertentu. Alhamdulillah BdgBerkebun mendapat kesempatan untuk menerbitkan tulisan kami. Namun karena keterbatasan jatah halaman, dan kami-kami ini terlalu semangat menulis, jadinya tulisan yang di-cut jadi banyak banget setelah jadi buku. hehehe…

Nah maka dari itu postingan kali ini menampilkan versi penuh tulisan BdgBerkebun dari buku tersebut, yang telah melalui proses penyuntingan internal BdgBerkebun. Berhubung website BdgBerkebun sedang nonaktif, jadi untuk sementara ditampilkan di sini. Postingan ini sepenuhnya milik BdgBerkebun karena dibuat beramai-ramai oleh para penggiat.

Kalau penasaran ingin lihat versi lengkap buku IDberkebun yang memuat tulisan jejaring kota lain, silakan cari bukunya di toko buku terdekat ya 🙂

 

***

 

“Berkebun hanya butuh sedikit lahan, banyak keinginan, dan SEJIBUN kreativitas!”.1)

Selected1Kalimat ini resmi diproklamirkan sebagai tagline .BdgBerkebun pada #TanamSerentak se-Indonesia pada tanggal 2 September 2012. Namun sebelumnya kalimat ini pernah kami ungkap pada salah satu presentasi kami saat workshop pada November 2011.  Kalimat ini muncul dalam keadaan terdesak, ketika mempersiapkan presentasi 1,5 jam sebelum tampil *ups*. Meskipun muncul dalam keadaan terdesak, sesungguhnya ia tak sertamerta muncul, melainkan melewati berbagai proses yang pada akhirnya menghasilkan suatu penghayatan tertentu—yang merepresentasikan pemahaman sekaligus cita-cita kami. Proses ini mirip ‘penemuan’ kalimat atau frasa lain khas .BdgBerkebun yang biasanya juga muncul di saat terdesak, obrolan santai, atau pada lamunan yang  melanglangbuana…

 

***

 “Mau dibawa ke arah mana gerakan ini?”, “Dalam konteks apa gerakan ini digaungkan; gaya hidup hijau, ketahanan dan keamanan pangan,  pemanfaatan lahan terbengkalai, atau??”. Sejak kumpul rintisan perdana hingga peluncuran, bejibun pertanyaan rumit dan fundamental *weisss* kerap muncul di benak kami sebelum merasa mantap untuk memulai gerakan ini. Bersesi-sesi diskusi kami lalui untuk menjawab pertanyaan ini. Ya, diskusi yang serius dan berkonsep tea..hihi :P. Pemahaman sederhana mengenai misi kami, yaitu mengajak masyarakat di Bandung untuk berkebun, berlanjut kepada pertanyaan “Berkebun? Bagaimana bisa hal tersebut menjadi menarik di mata orang kota seperti Bandung? Bagaimana cara agar tujuan di balik berkebun ini dapat dipahami oleh masyarakat? ”.

Pada suatu titik, kami tersadar.. “Aah, kebanyakan mikir dan diskusi! Yuk kita langsung beraksi di lapangan sambil cari jawabannya, let’s have fun and make it simple!”. Pertanyaan-pertanyaan tadi sesungguhnya belum sepenuhnya terjawab. Bermodalkan pemahaman dasar mengenai karakteristik urang Bandung yang suka dengan hal-hal berbau nge-pop dan seru, kami sepakat bahwa gerakan ini sepatutnya merupakan hal yang menyenangkan bagi kami, menyenangkan pula untuk orang lain. Pokoknya FUN! FUN! FUN! Selain itu, kami ingin kegiatan berkebun menghadirkan nilai lebih bagi setiap orang. Nilai lebih ini akan menjadi sumber motivasi  berbeda pada setiap orang—yang kami yakini menghasilkan dinamika dan keseruan luar biasa tersendiri, apapun itu. Apa nilai lebih tersebut, akan bergantung penghayatan subjektif setiap orang. Bisa jadi nilai lebih itu berupa pergaulan, ajang refreshing, gaya hidup hijau, ketahanan dan keamanan pangan, edukasi, dll. Oh, ternyata nilai lebih yang dimaksud ini masuk lingkup konsep sustainability 3E yang sering Kang Emil sebut-sebut; ekologi, ekonomi, edukasi. Yes, mecing!

Selected2

Dengan dua prinsip tersebut, .BdgBerkebun mengawali langkah secara resmi ketika #TanamPerdana pada tanggal 21 Mei 2011. Di kebun laboratorium perdana kami di Sukamulya, kegiatan demi kegiatan dijalani dengan cara-cara kreatif dan menyenangkan agar spirit yang kami tularkan bisa melekat kuat pada setiap orang yang pernah terlibat. Cara kreatif inilah yang selama ini kami sebut dengan #Creatifarming TM (Creative-Farming)2). Berawal dari ide sederhana bahwa perlu selalu ada kegiatan pengiring setelah berkebun (pembuatan lubang biopori, menghias kebun dengan barang bekas, bermain board game di kebun, dll), lama-kelamaan berkembang menjadi ide ‘liar’ tentang bagaimana cara mempercepat pergerakan ini ke masyarakat. Ide-ide liar tersebut membawa kami untuk tidak hanya berkegiatan di kebun, melainkan menjalankan program di luar kebun baik itu berupa undangan pihak eksternal maupun program atas inisiatif kami.

selected3

Seiring perjalanan, banyak hal yang ‘menguji’ keteguhan hati *cieeh* tentang yang kami jalani. Di antaranya adalah pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul dalam forum terbuka di masyarakat atau wawancara3), seperti “Kenapa dinamai Bandung Berkebun?”. Jujur, dalam diskusi internal kami hal tersebut tidak pernah dibahas secara eksplisit sebelum pertanyaan tersebut muncul. Akhirnya kami sepakat menjawab pertanyaan berulang tersebut dengan “Karena cita-cita kami adalah membuat se-Bandung Berkebun”. Ya, kami rasa itu jawaban paling singkat, kece dan mudah dipahami yang sebenarnya bermakna dalam. Jawaban yang menggambarkan tujuan kami yaitu mengajak sebanyak-banyaknya (bahkan semua!) masyarakat di Bandung untuk memulai berkebun. Tak jarang pula masyarakat ‘salah paham’ mengenai siapa .BdgBerkebun, hingga membuat kami merasa perlu merumuskan “Yes Vs No .BdgBerkebun” untuk mengklarifikasi hal tersebut 4).

Selected3a

Pertanyaan lain yang tak jarang muncul adalah “Apa saja yang biasa ditanam oleh .BdgBerkebun, kenapa?”, kami jawab “Kangkung, bayam, pakcoy, caisim, selada, pokoknya yang gampang! Soalnya kita kan baru memperkenalkan, maka kegiatan berkebun ini haruslah dirasakan mudah oleh orang-orang. Jika sudah merasakan mudah, maka akan muncul rasa penasaran dan dorongan untuk menanam yang lebih sulit 😀”. Ya, kami yakin pengalaman awal positif yang berupa keberhasilan akan memunculkan ketertantangan untuk ‘naik kelas’. Ketertantangan inilah yang menjadi modal suatu keberlanjutan. Apa yang dibawakan .BdgBerkebun kepada masyarakat sebisa mungkin membawa citra bahwa berkebun itu mudah. Lebih lanjut, artinya .BdgBerkebun harus membuat program-program yang memfasilitasi masyarakat agar mudah untuk memulai berkebun alias #gampaNGebon TM (ngebon = ‘berkebun’ dalam bahasa Sunda, red.).

Selected4

Gimana ya caranya biar semua orang #gampaNGebon ?? Teringat sebuah sitiran andalan Kang Emil yang seringkali beliau gaungkan “Hidup itu adalah udunan” (udunan = urunan, bersama-sama menyumbang, red.). Sitiran ini sangat menginspirasi pergerakan kami. Beruntung sekali, penggiat .BdgBerkebun berasal dari berbagai disiplin ilmu yang mempunyai hasrat untuk mengkontribusikan ilmu masing-masing. Ya, dengan kolaborasi tersebut kami melengkapi satu sama lain. Melalui Spirit #UdunaNgebon TM inilah, kami mengkolaborasikan segala bentuk kontribusi (tenaga, waktu, materi, ide, dll) dari siapapun untuk mewujudkan cita-cita bersama dalam mengajak dan memfasilitasi masyarakat Bandung untuk mulai berkebun. Logika sederhana, semakin banyak yang berkontribusi maka akan semakin mudah pencapaiannya :-).

Selected5

Diskusi demi diskusi dan kegiatan demi kegiatan yang kami jalani secara berproses membulatkan pemahaman kami mengenai apa tujuan serta cara untuk mencapai tujuan tersebut. Konsep-konsep yang terkemas dalam tanda tagar ini kami temukan satu persatu seiring perjalanan bagaikan menemukan kepingan puzzle yang awalnya tercerai-berai. Seiring berjalannya waktu, barulah kami dapat menyusun dan mengaitkannya menjadi sesuatu yang utuh. Oh ralat, justru saat ini belum utuh! Itulah mengapa kami terus menjalani proses ini dengan harapan di waktu yang akan datang kami dapat menemukan potongan-potongan lainnya agar puzzlenya semakin utuh untuk menuju se-Bandung Berkebun 😀

selected6

“.BdgBerkebun membuat saya tahu bagaimana cara mencintai Bandung.”

–Rahmandaru, 2014

 

***

Inilah cuplikan-cuplikan kisah perjalanan dan kesan kami untuk mewujudkan se-Bandung Ngebon…..

 

KAMPOENG URBAN FARMING TAMAN SARI

Karakteristik masyarakat Bandung bervariasi, tapi pada umumnya adalah heboh, penasaran dengan sesuatu yang baru, berani mencoba dan masih banyak lainnya. Berdasarkan inilah .BdgBerkebun  memperkenalkan dan mengajak masyarakat Bandung untuk berkebun. Menyenangkan? HARUS, karena inilah modal dasar pendekatan, tapi kelak harus punya ‘nilai lebih’ lho…, yang seperti apa? Nantilah…yang penting masyarakat mau mencoba dulu, senang dan berhasil…baru dimaknai nilai lebihnya.

selected7

Kampoeng Urban Farming Taman Sari (KUF TS) 2011 merupakan salah satu program panjang dan melelahkan dari .BdgBerkebun…. dari mulai pendekatan dengan warga, pemetaan, pemrogaman, urun rembug, penanaman hingga panen perdana. Lebih hebohnya karena berbaur dengan ibu-ibu PKK, Karang Taruna dan masyarakat umum. Apa sih uniknya .BdgBerkebun di KUF TS?

  • Dari berbagai disiplin ilmu berusaha memahami dasar berkebun mereka hingga solid dan berjalan lancar
  • Dari persiapan, perencanaan, pemeliharaan dan panen perdana yang berjalan mulus.
  • Dari membosankan menjadi menyenangkan.
  • Dari berbagi ilmu dua arah menjadi pemahaman.
  • Dari berkebun menjadi hubungan emosional yang berkelanjutan. Inilah salah satu hal yang paling berkesan sebagai seorang penggiat.BdgBerkebun yang berlatar disiplin ilmu psikologi. Dari kontak melalui ponsel hanya say hello hingga informasi warga yang sakit, dari kabar pertumbuhan tanaman hingga acara undangan botram (makan bareng), dari curhat pribadi hingga menghadiri acara pernikahan penggiat….semua terjalin dengan baik. Senang rasanya punya keluarga baru 😀

Kerennya #gampaNGebon dan #UdunaNgebon sepenuhnya sudah terlaksana dengan baik, tapi jujur…nilai lebih untuk mencapai tujuanlah yang rasanya belum terpenuhi. Yah..untuk saat ini hanya sebatas tahu, mencoba dan berhasil panen, motivasi mandiri ke depannya belum terbentuk dengan baik, dan arti nilai lebih belum bermakna dalam. Mudah-mudahan ke depannya tujuan .BdgBerkebun akan tercapai dengan optimal.

 selected8

“Nilai lebih .BdgBerkebun baru sebatas kata, tugas bersama untuk merealisasikannya.”

-Sylvanny, 2014.

***

BANDUNG BELAJAR BERKEBUN

.BdgBerkebun”. Pertanyaan awal yang  terbesit dalam benak saya saat melihat komunitas ini adalah “Apa itu .BdgBerkebun? Kegiatan apa saja yang dilakukan dan Bagaimana cara untuk bergabung dengan komunitas ini?

Teringat slogan Bandung Kota Kembang yang dari tahun ke tahun semakin berkurang ‘kembang’nya, akhirnya saya sadar bahwa kalau bukan kita warga Bandung, siapa lagi yang akan menghijaukan kota kelahiran kita tercinta ini. Nah! Akhirnya saya bergabung dan berharap melalui komunitas .BdgBerkebun ini saya bisa berkontribusi untuk Bandung.

selected9

Berbagai kegiatan yang saya lalui bersama .BdgBerkebun  salah satunya #BBB1 (Bandung Belajar Berkebun season 1). Dalam program #BBB1, kita diajak untuk menanam sayur-sayuran seperti pakcoy, selada, kangkung, bayam, dll. Mengapa hanya sayuran saja yang ditanam? Setelah melakukan pengamatan, kebanyakan remaja zaman sekarang itu pengennya serba instan dan ga mau ribet, nah hal tersebut dapat diatasi dengan menanam sayuran  yang notabene mudah dipraktikkan dan dinikmati hasilnya secara langsung.  Selama saya mengikuti program inipun saya mendapatkan banyak pengalaman serta teman-teman penggiat yang gaul abis. Tidak hanya belajar mencangkul, menanam, ataupun panen, tetapi dari hasil panen yang kita tanam itu bisa kita makan bersama atau biasa kita sebut ngabotram. Pada akhirnya saya menyadari apa makna “reramean itu lebih menyenangkan” seperti yang selalu digaungkan ibu saya lewat ngabotram.

selected10

selected11

“.BdgBerkebun membuat saya lebih peduli dan peka terhadap lingkungan di sekitar Kota Bandung, bisa dekat dengan berbagai kalangan, juga meningkatkan tekad saya untuk terus mengajak para warga Bandung menjaga keindahan Kota Bandung yang kita cinta.”

–Saphira, 2014.

***

SCHOOL URBAN FARMING ”MY SCHOOL GOES FARMING”

“Setelah mengikuti kegiatan ini, saya nanti akan menghijaukan lingkungan rumah dan sekolah.” Ujar Syaiful, Siswa kelas 5 SD N Coblong 3 yang kemudian disambut tepuk tangan dan sorak sorai para kakak .BdgBerkebun dan peserta lainnya.

Masih jelas di ingatan saya kata-kata dek Syaiful itu lho meskipun telah lewat dua tahun silam. Salah seorang siswa SD yang terinspirasi dengan kegiatan yang diselenggarakan .BdgBerkebun.

selected12

Yap! Bisa dibilang .BdgBerkebun berhasil mengemas kegiatan My School Goes Farming dengan apik. Karena konsep edukasi #gampaNGebon, mulai dari cara penyemaian benih hingga panen sayuran, disajikan melalui dongeng berkebun “Bertualang ke Negeri Sayuran”. FUN! Iya pasti… Alhamdulillah berkebun dengan cara belajar sambil bermain ini, sudah ‘mendarahdaging’ pada .BdgBerkebun sehingga anak-anak tidak canggung untuk mengaduk-aduk tanah –bahkan ada yang pegang-pegang cacing juga- dan mudah memahami bahwa ngebon itu selain gampang ternyata juga asyik dan menyenangkan yaa..

selected13

“Ohternyata begini caranya untuk membuat media tanam di perkotaan. Sangat menginspirasi sekali.” Kata salah seorang Guru Pendamping SD tersebut. Bahkan gurunya pun juga terinspirasi dengan edukasi berkebun yang .BdgBerkebun tanamkan ke anak-anak didiknya.

Semangat, antusiasme dan harapan positif terpancar dari wajah setiap peserta yang masih belia ini. Harapannya semoga anak-anak ini dapat meneruskan misi berkebun serta mampu mewujudkan kebun impian di sekolah dan sekitarnya.

 

selected14

“Kelilingilah dirimu dengan orang-orang dan lingkungan yang positif dan inspiratif. Dan saya menemukan itu semua di .BdgBerkebun.”

–Maskunaryatun, 2014.

***

#UdunaNGebon UNTUK KEBUN IMPIAN

Duduk di angkot menempuh rute Cibiru – Dago atas harus ditempuh cukup jauh setiap kali ngebon, membuatku kadang ngelamunin babang siwon eh hehe maksud saya kadang terlintas pikiran “kenapa gue gabung komunitas ini ya? Apa kerennya coba?“  

Yuk mari plashback bentar, maklum urang Sunda ga bisa bilang “f”… Berawal dari acara #TanamSerentak 2 September 2012 silam, ketertarikan saya dengan Komunitas BdgBerkebun semakin bertambah. Selain karena aktivitas berkebun kreatifnya, pengelolaan SDM di komunitas juga menjadi hal lain yang menarik perhatian. Bertemu dengan orang-orang hebat dan kreatif dari berbagai jurusan menjadi pengalaman menarik lainnya.

selected15

Pada dasarnya sebagai lulusan pertanian ‘setidaknya’ sudah tahu tentang berkebun, tapi justru di sini menariknya, selain bisa mengamalkan apa yang didapatkan semasa kuliah, di .BdgBerkebun juga mendapatkan banyak pengetahuan baru terutama tentang berkebun kreatif yang membuat siapapun #gampaNGebon. Berkebun kreatif mulai dari instalasi sederhana dengan menggunakan botol bekas air mineral hingga instalasi-instalasi kreatif lainnya yang membuat berkebun tidak hanya bisa menghasilkan produk yang bisa dikonsumsi tapi produk yang bernilai estetika pula.

selected17

Dari beberapa program yang telah dilaksanakan, ada satu program yang menurut saya itu menunjukan Bandung banget, yaitu #UdunaNgebon. Berawal dari keinginan mempunyai kebun yang tidak hanya dijadikan tempat produksi tapi bisa dijadikan tempat rekreasi yang bernilai estetis, muncullah ide untuk udunan atau patungan barang-barang yang dibutuhkan di kebun. Melalui #UdunaNgebon ini kami membangun kebun impian kami bersama.

Selected18

Berkebun itu mudah, tak perlu buka lahan berhektar-hektar untuk memulai berkebun, karena dari lahan rumah yang sempitpun bisa. Tak perlu biaya yang besar untuk berkebun dengan menggunakan bahan bekas untuk wadah tanam pun bisa atau bisa juga dengan #UdunaNgebon. Dengan saling berbagi apa yang dimiliki lebih mudah untuk memulai berkebun. Dengan #UdunaNgebon tidak hanya berbagi hal-hal yang dibutuhkan untuk berkebun tapi juga bisa berbagi mengenai pengalaman dan pengetahuan tentang berkebun.

selected19

“BdgBerkebun adalah rumah, rumah untuk berbagi dan memberikan manfaat.”

-Melina, 2014.

 

***

MARI MULAI BERKEBUN DI RUMAH KITA SENDIRI

selected20Sebelum mengikuti kegiatan di .Bdgberkebun, saya nggak pernah membayangkan bahwa ngebon itu bakal menyenangkan. Ya, sebelumnya saya berkebun kecil-kecilan di rumah, yang terkadang menjadi rutinitas pagi atau sore dan saya nggak punya alasan khusus untuk itu. Tapi setelah bergabung di kegiatan .Bdgberkebun, saya tahu bahwa ngebon itu punya dampak positif untuk diri kita, baik itu untuk refreshing, menyalurkan hobi,  dan berbagi ilmu tentang berkebun.  Hal positif lainnya, setelah ikut ngebon dengan .Bdgberkebun, tidur saya selalu nyenyak. Asli ini bukan hanya promosi, saya pernah baca sebuah artikel bahwa berkebun bisa membantu orang insomnia, saya berhasil membuktikannya. Haha.

Sebenarnya ngebon itu gampang. Dan dengan hashtag campaign #gampaNgebon .Bdgberkebun semakin intens mengajak semua orang untuk berkebun dengan cara sederhana, asyik, dan sarat makna. Semoga warga Bandung bisa tergerak semua bahwa nggak perlu lahan luas untuk mulai berkebun – jelas, Bandung tercinta ini sudah sempit, cukup dengan keinginan dan kreativitas, pekarangan rumah bisa disulap jadi kebun serba ada. Yuk! Mulai dari pekarangan rumah sendiri, colek-colek tetangga sebelah juga untuk ngebon dan nanti akan terwujudlah se-Bandung ngebon. Aamiin.

 

”.Bdgberkebun menginspirasi saya bahwa perubahan besar dapat dibuat melalui hal-hal sederhana.”

-Pascapurnama, 2014.

***

Di tahun ke tiga ini, kami mendapatkan kesempatan untuk berkolaborasi dengan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Bandung dalam menginisiasi program Bandung Kampung Urban Farming (BKUF). Program ini adalah program yang memfasilitasi, mengedukasi, dan mendamping masyarakat pemukiman padat untuk berkebun di lahan terbatas di wilayah mereka. Program ini menyentuh 151 RW di 30 Kecamatan di Bandung, dan melibatkan sekitar 100 relawan. Sungguh sebuah pergerakan yang sangat masif untuk komunitas seperti .BdgBerkebun. Ah…kami merasa semakin dekat dengan cita-cita se-Bandung Berkebun. Semoga spirit kami bisa tetap konsisten untuk mewujudkan cita-cita kami 😀

 

 

Kontributor tulisan:

Listia Rahmandaru G. (@listi_ijo), Sylvanny ‘Menjay’ Ranggi (@sylvannyenji), Dechairani Saphira (@dechairani), Maskunaryatun (@kunaryoshi), Melina (@riekudo15), Dyshelly Nurkartika (@dyshelldyshell).

Kontributor Foto :

Tiara Agung Juliansyah (@hajiiyay), Iqbal Maulana Achmad (@IqbalMAchmad)

 

***

Sumber terkait:

  1. Cerita asal usul tagline .BdgBerkebun : http://chirpstory.com/li/77977
  2. Cerita asal-usul Creatifarming : http://chirpstory.com/li/112378
  3. FAQ .BdgBerkebun : http://bdgberkebun.blogspot.com/p/faq.html
  4. “Yes Vs No .BdgBerkebun” dalam #diaryBBB episode 6 : http://chirpstory.com/li/63637

 

 

 

Posted in hobi | Tagged , , , | 1 Comment

Adu Argumen, Debat Kusir, atau Ngajak Berantem?

Gegara hobi banget ngobrol ngaler ngidul sama temen, jadinya saya punya penghayatan tersendiri mengenai proses ini. Saya punya kebutuhan yang sangat tinggi untuk mengekspresikan sejibun pemikiran dan perasaan yang sungguh bergejolak ini *halah*. Maka dari itu, kehidupan sosial yang akrab bisa dibilang menjadi salah satu kebutuhan dasar saya yang sulit dibendung. hehe… Namun saya penganut diskusi ngaler ngidul live atau minimal chatting. Saya biasanya menghindari berbalas argumen (apalagi topik sensitif) di media sosial untuk menghindari mispersepsi, penundaan atau tumpang tindih respon yang menurut saya terkadang membuat diskusi jadi kurang asyik.

Ngobrol ngaler ngidul ini terkadang bentuknya hanya diskusi ringan keseharian, bisa juga diskusi agak berat yang melibatkan berbagai ilmu. Tak jarang juga diskusinya berkembang menjadi adu argumen dan debat kusir. haha. Adu argumen dan debat kusir ini memang beti alias beda tipis. Menurut saya ada kategori tambahan juga, yaitu ‘ngajak berantem’. Saya jadi penasaran, ingin mencoba mengidentifikasi perbedaannya…

Biar agak gaya, saya mencoba menyajikannya dalam bentuk matriks (ssst…ini berdasarkan pengamatan dan penghayatan subjektif ya, belom tentu sama dengan orang lain).

adu argumen, debat kusir, ngajak berantem

Sumber ilustrasi pendukung: http://www.123rf.com

Nah dari ketiga kategori tersebut, kamu biasa melakukan yang mana? mana yang menurut kamu paling asyik? atau kamu punya kategori dan tambahan identifikasi perbedaan? 🙂

 

Salam ngobrol ngaler ngidul!

 

 

Posted in implang impleng, psikologi | Tagged , , | Leave a comment

Yakinilah bahwa orang lain juga berproses, sebagaimana kamu tahu dan yakin bahwa kamupun selama ini telah berproses…

-Rahmandaru, 2016-

Quote | Posted on by | Tagged , , | Leave a comment