Mewujudkan Resepsi Pernikahan Impian: Kondangan Ramah Anak

Sejak kapan kamu suka membayangkan resepsi pernikahan yang ingin kamu wujudkan? Kalau aku suka mengkhayalkannya sejak masih kecil, sejak SD tepatnya. Selain suka berkhayal menjadi putri kerajaan dan penyiar berita televisi/radio, aku juga suka berkhayal menjadi pengantin sejak kecil. hihihi…

Menyambung postingan sebelumnya yang bercerita tentang pertemuanku dengan suami, kali ini aku ingin berbagai tentang prosesku mewujudkan resepsi pernikahan impianku. Meskipun resepsinya sudah berlalu 4 bulan lebih, mudah-mudahan tetap relevan ya, terutama buat teman-teman yang sedang mempersiapkan pernikahan impiannya. prikitieeewww….

Sejak kecil aku selalu mengidamkan pernikahan yang diselenggarakan di alam terbuka, aku juga tidak tahu tepatnya mengapa. Apakah terinspirasi dari pernikahan putri-putri di negeri dongeng, atau sekadar kesukaanku pada alam, entahlah. Keinginan ini semakin kuat semenjak di masa remaja hingga dewasa aku cukup sering mengikuti kegiatan luar ruangan.

Seiring dengan pertumbuhan usia dan tertanamnya nilai-nilai baru pada diriku, impianku soal resepsi pernikahan ini juga semakin banyak dan menggenap menjadi sebuah ‘konsep’. Beruntungnya, calon suamiku juga tipe orang yang bisa diajak diskusi seru konsep-mengonsep, dan nilai-nilainya selaras denganku. Kalau aku sudah mulai terlalu njlimet, dia yang akan membantu menyederhanakannya. Dan tentunya juga orangtua kami yang sangat terbuka dengan ide-ide kami, dan memberikan kepercayaan penuh untuk mewujudkan harapan kami. Perfect team! hihi…

Salah satu yang menjadi perhatian besarku adalah kenyamanan anak-anak ketika menghadiri resepsi pernikahan bersama orangtuanya. Suka kasian ga sih, kalo ngeliat bocah-bocah badmood di resepsi karena pusing dengan keramaian, ga bisa lari-lari dengan bebas, dan kepanasan? Dan pada akhirnya, orangtua yang membawa anak inipun kurang bisa menikmati resepsi dan bersilaturahim. Tak jarang pula yang tidak bisa hadir ke undangan dengan alasan tidak bisa bawa anak. Kan sedih :(. Berawal dari perhatian tersebut, aku sangat ingin anak dan orangtua merasa senang dan nyaman ketika menghadiri resepsiku. Maka dari itu, aku mengusung konsep Kondangan Ramah Anak. Terdengar unik dan seru kan? hihi…

Konsep Kondangan Ramah Anak ini sangat selaras dengan lokasi luar ruangan. Aku membayangkan, alangkah asyiknya kalau anak-anak bisa leluasa bermain dan berlarian di resepsi pernikahanku.

Titik perhatianku yang lain adalah fakta bahwa resepsi pernikahan seringkali meninggalkan tumpukan sampah yang luar biasa, dan makanan sisa sehingga mubazir. Hiks. Jangan sampai berkah pernikahanku berkurang gegara hal esensial begini tidak terperhatikan. Bisa dibilang cita-cita mengurangi sampah ini membuat resepsinya dekat dengan konsep ‘green wedding‘, meskipun kami tidak berani melabeli demikian karena belum bisa sepenuhnya melaksanakan.

Aku juga sangat ingin seluruh tamuku mendapatkan tempat duduk ketika makan. Selain makan sambil duduk itu dicontohkan oleh Rasul serta baik untuk kesehatan, kan pegel banget selama undangan berdiri terus…apalagi kalo pake high heels XD.

Banyak banget yah pengennya?? haha. Kalau disimpulkan sih, kami ingin pernikahan kami bertambah berkahnya melalui pesan-pesan (edukatif) dan kampanye positif yang tersirat. Dengan konsep sebanyak ini, tentunya yang menjadi tantangan adalah pengondisian selama di lapangan, dan mencari vendor-vendor yang bersedia bekerja sama mewujudkan ini… Maka dari itu, sayang rasanya kalau proses persiapan ini tidak kubagikan kepada khalayak. Siapa tau berguna!

Ok, here’s the journey~~~~

 

Persiapan Awal

Percaya atau tidak, aku sudah mencicil daftar persiapan pernikahan sejak sekitar 3 tahun yang lalu, bahkan sebelum aku tahu siapa calon suamiku. haha. Ceritanya mah antisipatif. Sejak dulu aku sudah punya feeling kalau persiapan teknis pernikahanku akan singkat, maka untuk meminimalisir detail persiapan yang terlewat, sejak jauh hari aku mempersiapkan daftar persiapannya. Bahkan, akupun sudah menabung beberapa vendor yang kuincar sejak lama.

*)Tips pertama: meskipun kamu belum tau siapa jodohmu, tak ada salahnya membuat daftar persiapan ini sejak jauh hari. Selain menyiratkan optimisme, ini juga bentuk doa dan ikhtiar menyiapkan serta memantaskan diri lho 😉

Draft catatan ini kutuangkan pada Trello, sebuah platform catatan kolaboratif yang berbasis online. Ini adalah platform andalanku sejak sekitar 4 tahun terakhir untuk urusan pekerjaan maupun keseharian. Ketika pertengahan September tanggal persiapan kami sudah fix, akupun melengkapi dan mengisi catatan tersebut bersama sang calon suami. Kami fokus menggarap catatan ini selama 2 minggu pertama persiapan; mulai dari konsep, persiapan menuju hari H, daftar vendor beserta progres survey nya, hingga persiapan teknis hari H. Yang membuatnya seru, tentu saja karena ini bisa dikerjakan secara kolaboratif meskipun sedang berjauhan.  Bisa saling menambahkan, mengedit, dan mengomentari atau memberi masukan. Semuanya terdokumentasi! Board persiapan ini beranggotakan aku, calon suami, dan kakakku yang sedang berada di Jepang. Asyik kan, bahkan kakakku yang sedang berjauhan saja bisa berkontribusi dan memantau persiapan pernikahanku.

20170410_180444.jpg

Pencatatan persiapan pernikahan di Trello yang sudah kucicil sejak jauh hari (tentu saja judulnya baru ditulis demikian setelah calon suaminya jelas siapa. haha)

Nilai lebih penggunaan catatan kolaboratif seperti ini adalah sebagai media untuk mengomunikasikan rencana kita kepada orangtua secara kongkret. Bener deh, ini sangat membantu orangtua menjadi lebih tenang karena mengetahui bahwa anak-anaknya sedang mempersiapkan pernikahan secara ‘nyata’, tidak sebatas melalui obrolan. Ketika masing-masing dari kami mempresentasikan rencana kami kepada orangtua, sangat terasa bahwa kecemasan mereka berkurang. Plus takjub karena zaman sekarang persiapan pernikahan bisa sangat terbantu oleh teknologi macam ini. haha.

*)Tips ke-2: Agar orangtua tenang dan memberikan kepercayaan kepada kita ketika persiapan, dokumentasikan semuanya untuk bahan presentasi, plus rajin-rajin menceritakan perkembangan serta pertimbangannya. 

Lalu bagaimana dengan ide-ide konsep pernikahan yang tidak biasa ini? orangtua tidak apa-apa? Beberapa poinnya sebenarnya sudah dikomunikasikan sejak jauh hari kepada orangtua dalam obrolan ringan keseharian. hihi. Jadi bisa dibilang, ini bukan hal yang mengagetkan terutama bagi orangtuaku. Namun tentunya konsep-konsep yang awalnya diinginkan tidak 100% diwujudkan, ada titik-titik penyesuaian berdasarkan pakem-pakem dari orangtua. Oh ya, sebelum aku ngalor ngidul melengkapi catatan Trello tersebut dengan segala tetek-bengeknya, tentu saja aku ngobrol dengan orangtua, meminta masukan mereka mengenai aturan-aturan dasar/harapan mereka mengenai sebuah resepsi (terutama menyangkut anggaran dan jumlah undangan). Jadi kami mengembangkan ide tanpa keluar batas-batas tersebut.

 

Pemilihan Lokasi

Lokasi biasanya menjadi persiapan yang paling pertama mengingat akan mempengaruhi persiapan lainnya. Menyadari bahwa persiapan relatif sempit (3 bulan), maka urusan pemilihan lokasi ini benar-benar harus didukung banyak doa dan keberuntungan. Kebanyakan orang sudah memesan lokasi pernikahan 6 bulan bahkan 1 tahun sebelum pernikahan. Sedangkan kami hanya punya waktu 3 bulan, banyak requirement pula. Nekad!

Agar efektif, aku dibantu kakakku mengawali survey lokasi melalui internet, mengintip-intip beberapa blog yang memuat informasi mengenai harga lokasi-lokasi pernikahan di Bandung beserta kisaran harga dan fasilitasnya. Informasi tersebut cukup membantu kami untuk mempersempit pilihan berdasarkan kriteria anggaran dan lokasi. Meskipun sebenarnya berharap lokasinya luar ruangan, kami juga tetap menjajaki gedung pernikahan dalam ruangan, yang penting dapet deh soalnya udah mepet! Kami bahkan sempat mengincar Pendopo Walikota Bandung melalui jalur koneksi komunitas, namun ternyata gagal. hehe.

Oh ya, sebenarnya pemilihan tanggal pernikahan kami sesuaikan dengan tanggal ketersediaan lokasi yang kami incar. Awalnya kami menaruh kisaran pernikahan antara bulan November dan Desember 2016. Itulah pertanyaan awal yang kami ajukan setiap survey lokasi “Tanggal berapa yang masih kosong antara November sampai Desember?”.

Qadarullah, rezeki kami mendapatkan sebuah lokasi yang sangat sangat ideal untuk mewujudkan konsep pernikahan kami, sesuai dengan anggaran pula. Pandiga Educreation and Sport, yang berlokasi di Cihanjuang Cimahi akhirnya menjadi pilihan kami. Sesuai namanya, lokasi ini merupakan gabungan antara tempat olahraga dan rekreasi. Kami sekeluarga memang sempat beberapa kali ke sana untuk berenang, dan menemani keponakan untuk mengikuti kids outbond. Ya, kids outbond!pandiga 3

Di Pandiga ini ada taman yang sehari-harinya berfungsi sebagai taman bermain anak yang dilengkapi beberapa instalasi outbond. Sedangkan di akhir pekan, taman ini memang biasa digunakan untuk resepsi pernikahan. Sempurna sekali untuk mewujudkan Kondangan Ramah Anak kan?

Hal yang menyenangkan lagi dari Pandiga adalah harganya yang jauh di bawah lokasi outdoor lain di Bandung. Kalau dibandingkan dengan lokasi lain di Bandung, bisa menghemat 25-50%. Meskipun lebih murah, tapi penyediaan fasilitasnya juga baik hati lho, kapasitas 1000-1500 orang, termasuk kursi 150 buah, listrik 6500 watt, tenda plafon 150m2, kapasitas parkir 200 mobil, katering bisa dari luar tanpa charge, dan tanpa batasan waktu yang ketat berakhirnya acara. Baik hati bangeeeet yaaa…hihi.

Posisinya juga cukup ideal bagi keluarga mempelai. Lokasinya berada di antara rumah kedua mempelai, saya dari daerah Cijerah, calon suami dari Padalarang.

Waktu itu, sampai akhirnya memilih lokasi di Pandiga pada musim hujan telah melalui diskusi yang panjaaaang dan diomat-omat banyak pihak. Kami mendapat banyak cerita mengenai resepsi yang ‘kurang sukses’ karena turunnya hujan besar. Bismillah aja deh… Untungnya Pandiga ini tidak sepenuhnya ruangan terbuka, karena ada bagian pendopo yang tertutup, serta saung-saung kecil tersebar di taman yang bisa digunakan untuk duduk ngampar santai dan berlindung jika hujan. Bisa dibilang lokasinya kategori semi-outdoor. Kami juga tampaknya tak berani ambil resiko kalau lokasinya full outdoor. Plus, kami mengantisipasi menyediakan payung untuk tamu kalau hujan.

Meskipun kami telah berserah pada ketetapan Allah hari itu akan hujan atau tidak, selama sebulan terakhir persiapan kami lumayan tegang. Karena saat itu hujan lebat ditambah angin kencang sangat sering mengguyur Bandung hingga Cimahi dan Padalarang. Persiapan pernikahanpun sempat beberapa kali tertunda karena mobilisasi kami terhambat karena cuaca tak menentu ini. Benar-benar bekalnya saat itu adalah banyak banyak berdoa….

Alhamdulillah…ternyata ketika hari pelaksanaan cuaca cerah ceria! Yeaaay…Hujannya sudah dihabiskan malam sebelum acara…hehe.

By the way, awalnya karena ingin resepsinya casual dan akrab, kami tidak ingin ada pelaminan. Inginnya sih pengantinnya bisa muter-muter area resepsi sambil bersapa dengan tamu-tamu (sekalian hemat anggaran hehe). Namun berdasarkan masukan orangtua dan vendor, hal tersebut tidak memungkinkan mengingat jumlah tamu yang sekitar 1000 orang. Wah, bisa gempor tuh mantennya! Bener juga…hihi.

*)Tips ke-3: Kalau mau cari lokasi atau vendor yang lebih murah, Cimahi bisa jadi alternatif. Perbedaan harganya cukup signifikan. Lokasinya memang cukup jauh dari tengah kota, tapi tidak sejauh dan semacet ke Lembang kalau akhir pekan (lebih mahal pula). Jadi, lebih baik ke Cimahi daripada yang mainstream seperti di Lembang kan? hehe…

 

Tata Rias, Pakaian Pengantin, Katering, dan Dekorasi

Biar praktis, cita-citanya sih semua item ini diurus oleh vendor yang sama. Pada akhirnya sih, hanya pakaian yang tidak berasal dari vendor yang sama. Sedangkan yang lainnya sama. Tersebutlah Fairuz Wedding Muslim sebagai vendor pilihanku. Sejak lama aku sudah mengincar vendor ini, vendor yang sama dengan yang digunakan kakakku 10 tahun yang lalu. Sejak awal aku menyukai tata riasnya yang lembut, rapi, natural, tapi tetap manglingi. Alhamdulillah, akupun benar-benar puas dengan hasil riasannya. Bener deh, efek tata rias pengantin bener-bener mejik. Berhasil bikin aku manglingi dan anggun, tanpa menghilangkan kesan ceria dan enerjik yang sudah melekat padaku. Kalau kata orang-orang, auranya keluar…cieee…

Ini vendor pertama sekaligus satu-satunya yang aku hubungi untuk urusan rias pengantin dan katering. Ketika saya survey harga dan food test di pernikahan lain, langsung cocok. Jadi fix lah Fairuz Wedding ini jadi vendor kepercayaanku. Dan lagi-lagi, harganya terbilang bersahabat dibanding vendor lain di Bandung. So, tips ku yang ke-3 tadi masih berlaku kan…

Untuk pakaian akad, aku mendapatkan kehormatan mengenakan pakaian akad milik sahabat baikku sejak kanak-kanak, Arum. Sejak ia mengetahui rencana pernikahanku, dengan semangat ia menawarkanku untuk meminjamkan pakaian akadnya dan merancangkan kartu undangan untukku secara cuma-cuma. Tentu saja aku menerimanya dengan suka cita dan keharuan. Ada semacam nuansa sentimentil tersendiri ketika mengenakannya… Karena pakaian itu milik sahabat yang bertumbuh bersama sejak kecil. Sahabat yang suka berkhayal bersama tentang pernikahan. hihihi…

Sedangkan untuk pakaian resepsi, awalnya aku berencana menyewa dari Fairuz juga. Namun ternyata tidak ada ukuran dan model yang cocok denganku dan konsep pernikahan luar ruangan (padahal modelnya lucu-lucu deh!). Akhirnya, aku meminta salah satu rekanku Marissa Siagian, sesama dosen di prodi Kriya Tekstil dan Mode untuk merancang sekaligus menjahitkan baju pernikahanku dan suamiku. Dan rancangannya benar-benar membuatku merasa istimewaaaa… Ia benar-benar berhasil menerjemahkan konsep dariku dielaborasikan dengan kepribadianku yang pecicilan ini agar tetap nyaman menjadi diri ketika resepsi. Salah satu yang paling keren adalah bagian-bagiannya yang bisa bongkar-pasang, sehingga pakaian ini bisa kukenakan di lain kesempatan tanpa harus menggunakan seluruh bagiannya.

Lalu soal makanan dan minuman, nah ini agak tricky. Pasalnya kami berharap agar resepsi ini sesedikit mungkin menghasilkan sampah (yah, kalau tidak menghasilkan sampah mah belum mampu euy). Kira-kira vendornya bersedia ga ya menyediakan piring dan gelas yang cukup agar tidak menggunakan air minum dalam kemasan maupun piring plastik/kertas yang sekali pakai… Alhamdulillah, setelah kami menjelaskan keinginan kami untuk meminimalisir sampah beserta alasannya, Fairuz Wedding menyambut dengan sangat positif dan bersedia memfasilitasinya. Ah senangnyaaa….

Urusan dekorasi merupakan urusan yang paling mepet ditetapkan (baru 2 pekan menjelang hari H). Selama beberapa lama aku sempat survey ke beberapa vendor, namun belum ada yang cocok secara harga. Kami ingin dekorasi yang minimalis karena lokasi yang sudah cukup meriah dengan berbagai objeknya. Pada akhirnya kami menggunakan jasa Fairuz juga untuk dekorasi ini. Kami meminta paket yang paling hemat berhubung anggaran untuk dekorasi ini juga tidak banyak. Dan Alhamdulillah, kami juga sangat puas dengan dekorasinya. Minimalis, ceria, dan hangat. Perfect!

 

Kartu Undangan

Kisah mengenai kartu undangan ini bagiku tak kalah istimewa dibandingkan persiapan lainnya. Bagaimana tidak, sahabat-sahabatku sendiri yang membantu merancang naskah dan bentuknya. Naskahnya dirancang oleh Taufan, kawanku yang dikenal mempunyai kekayaan kosakata dan susunan kekata yang istimewa. Sedangkan bentuk kartunya dirancang oleh Arum, sahabat sejak masa kecilku yang juga meminjamkanku baju akadnya. Ia memang berprofesi sebagai desainer komunikasi visual.

20161121_070325.jpgKonsep kartunya sendiri dirancang oleh aku dan calon suami. Kami ingin kartu tersebut menggambarkan karakter kami berdua, dan sebisa mungkin dapat dimanfaatkan oleh tamu undangan dalam waktu yang cukup lama agar tidak segera menjadi sampah. Muncullah ide untuk membuat undangan yang juga bisa dimanfaatkan sebagai kalender tahun 2017.

 

Beruntungnya kami, cetak undangan dilakukan di percetakan milik teman baik calon suamiku sehingga kami mendapat harga pertemanan. Hihi. Alhamdulillah…

Ah ya, kartu undangan ini juga menjadi powerful karena juga berperan untuk menyampaikan konsep kepada tamu undangan agar menyiapkan diri. Konsepnya disampaikan dengan cara menyertakan tanda tagar seperti ini di undangan….

hlm-dlm-2-1.png.png

 

(Di bawah ini ada video ketika Arum menceritakan prosesnya merancang undangan. Lucu banget ❤ ! Ini kenangan berharga yang harus diabadikan…hihi)

 

Suvenir

Konsisten dengan harapan agar resepsi kami menjadi ajang edukasi dan kampanye positif, kami memilih benih sayuran sebagai kenang-kenangan untuk para tamu. Benih ini dikemas ulang oleh Kebun Madani—yang juga milik seorang teman—lengkap dengan petunjuk cara penanamannya. Harapan kami, dengan souvenir tersebut para tamu terdorong untuk mencoba menanam sayur di rumahnya agar bisa dikonsumsi sendiri. Seru kan 😀

20170410_160755.jpg

*) Tips ke-4: mintalah bantuan kepada orang-orang terdekatmu terlebih dahulu sebelum meminta bantuan dari orang yang baru/jauh. Bisa jadi orang sekitar kita memang punya bisnis yang biasa menangani persiapan pernikahan. Dengan cara ini, persiapan menjadi lebih efisien dan berkah karena berbagi rezeki dengan teman.

 

Dokumentasi Foto dan Video

Tak banyak fotografer yang berhasil mendapatkan ekspresi wajahku yang ajaib ini dari sisi ‘ke-kobe-an’ nya (kontrol beungeut, red.). Nah, kawan baikku Flo lah salah satu dari sedikit fotografer yang mampu menangkapnya. Maka dengan kebulatan hati, kami sejak awal telah menetapkan Inside Photography yang akan mengabadikan momen teristimewa hidup kami ini. Menyadari bahwa sang calon suami tak pandai bergaya di depan kamera, maka konsep fotonya adalah candid. Dan benar saja, jepretan-jepretannya sukses!

wp-1491815650932.jpeg

Perfect candid, isn’t it?

Koordinasi Keluarga Besar, Wedding Organizer dan Susunan Acara

Apalah artinya kami tanpa orang-orang hebat di belakang layar ketika hari H. Tentunya orang-orang ini adalah orang-orang kepercayaan dan andalan kami yang tahu betul keinginan dan gaya pengorganisasian kami. Tak lain mereka adalah keluarga besar dan sahabat-sahabat baikku.

Mengingat konsep pernikahannya yang tidak umum, tentunya perlu pengondisian keluarga sejak jauh hari. Karena keluarga lah yang paling berperan membangun suasana resepsi yang berbaur langsung dengan tamu lainnya. Pengondisian ini dilakukan melalui grup WhatsApp keluarga, plus rapat koordinasi 2 pekan sebelum hari H bersama panitia teknis hari H.

20170404_202418.jpg

Layout lokasi yang kubuat pada kertas berukuran A1, kupresentasikan ketika rapat koordinasi keluarga

Sedangkan panitia teknis alias wedding organizer nya adalah gabungan dari sepupuku, sahabat masa kecil, kuliah, dan alumni KPA3. Bersama alumni KPA3, sejak zaman kuliah kami sering mengorganisasi sebuah konser bersama, sehingga tentunya mereka tahu betul harapan dan gaya kerjaku.  Melalui proses transfer learning¸ aku cukup menjelaskan semua hal yang telah aku persiapkan dan perlu mereka tindaklanjuti di hari H. Kehadiran mereka benar-benar membuatku tenang dan nyaman ketika hari H, meskipun bisa dibilang sekitar 80% persiapan pernikahan sebelumnya kami yang menangani langsung.

Kerangka susunan acara pada awalnya sudah aku persiapkan, sedangkan detail dan finalisasinya dilakukan oleh teman-temanku. Ada hal yang sangat otentik dalam resepsi pernikahan kami selain Kondangan Ramah Anak-nya, yaitu adanya prosesi panen sayur oleh pengantin sebagai pengganti upacara adat setelah akad.

panen bayam

prosesi panen sayur. sayurnya disemai sendiri oleh mempelai pria lho! ceritanya melambangkan kerjasama antara suami dan istri dalam mencari nafkah dan memanfaatkannya 🙂

Pasti ada saja ‘kericuhan’ di belakang layar, namun di tangan mereka, aku sebagai pengantin tidak terpapar hal tersebut. Tak heran mereka begitu profesional menjalankan tugasnya sebagai wedding organizer, karena selama sekitar 1 tahun terakhir mereka memang telah merintis sebuah WO profesional bernama Asmarandana. Keterlibatan mereka ini bisa dibilang sudah ‘dikontrak’ sejak jauh-jauh hari dalam konteks pertemanan. Sejak lama kami saling berjanji untuk membantu persiapan pernikahan masing-masing, karena mengorganisasi sebuah kegiatan itu menjadi semacam ‘hobi’ bagi kami. Haha.

 

***

WATERMARK Listi AsepBegitulah dongeng persiapan pernikahanku (maap panjang bener yak..). Semoga bermanfaat! Bagi yang sedang mempersiapkan pernikahannya, semoga barokah dan lancar yaaa…

*) The last but not least tips: jangan sampai karena keasyikan persiapan teknis resepsi yang cuma sehari malah jadi lupa persiapan mental untuk pernikahan seumur hidup ya! Banyak-banyak berdoa dan ibadah sunnah agar hati ditenangkan dan urusannya dilancarkan 🙂

Vendor:

Lokasi: Pandiga Educreation and Sport

Tata rias, katering, dekorasi, MC, hiburan, sound system: Fairuz Wedding Muslim

Pakaian pengantin: Marissa Siagian

Desain undangan: Tujusemesta Creative Space

Cetak undangan: Hijau

Suvenir: Kebun Madani

Wedding organizer: alumni KPA3 (nyomot dari Asmarandana)

 

 

 

 

Posted in keluarga, keseharian | Tagged , , , , , , | Leave a comment

Ini mah Bandung Banget!

Hari ini aku dan teman-teman memilih Taman Kota sebagai tempat kami untuk rapat. Taman Balai Kota menjadi pilihan kami, karena posisinya yang ‘adil’ secara jarak bagi kami yang berasal dari belahan Bandung yang berbeda-beda.

Setiap memasuki taman ini, selalu ada memori manis masa kecil berkelebat dalam pikiranku. Di masa sekolah dasar, aku memang cukup sering ke Taman Balai Kota. Di sana biasa dilaksanakan program olahraga sekolahku yang terletak di sebrangnya.

Tapi bukan itu yang ingin kuceritakan kali ini. Aku ingin bercerita tentang keseruan akan hidupnya taman ini.

Kami nongkrong di salah satu pojok taman, tepatnya di tepi kolam dangkal yang bersebrangan dengan Taman Vanda. Awalnya pojok itu kami nikmati dengan cara diskusi ditemani suara tonggeret, semilir angin, matahari hangat, dan rindangnya pohon. Entah bagaimana, suara kendaraan motor seolah terbaikan bagi pendengaran kami.

Kenikmatan kami teralih ketika 2 orang gadis kecil berseragam batik dan rok rimpel merah bermain di kolam dangkal tersebut (Oh mereka rupanya sealmamater SD denganku! Hihi). Mereka tampak berhati-hati memasuki kolam setinggi lutut mereka itu. Diangkatnya rok mereka agar tidak basah. Tentu saja itu percuma seiring keaktifan gerakan mereka di sana. Hihi. Sambil berdiskusi, perhatian kamipun teralih karena tingkah polah dan keceriaan mereka.

“Haha…percuma deh diangkat gitu roknya. Bentar lagi juga basah”
“Liat aja, ntar lagi juga mereka berenang…”
Komentar kami bergantian sambil cekikikan dan (tidak) berbisik.

image

Pandangan kamipun awas terhadap mereka, karena bagaimanapun seharusnya sih mereka diawasi ketika bermain, karena posisi kolam dangkalnya berhubungan langsung dengan selokan besar pinggir jalan. Bertanya-tanya, ke mana ya orangtua mereka? Heu. Tapi tentu saja kami tidak ingin mengganggu kesenangan mereka dengan ‘melarang’ mereka berbasah-basahan.

Tak lama kemudian kehebohan…eh…keceriaan bertambah. Tiga temannya yang lain mendekat sambil main lempar tangkap bola plastik. Awalnya sih mereka sepertinya tidak berniat ikut basah-basahan. Namun hal tersebut berbalik ketika bola yang mereka lempar masuk ke kolam, dan mau tak mau mereka harus mengambilnya sebelum bola jatuh ke selokan besar. Awalnya anak lelaki dalam grup itu protes “iiih..aku udah bilang jangan dilempar ke sana. Kan jadi masuk ke kolam…“. Meskipun demikian, pada akhirnya ia nyemplung juga. Dan sesuai dugaaan, dua teman perempuannya yang lain akhirnya ikut nyemplung dengan ceria. Ya sudah, semua kadung basah. Akhirnya ke lima bocah itu pun membasahi sekujur tubuh mereka yang masih berpakaian lengkap di kolam itu. Haha… Seru! Beberapa kali kami ingatkan agar mereka bermain di tengah kolam, tidak terlalu ke pinggir yang dekat selokan besar agar bolanya atau mereka sendiri tidak jatuh.

image

Tapi yah namanya juga anak-anak… Kalo ga dicobain ya belom belajar. Selanjutnya bisa ditebak. Bola melambung tinggi dan…byur! Masuklah bola itu ke selokan besar. Seketika mereka hening. Wajah mereka semua muram. Kami yang sedari tadi berdiskusi dengan latar suara mereka, seketika menyadarinya karena tiba-tiba suara ceria mereka hilang.

Bolanya mana?” *pertanyaan retoris*
Jatuh tante…”
(Dalam hati: tuh kaaan udah dibilangin…).

Mereka panik dan awalnya saling menyalahkan, namun tak lama merekapun tampak pasrah, termasuk pasrah dengan konsekuensi merelakan sebagian uang jajan mereka untuk menggantikan bola tersebut.

Salah satu temanku berinisiatif membantu dengan menyusuri ke mana bola itu hanyut. Ternyata masih dekat dan terjangkau. Diambilnya sebuah potongan ranting besar untuk menahan bola agar tidak hanyut lebih jauh–untung untung kalau bisa diambil langsung. Anak-anak itupun berbinar-binar dan bersorak..

Eh..dibantuin sama Om ngambil bolanya!”

Akupun tergelitik untuk mendorong mereka agar berlatih problem solving (cieeeee….).

Dek, tadi liat ga ada bapak-bapak yang bersihin kolam ini pake penyaring besar? Itu bisa dipake buat ngambil bolanya lho. Ayo cari bapaknya!”

“Ga liat…”

“Ngg…ya udah kalo gitu sekarang cari sapu besar atau ranting besar 1 lagi biar bolanya bisa diangkat ya!”

Seketika mereka berkumpul, bernegosiasi, dan berbagi tugas.

“Kita nyebar ya, biar cepet”
“Aku ga berani tapi kalo cari sendiri”
“Ya udah, kamu ditemenin dia ya carinya”

Melihatnya saja aku ikut merasa tertantang, tegang, sekaligus geli! Haha. Ini misi penting bagi mereka: mencari ranting pohon untuk menyelamatkan bola. Seru kan?

Sesaat sebelum mereka berpencar, aku menitipi pesan “Carinya ga usah lama-lama ya, kalo 10 menit belum dapet, balik lagi ke sini aja“. Baru inget kalo taman itu sangat besar untuk manusia seukuran mereka, dan bahaya juga kalo berkeliaran sendiri di antara banyak orang ini. Belakangan kami tahu kalo ternyata mereka masih kelas 1&2 SD, awalnya kami kira kelas 3 atau 4 karena ukuran tubuhnya yang cukup bongsor untuk ukuran mereka.

Akupun mengawasi persebaran mereka dari kejauhan (ya, diskusinya jadi tertunda beberapa lama gegara ini…hehe). Bisi nanaon. Tak lama berselang, 2 dari mereka berlari sambil bersorak

“Ini ada yang mau bantuin!”

Ternyata mereka datang bersama seorang petugas kebersihan yang membawa sapu besar yang bisa digunakan untuk mengambil bola tersebut. Cerdas! Belakangan kami tahu, bahwa awalnya mereka meminta tolong pada satpam, dan satpam nya lah yang meminta bantuan petugas kebersihan.

image

Dengan sigap petugas tersebut berusaha menjangkau bola yang semakin menjauh. Anak-anak itu menunggui di pinggir dengan wajah cemas sekaligus penasaran. Tak berhasil mendapatkannya, petugas pun dengan heroiknya nyemplung ke selokan dan mengambilnya. Aku sempat mengambil gambar tindakan heroik ini.

Yeeeeey!” anak-anak bersorak riang penuh kelegaan. Merekapun berterima kasih kepada petugas tersebut dan juga kami.

Mereka pun bermain kembali, kali ini mereka melempar bola dengan lebih hati-hati.

Namun ternyata ceritanya belum berakhir sampai di situ….hahaha. Beberapa menit kemudian mereka hening lagi. Bolanya jatuh lagi…. Kali ini kami diamkan, penasaran dengan kemampuan problem solving mereka kali ini; setelah pengalaman tadi.

Tiba-tiba saja…. Seorang pahlawan dengan sigap sudah turun ke selokan dan mengambilkannya. Tanpa diminta. Pahlawan tersebut adalah kakak kelas mereka. Mereka pun serentak berterima kasih kepada pahlawan yang menyelamatkan hari mereka. Sang kakak kelas tersipu malu sambil menyiratkan ekspresi kebanggaan. Prikitieeeew…

Mereka pun kembali bermain di kolam. Kali ini tanpa bola. Bukan kapok, tapi mereka belajar bahwa bola yang ringan itu akan mudah terbawa angin dan riak air sehingga bisa jatuh ke selokan yang membahayakan. Mereka belajar, kalau mau main bola di taman ini lebih baik jangan di kolam. Rasanya malu juga kalau sampai melakukan kesalahan dan ‘merepotkan’ orang lain sampai 3 kali. Dan yang terpenting, mereka belajar tentang kerja sama, problem solving, dan berinteraksi dengan orang baru. 

image

Aku juga belajar dari pengalaman ini. Bahwaaa… Taman Kota ini menyenangkaaaan! Ruang terbuka seperti ini membuka ruang interaksi dan pembelajaran yang menakjubkan. Coba hitung, gegara kejadian sepak bola tadi ada berapa orang yang terlibat dan melakukan kebaikan. Ah, aku cinta taman ini! ❤

Ini mah Bandung banget, ya kan?

image

Posted in keseharian | Tagged , , , , , , , | 3 Comments

Refleksi Kaum Urban (part.1: transportasi publik)

Akhir-akhir ini mulai meragukan ketahanan (dan keteguhan) diri untuk tetap setia pada transportasi publik kelas menengah, khususnya angkot dan ojek online. Fisik mulai sering protes.

Kalo naik angkot, supir yang suka gas-rem seenak udel ga jarang bikin mual dan puyeng. Ngelewatin lubang di jalan dan polisi tidur semena-mena yang bikin sakit badan. Ditambah kalo ada penumpang lain/supir yang ngerokok. Eungab.

Naik ojek online sama dilematisnya. Murah dan cepet sih. Tapi ya Allah…polusi jalanannya bikin mabok. Belom lagi kalo jackpot driver nya not riding safely. Spaneng bin tegang sepanjang perjalanan.

Aku juga sangat senang jalan kaki. Tapi akhir-akhir ini berkurang, karena merasa hak ku menggunakan jalan sering dilanggar oleh pengguna kendaraan bermotor. Merasa terintimidasi.

Timbul pertanyaan:
1. sebenernya dari dulu begini tapi ga dirasa-rasa? (= skrg semakin ringkih dan suka mengeluh, ketahanan fisik menurun, daya toleransi menurun)
2. atau pelayanannnya tambah parah akhir-akhir ini?
3. keduanya benar

Taksi konvensional dan taksi online tentunya nyaman. Tapi ga nyaman di saku kalo rutin mah…hahaha.

Beberapa waktu terakhir, mulai mewacanakan bersama suami untuk punya mobil pribadi. Namun suatu hari ketika sedang boncengan di motor, dia berujar

“Liat deh, orang2 yang dalem mobil sekilas terlihat nyaman. Pake AC, terlindung polusi, ga kehujanan, duduk nyaman…

Tapi perhatiin dgn seksama, hampir semuanya nyetir sambil cemberut. Stress sama kemacetan dan hiruk pikuk lalu lintas.

Aku jadi mikir… Apakah kita kelak akan menjadi bagian dari……..kesemrawutan ini?”

Akupun bergeming. Bingung juga jawabnya. Karena diri sendiri juga tengah menghadapi dilema yang sama.

Sekian lama aku berteguh hati menggunakan transportasi publik untuk mobilisasi dengan berbagai alasan. Bahkan tak jarang mengkampanyekan ajakan agar menggunakan transportasi publik. Apa iya ini saatnya ‘menyerah’ dengan ‘idealisme’ ini? Semakin banyak orang tidak nyaman dengan transportasi publik, semakin banyak orang beli kendaraan pribadi dengan kredit ringan, semakin banyak kendaraan, semakin semrawut. Begitu seterusnya. Lingkaran setan.

Eh, masih ada opsi sih! Bis kota dan kereta lokal sudah nyaman lho. Meskipun dari segi jalur dan jarak ga selalu cocok.

Intinya untuk transportasi publik dalam kota masih mentok. Hanya bisa berharap agar transportasi publik di Bandung semakin dan semakin baik. Bisa dibilang itu harapan terbesarku terhadap kotaku ini.

Kalau udah ngga kuat banget, opsi punya mobil pribadi masih ada. Meskipun tetep komit agar penggunaannya dibatasi. Atau…banting stir saja. Tinggal di desa menjauhi kesemrawutan kota ini. Mungkin.

Ya udah gitu aja refleksi curhatnya. Nyampah banget ya… Dan emang lagi ingin menumpahkan saja tanpa solusi. Haha..

– ditulis di kereta api lokal selama perjalanan Bandung-Padalarang-

Posted in implang impleng, keseharian | Tagged , , , | 2 Comments

MENEMUKAN BELAHAN JIWA

Bulan ini memasuki bulan ke-3 pernikahan kami. Bulan-bulan yang seru. Bulan yang penuh penyesuaian diri. Bulan yang menjawab berbagai keresahan yang dahulu kala menghinggapi. Bulan yang penuh rasa syukur, menikmati masa-masa awal pertemuanku dengan sang belahan jiwa. Sang lelaki yang dipertemukan Allah untukku, agar kami bisa menyempurnakan ibadah.

Di kesempatan ini aku ingin bercerita tentang pengalaman spiritual pertautan hati kami menjelang pernikahan. Pengalaman spiritual yang tentunya sangat unik dan istimewa bagi kami, tentu saja, karena tidak ada proses spiritual yang sama persis antara satu orang dengan orang lainnya. Maka pengalaman spiritual setiap insan menjadi unik.

Aku dan suamiku berproses menuju pernikahan dalam waktu yang -menurut kebanyakan orang sih- cepat. Mulai dari pertemuan kembali hingga pernikahan jarak waktunya 7 bulan. Interaksi di media sosial Mei 2016, bertemu fisik Juni, mengajukan keseriusan Juli 2016, menikah Desember 2016. Kilat yah? Ngga sih untuk ukuran kami mah, segitu teh ideal. Hehehe…

 

Awal Perjumpaan

Lelaki yang kini menjadi suamiku ini, sebenarnya sudah kukenal sejak sekitar 4 tahun yang lalu, sekitar tahun 2012. Kami saling mengenal dalam salah satu kegiatan komunitas yang kami ikuti. Sebut saja BdgBerkebun. Hehe. Kala itu perkenalan kami tidaklah istimewa. Saat itu ia penggiat ‘junior’ yang sering bolos ke kebun karena kesibukannya di tempat lain. Di mataku dulu, lelaki ini juga tidak terlalu istimewa. Dia memang keren, tapi rasanya saat itu sih masih banyak lelaki di sekitarku yang lebih keren. Hahaha *peace*. Yang aku ingat betul, dia ini tipe yang suka menclok komunitas sana-sini, mencuri ilmu dan energi dari mana-mana. Beberapa sisinya mengingatkan pada diriku sendiri. Bahkan bisa dibilang, aku melihatnya sebagai ‘Listi versi cowok’. Aku suka kerut kening dan malu sendiri kalau mengamati dia, berasa sedang menghadap cermin “ya ampun…ni anak kaya gue versi cowok. Gue gitu-gitu amat ya ternyata…”. Hihihi. Dia itu lelaki yang sangat talk active, pecicilan, banci tampil, beberapa gerakannya seperti melompat. Seperti sedang menceritakan diri sendiri kan?! Hihihi. Tipe cowok pecicilan seperti itu sebenarnya bukan ‘selera’ku. Aku biasanya lebih mudah terpikat pada sosok-sosok lelaki yang kalem dan cool gimanaaa gitu…

Ketika pertemuan terakhir penutup kegiatan BdgBerkebun, dia meminta nomor ponsel semua penggiat, termasuk nomorku. Saat itu dia berkata padaku “Kalau suatu saat teteh jadi pembicara dan butuh moderator, saya mau ya jadi moderatornya! Saya serius nih. Just call me!”. Hahaha…(jangan-jangan itu modus dia aja *geer*). Kujawab dengan setengah bercanda tapi terbersit keseriusan juga “Bener ya? Kamu bisa jadi MC nikahan ga? Jadi MC nikahan saya aja ya…hehe”. “Siap teh!” jawabnya lantang.

Bagaimana dengan pandangan dia kepadaku? Belakangan sih dia mengaku kalau sejak dulu, aku merupakan sosok yang meninggalkan kesan yang kuat padanya, meskipun tidak sampai tahap ‘menaruh hati’. Barangkali itu yang disebut intuisi kali, ya….hihi.

Sekian lama tidak berjumpa karena dia tidak aktif di komunitas, aku mendapat kabar bahwa dia menjadi ketua Himpunan, lalu ketua BEM di kampusnya. Kabar yang tidak mengagetkan bagiku, karena potensinya memang sudah terpancar. Kabar terakhir yang kudapat, dia sempat dirawat di RS karena stroke ringan (hah?!). Konon gegara terlalu lelah berkegiatan dan kebanyakan makan daging (ckckck), karena saat itu dia mengelola sebuah kedai steak di dekat kampusnya. Kedai yang didirikannya sebagai buah dari kemenangannya mengikuti lomba proposal kewirausahaan (ternyata dia memang keren..hehe). Beberapa kali ingin berkunjung mencicip steak di kedainya, tapi gagal terus. Hingga akhirnya kedainya keburu tutup… yah, sayang sekali. Selepas itu, akupun tak mendengar kabar tentangnya. Seiring waktu, akupun lupa bahwa ada sesosok manusia ini di muka bumi…hehehe.

 

Perjumpaan Kembali

21 Mei 2016. Tiba-tiba akun @tanyaasepramdanaja –nama akun yang belakangan aku minta ganti karena menurutku terlalu narsis haha—memberi komentar pada salah satu postinganku tentang suatu forum pendidikan. Ia tertarik pada kegiatan tersebut, sehingga meminta nomer ponselku kembali, meminta agar diajak jika ada kegiatan sejenis.  Titik tersebutlah yang mengawali interaksi kami yang berujung pada ajakan menikah.

Sejak saat itu kami sering berkirim pesan melalui WhatsApp, berdiskusi tentang banyak hal, namun sebagian besar bertema pendidikan, tema sentral yang menjadi minat utama kehidupan sehari-hari kami. Kamipun bertemu kembali untuk pertama kalinya setelah 4 tahun putus kontak. Dan di pertemuan itu, aku merasakan bahwa dia sudah berubah. Bukan lagi Asep yang dulu pertama aku kenal—in a good way. Lebih matang. Terasa dari pancarannya, bahwa selama 4 tahun terakhir ia telah mengalami suatu pengalaman spiritual yang luar biasa, dan mendewasakan dirinya. Ia tampak lebih kalem dan bijak, meskipun tetap tentu saja ada cengos-cengos khasnya.

Dalam beberapa kesempatan, kami bertemu untuk saling meminjam/mengembalikan buku, mengajak kerja sama suatu ‘proyek’, atau menjelajah tempat baru. Tak ada kecurigaan dariku mengenai maksud dan tujuan dirinya. Bukannya aku ‘terlalu polos’, karena sebenarnya aku punya banyak teman juga yang senang ngajak jalan bareng dengan tujuan diskusi atau mengisi energi. Aku dibekali cukup keterampilan pengamatan untuk menilai mana relasi yang pertemanan biasa, mana yang mengarah pada intimate relationship. Ditambah lagi, dia yang berusia lebih muda dariku. Teman-teman seusianya juga ada beberapa yang senang ngobrol denganku untuk sekadar curhat atau meminta masukan. Jadi rasanya tak ada alasan cukup kuat bagiku untuk kegeeran atas sikapnya. Atau bisa jadi, ini semua proses yang berada di luar tataran logika dan olah rasaku. Sang Maha Pembolak-balik Hati melindungiku dari perasaan bertanya-tanya, geer, atau excitement berlebihan yang dapat menumpulkan kejernihan hati. Wallahu’alam bishawab.

Kondisi berubah ketika dalam suatu kurun waktu, intensitasnya menghubungiku bertambah *ehem*. Dia juga mulai suka bertanya banyak hal, termasuk mengenai harapanku terhadap pernikahan dan keluarga. Semua ditanyakan dalam bentuk dialog casual, cara bertanya ala menggali informasi, bukan ala ala gombal getek. Sopan, disertai permintaan izin, dan aku suka cara itu. Aku mulai curiga arah-arahnya…boong banget tipe lelaki santun macam dia ga ada maksud apa-apa tanya begituan. Dalam suatu kesempatan percakapan via WhatsApp, aku bertanya tujuannya bertanya hal-hal tersebut. Secara sederhana dia menjawab “Soalnya saya lagi cari calon untuk menikah sekitar awal tahun depan”. Dengan serius tapi santai aku jawab “Oooh jadi ceritanya sedang menggali informasi dan memprospek aku nih? Haha”, tak lain tujuannya untuk mengonfirmasi dan menghindari diri dari kegeeran. Kembali dengan sederhana dia menjawab “Iya semacam itu”. Untuk menjaga hati, aku jawab “Ya udah, ini mah judulnya sebagai informasi aku aja kan? Jadi aku juga ga usah merespon apapun?”. “Iya ga usah. Ga usah dipikirin juga. Arahnya kan belum jelas…”. Cara yang elegan dalam memberi sinyal, menurutku. Hehehe… Setelah itu komunikasi berlangsung seperti biasa. Boong banget kalo aku ga kepikiran gegara informasi seperti ini. Tapi alhamdulillah, bawaannya tenang, ga galau gitu. Saat itu aku mulai mengintensifkan doa dan pertanyaanku pada Allah.

”Ya Allah, jagalah dan jernihkanlah hati hamba. Pertemukanlah hamba dengan jodoh hamba yang Engkau ridhoi, dan mendekatkan hamba pada-Mu”

Demikian doa yang terus kuulang-ulang dalam setiap sholatku.

Suatu hari, kami bertemu—untuk keperluan lupa apa. Karena sudah waktu maghrib, maka kami memutuskan untuk sholat di mushola di bilangan Dipati Ukur. Musholanya cukup besar, dan banyak yang sholat berjamaah di sana. Karena yang mengajukan diri menjadi imam tak kunjung ada, akhirnya si lelaki yang bersamaku ini mengajukan diri menjadi imam. Sholatlah kami semua. Daaan…hatiku bergetar ketika diimami sholat maghrib olehnya. Lantunan merdu ayat suci yang dibacakannya membuatku merasa begitu dekat. Dekat dengan Allah. Selepas sholat, aku banyak-banyak istighfar, meyakinkan bahwa getaran tadi sifatnya vertikal, bukan horizontal. Meyakinkan bahwa getaranku tadi adalah antara aku dan Allah, bukan antara aku dan dirinya yang bersuara merdu melantukan ayat suci.

Selang beberapa waktu, tepatnya tanggal 30 Juli malam, setelah kami ngobrol ngaler ngidul melalui WhatsApp, dia meminta izin untuk bertanya suatu hal. Jujur, udah feeling dan ketebak saat itu topiknya. Simply dia bertanya

“Kamu sedang berproses atau ta’aruf dengan seseorang ga?”

“Ngga”

“Kalo gitu aku mau ngajak kamu taaruf. Kita akhir-akhir ini udah cukup intens kan. Kalo kamu oke, saya akan langsung ke rumah ngadep bapak. Prosesnya ga akan lama kok…”

Dan seterusnyaaa….. (off the record. Hehe).

Caranya mengajukan diri, lagi-lagi menurutku elegan (meskipun belakangan dia merasa itu agak nekad. Haha). Menurutku, hal ini menggambarkan kedewasaannya sebagai lelaki yang berani berkomitmen, mengutarakan maksud mulianya pada sang perempuan tanpa ada cerita gantung-gantungan, PHP, baper dan sejenisnya. Hal yang biasanya menjadi tantangan/kendala bagi sebagian lelaki untuk berkomitmen, rupanya dapat diatasinya dengan baik. Luluhlah hati perempuan yang mendapat ajakan seperti ini, ajakan menuju kepastian…

Kami sepakat untuk mendalami proses perkenalan (ta’aruf) dengan cara bertukar CV. Kami sama-sama sudah mempunyai CV untuk diajukan untuk perkenalan semacam ini, tapi memerlukan beberapa pembaharuan sebelum saling bertukar. Sebenarnya melalui interaksi kami sebelumnya pun, tanpa CV tersebut aku sudah merasa cukup mengenal dia sebagai bahan pertimbangan dijadikan suami. Bagaimana tabiatnya (yang tampak maupun bersembunyi), latar belakang keluarganya, kesholehannya, singkat kata bibit-bebet-bobotnya. Tujuan pengajuan CV itu lebih kepada kebutuhan orangtua kami. Agar pengajuannya jelas, terdokumentasi, dan terstruktur. Hehe. Perasaanku pun terjaga netral, ga pake baper. Seiring semua proses tersebut, aku terus berdoa dan mengintenskan ibadah sunnah.

“ Ya Allah, jika benar dia jodohku, jawaban atas doaku, maka tunjukanlah jalan. Engkau Maha Pembolak-balik Hati. Arahkan hati kami jika ini adalah jawaban-Mu”.

Meskipun aku berpasrah pada jawaban Allah, aku sebagai makhluk berakal tetap menimbang-nimbang berdasarkan pengenalanku terhadapnya. Sebagian tampilan luar dirinya merupakan cermin dari diriku—alias Listi versi cowok, seperti kesan pertamaku tentang dirinya. Sebagian lagi berkebalikan dari diriku—ruang kami saling melengkapi.

Bagaimana dengan usianya yang lebih muda? Jujur, sebelumnya aku tak membayangkan mempunyai suami yang berusia lebih muda, meskipun aku tak pernah menyangkal bahwa itu mungkin terjadi. Yang aku yakini, ia sudah cukup matang secara mental untuk menikah. Sebagian besar harapanku tentang seorang pasangan ada pada dirinya, jadi itu sudah lebih dari cukup. Tentu akan ada gap tugas perkembangan antara aku dan dirinya (terutama yang signifikan terkait tahapan perkembangan karier), apalagi konon perempuan lebih cepat matang. Hal tersebut kami sadari betul, dan dalam beberapa titik, kami berkompromi. Melalui proses komunikasi tersebut, kami pun memetakan apa kekuatan dan titik-titik kewaspadaan/potensi konflik kami jika berpasangan. Itu emang udah jadi semacam refleks…maklum faktor didikan banget…hehe.

soulmate.jpgKamipun bertukar CV dan mengajukannya kepada orangtua masing-masing. Masing-masing dari kami punya cerita menarik dari proses pengajuan kepada orangtua ini. Intinya, dengan cepat mereka semua setuju. Alhamdulillah. Salah satu yang luar biasa, adalah respon ayahku setelah membaca CV nya “Sok atuh, kapan mau ke rumah? Alhamdulillah, orangnya bagus ya…”. That simple. Antara kaget, senang, dan lega. Karena ayahku ini pada dasarnya tipikal yang sangat kritis. Jika responnya seperti itu, sudah pasti ada faktor X di balik itu semua. Dan hal tersebut memantapkan hati dan keputusanku. Hal yang selalu menjadi keyakinan dan peganganku urusan jodoh sejak dulu: Kalau ada lelaki yang kehadirannya bisa membuatku tenang, ga galau, ga suka berlebihan, jadi ingat Allah terus, dialah orangnya. Dialah belahan jiwaku. Bismillah….

17 Agustus, ia datang ke rumahku untuk bertemu orangtuaku. Secara syariat, inilah tanggal khitbah nya kepadaku. Ia mengajukan maksudnya untuk meminangku, dan orangtuaku pun setuju. Tentunya ditambah wejangan-wejangan dasar tentang pernikahan. Sejak tanggal tersebut, kami mulai persiapan teknis pernikahan (akan aku tulis ceritanya di tulisan terpisah).

Sambil menunggu jadwal yang cocok orangtuanya datang berkenalan dengan keluargaku, aku berkunjung ke rumahnya untuk berkenalan dengan orangtuanya. Keluarga sahaja yang hangat dan jenaka. Oooh…keluarga mertua idamanku. Bisa dibilang, aku lebih dulu jatuh cinta pada keluarganya dibandingkan pada dirinya sendiri <3. hihi…

belahan jiwa 2Akhirnya tanggal 18 September orangtuanya datang ke rumahku. Dasar udah insting ‘bikin skenario’, aku membuat rancangan alur bersama ibu dan si calon suami (prikitiewww sekarang disebutnya calon suami ya) agar pertemuan berlangsung cair dan tercapai tujuannya. Haha. Hari itu disepakati tanggal 6 November untuk lamaran (tepatnya perkenalan keluarga besar sih), dan 11 Desember pernikahan. Persiapan 3 bulan menurut kami sangat ideal dan cukup, meskipun sebagian orang menganggapnya cepat. Sebenarnya sebelum itu kami sempat mengajukan agar akad nikah dilakukan terlebih dahulu sekitar bulan September atau Oktober, resepsi dilakukan belakangan. Tujuannya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Namun kedua pihak orangtua tidak setuju karena merasa tetap butuh waktu lebih untuk persiapan. Selain itu orangtuaku yang pernah berpengalaman menjalani cara seperti itu ketika pernikahan kakakku, merasa bahwa rangkaian itu terlalu melelahkan karena memerlukan energi dan budget 2 kali lipat.

Sepanjang persiapan, kami semakin saling mengenali, memetakan diri, dan berkomitmen melakukan persiapan fisik, mental dan spiritual. Kami membiasakan senantiasa mengapresiasi secara spesifik tingkah laku yang positif (bawaan sama-sama pendidik, sih…hehe), dan memberi masukan atas perilaku yang negatif. Semuanya dikomunikasikan secara terbuka disertai perencanaan tahap yang kongkret. Aku yang notabene ‘sudah mempersiapkan ini sejak lama’ mengatur alur proses ini semua. Seperti biasa, naluri manager banget. Aku mengatur hal yang bersifat detail, dia pengambil keputusan tertinggi dengan pendekatan global. Semakin terbaca arah pembagian peran ketika berumah tangga kelak.

kepingan hati.jpgTibalah tanggal 11 Desember, terjadinya ‘perjanjian agung’ antara aku dan sang lelaki, Asep Ramdan yang kini menjadi suamiku. Lelaki yang awalnya aku prospek untuk menjadi MC pernikahanku, ternyata bersanding denganku di pelaminan…(isn’t it sounds a little bit silly?hihi).

Sejak saat itu, aku berada di bawah tanggung jawabnya. Prioritasku sebagai wanita yang telah menjadi istri adalah suamiku. Sejak saat itu, separuh jiwaku adalah dirinya. Berbagai kecemasan dan kegundahan ketika masih single banyak terobati dengan kehadirannya yang mengamankan dan menyamankan diriku. Diriku merasa utuh, lengkap. Tak heran jika penemuan jodoh diibaratkan juga sebagai menemukan kepingan hati. Sebuah perasaan bahagia yang sulit dilukiskan kata-kata. Yang jelas, kehadirannya membuatku senantiasa bersyukur.

Tak ada pertanyaan dalam hati, mengapa kami baru menikah tahun 2016 meskipun sudah bertemu 4 tahun sebelumnya. Di rentang waktu tersebut Allah sedang mempersiapkan diri kami masing-masing. Aku dipertemukan dengannya di waktu, situasi, dan kesiapan yang tepat. Allah selalu punya skenario terbaik. Subhaanallah

 

***

Itu kisahku, bagaimana dengan kisahmu? Bagi yang belum bertemu belahan jiwanya, tak perlu berkecil hati…teruslah berusaha, berdoa dan memantaskan diri. Semua orang mempunyai prosesnya masing-masing. Yakini bahwa Allah selalu mempersiapkan skenario terbaik bagi hamba-Nya. Mempertemukan hamba-Nya dengan takdir, di waktu, situasi, dan kesempatan yang tepat. Wallahu’alam bishawab….

 

Posted in keseharian, psikologi | Tagged , , , | 1 Comment

Grup WhatsApp Palugada: Berlomba-lomba dalam Kebaikan

 

Berapa grup WhatsApp yang kamu miliki di ponsel pintarmu? Pasti banyak. Sama dong. Aku juga tergabung dalam banyak grup WhatsApp. Pernah suatu hari ngitung, ada 30an (ampuuun dah…). Sekarang mungkin sudah berkurang, karena  sudah left/bubar beberapa grup yang fungsinya kadaluarsa. Hingga saat ini, sebenarnya grup yang aktif memunculkan notif sekitar 10 grup. Aku sendiri hanya menjadi pengamat pasif di sebagian grup, dan terlibat juga dalam beberapa percakapan receh hingga berbobot di beberapa grup lainnya.

screenshot_2017-03-09-19-15-59.pngDi antara banyak grup WhatsApp itu, ada satu grup yang menjadi favoritku. Kami menyebutnya “Grup Palugada” (apa lu mau gua ada) atau terkadang juga “Group MiniGoogle” hehe. Nama resminya sih “Class of 2005, SMAN 3”, yang merupakan grup alumni seangkatan SMA ku dulu. Seperti nama panggilannya, grup ini memang menjadi sumber informasi terpercaya dan kilat yang bisa menyaingi Google bagi kami. Jujur saja, kalau sedang malas menyortir informasi via Google, mau cari tahu info yang sangat spesifik, grup inilah yang jadi sumber informasi pertamaku. Hahaha…

Awalnya grup ini dibentuk 2 tahun yang lalu dalam rangka persiapan Reuni Akbar SMA, plus tentunya ajang silaturahim juga. Di proses awalnya, grup ini tidak serta merta menjadi grup yang dirasakan sangat bermanfaat seperti ini. Sempat juga saya merasa grup ini terlalu ‘berisik’, karena ratusan notif yang bisa muncul setiap harinya, dan hampir semuanya berupa ‘obrolan eksklusif’ beberapa teman; candaan dan memori SMA yang saya tidak terlibat di dalamnya (maklum, waktu SMA kan saya bukan anak gahul hihi). Namun itu hanya terjadi sementara, lama kelamaan kami ini bisa saling bercanda dan melempar argumen kepada siapa saja meskipun ketika SMA barangkali tidak saling mengenal.

Grup ini mulai bertransformasi ketika kami intensif dalam diskusi Reuni Akbar. Kami bukan panitia sih, cuma peserta. Tapi subhanallah, diskusinya heboh bener meskipun cuma jadi peserta, karena saat itu memang ada isu-isu yang perlu jadi bahasan bersama sebagai kesepakatan angkatan. Dari proses diskusi itulah, kami semua semakin cair dan mengenal kembali. Cairnya komunikasi di sana membuat kami suka mengajukan pertanyaan yang bersifat kebutuhan sehari-hari. Kalau tidak salah, awalnya diskusi seputar kesehatan dan pengasuhan anak yang menjadi diskusi panjaaaaaang. Sejak saat itu, di tengah keberagaman keilmuan kami, kami menyadari bahwa ternyata grup ini berpotensi menjadi wadah saling berbagi ilmu dan informasi.

“Grup palugada, ada yang tau dokter THT yang buka sore?”

“Grup minigoogle, di mana ya tempat beli sepatu di Bandung?”

“Temen-temen dokter, anak saya sejak semalem demam, dst…..”

“Ada yang punya kesulitan akses web Kantor Imigrasi untuk ngurus paspor online?”

“Kantor Imigrasi yang dekat stasiun di Jakarta di mana ya?”

“Kalo ngambil duit di atm Link kena charge ga sih?”

“Temen-temen tau informasi ini [copas broadcast]. Bener ga ini teh? Mohon konfirmasinya dong. Menurut kalian gimana?”

Setiap hari pasti ada saja informasi baru yang berseliweran di grup melalui pertanyaan stimulan seseorang. Mulai dari pertanyaan tentang kesehatan, tempat beli barang, cari jasa benerin barang, perbankan, perpajakan, informasi lalu lintas, jalur transportasi, pengasuhan anak, rekomendasi buku, sampe isu-isu yang sedang hot. Bahkan, waktu aku dalam kondisi darurat duri ikan nyangkut di kerongkongan aja, grup ini yang jadi sumber informasi penanganan awalnya. Hihi. Dari sekian banyak topik yang diangkat, ada 3 topik yang paling sering jadi bahan pertanyaan: kesehatan (baca: konsul gratis sama dokter temen seangkatan), perbankan, dan tempat beli barang/jasa. Asoy kan? Hahaha.

screenshot_2017-03-09-19-16-33.pngBagaimana tidak ramai dan berisi banyak ilmu, grup ini beranggotakan 246 orang lintas profesi yang sedang asyik-asyiknya menerapkan serta mengeksplorasi ilmu dan keterampilan yang selama ini diperoleh. Kalau dari rentang usianya, rata-rata anggotanya secara karier sedang menuju titik ‘nyaman’ dengan identitas dan keahlian tersebut. Dengan tingkat produktivitas dan kemampuan belajar yang masih tinggi, secara psikologis rentang usia ini memang paling pas untuk untuk berbagi keilmuannya. Ditambah lagi, sejak dahulu kumpulan manusia ini terbentuk pada iklim kompetisi yang tinggi. Kompetisi yang positif tentunya. Kalau dulu kompetisi bersifat akademis, saat ini  mewujud dalam bentuk berlomba-lomba dalam kebaikan; berbagi informasi bermanfaat. Alhamdulillah

Grup ini bukan tempatnya menyebarkan broadcast yang tidak jelas kebenaran dan sumbernya. Apalagi broadcast panjang yang suka banyak tanda seru dan ditebelin gitu tuh…heu (asli, gerah!).  Kalau ada informasi yang belum jelas, grup ini biasanya akan saling bantu menyediakan sumber informasi terpercaya untuk mengonfirmasinya. Semua orang berpeluang menjadi penanya sekaligus narasumber. Secara sadar, kami menjaga pembahasan isu-isu sensitif yang bisa membuat grup menjadi tidak asik. Secara sadar pula, kami berusaha berbagi informasi yang sudah terjamin kebenarannya, dan berargumen secara kritis dan analitis tanpa menyudutkan, menghargai perbedaan. Ah, pokonya menurutku keren! Sesekali juga suka ada sih jokes receh pencair suasana, tapi tetap elegan dong. Hihi. Saya merasa bersyukur dan beruntung bergabung dan komunitas virtual yang sangat positif seperti ini. Mudah-mudahan saja bentuk-bentuk positif seperti ini bisa tertular kepada lingkaran komunitas yang lain.

Semoga kita semua bisa langgeng terus sampe tua ya, grup Palugada ❤

 

***

Tulisan ini dibuat sebagai bentuk terima kasih sekaligus apresiasi kepada teman-teman anggota grup Palugada yang selalu siap sedia dan tulus berbagi informasi dan ilmu kepada semuanya. Nuhun sadayanaaaa….

Posted in Tak Berkategori | Leave a comment

SI PENGINGAT KECIL

Kebersamaanku dengan si duri ikan kecil yang bertengger selama sekitar 5 jam di kerongkonganku ini rupanya menghadirkan banyak kisah.

Tak seperti biasanya, kemarin aku makan dengan lauk ikan ketika sarapan. Biasanya aku ‘malas’ makan ikan di pagi hari, menyadari bahwa aku kurang telaten memisahkan durinya di pagi yang tergesa atau belom ON betul. Jeng jeng…bener aja kejadian, si duri ikan nyangkut di kerongkonganku. Awalnya biasa aja, karena ini bukan pertama kalinya terjadi padaku. Banyak banyak minum. Lega dikit, berharap si duri ikan ikut hanyut bersama air minum. Biar lupa rasa tidak nyamannya, gogoleran di sofa hingga terlelap selama sekitar setengah jam. Ketika terbangun, ternyata si duri ikan masih menggelitik. Banyak minum lagi, dan menelan nasi. Masih nyangkut juga. Coba dibatuk-batukkan, sampe akhirnya muntah… Alhamdulillah sepertinya keluar. Eh ternyataaaaaa posisi nyangkutnya makin parah 😩. Sakit menelan, telinga terasa gatal, air mata keluar terus. Ah, ini mah udah ga beres. Saluran yang terhubung mengalami gangguan.

Menyadari bahwa kondisinya tak biasa, kakakku tentunya jadi pihak pertama tempat konsul. Si bu dokter dengan 3 bocah aktif yang sedang berada nun jauh di mato. Ternyata kondisi dia sedang tidak memungkinkan untuk cepat merespon dan mendampingiku secara ‘psikologis’ yang mulai cemas bin panik ini. Opsi ke dua, akhirnya aku bertanya di grup WA alumni SMA; grup palugada-ensiklopedi berjalan-kumpulan 248 profesional di bidangnya masing2-responsif dan helpful. Perbincangan seru tentang dunia perbankan aku interupsi dengan ‘teriakan minta tolong’ atas kondisi (yang kuanggap) darurat.

image

Grup palugada. Apa lu mau gua ada.

Seperti biasa, grup WA ini merespon dengan cepat. Dua temanku yang dokter segera merespon dan memberi saran praktis penanganan dan tindaklanjutnya. Bahkan salah satunya, temanku dr. Ratih terus mendampingiku dari jarak jauh melalui WA (hatur nuhun pisan, bu dok!). Hasil konsulnya, aku perlu ke dokter THT atau IGD untuk penanganan cepat. Awalnya aku akan berangkat selepas sholat Jumat, agar ada yang bisa mengantar. Namun setelah aku muntah-muntah lagi dan badan menghangat, aku memutuskan untuk segera pergi sendiri. Detak jantung dan ritme napas mulai tidak beraturan. Hmmm…aku kenali ini gejala panic attack, yang sebenernya solusinya adalah ada yang menemani biar aku tenang dan merasa aman hahahaha *tawa menghibur diri*. Badan menghangat mungkin hanya sugesti atau mulai ada gejala peradangan, pikirku.

Kuputuskan pergi ke RS Boromeous, sekalian searah dengan agendaku yang lain. Malas memesan transport apapun yang butuh bicara di telpon, aku putuskan naik angkot (dengan resiko lama heu). Hujan pula, suasana hati makin mellow. Bonus meler karena dingin 😂. Sesekali angkot berhenti untuk menaik-turunkan penumpang atau ngetem. Nunggu semenit berasa setahun. Refleksku meremas-remas tangan pertanda risau, memijat mijat kepala yang tegang. Produksi ludah meningkat, tapi ditelan sakit, meludah di angkot ga pantes. Kalo ngomong, rasanya si duri makin menari-nari di kerongkongan. Untuk asertif bilang ke supir “Pak tolong cepetan dikit, saya mau ke RS” saja aku malas. Mulai dibayangi pikiran resiko tertinggi kalo situasinya tidak segera teratasi. Ya udah, fokus atur pernapasan dan dzikir banyak banyak aja… Kuhayati betul setiap prosesku, dan mulai merangkai kata di otak untuk kelak dituliskan…hahaha.

Tibalah di RS, segera tanya poli THT di mana, tiba di sana celingak celinguk. Dalam kondisi tidak nyaman fisik dan mental begini, kadang aku jadi orang yang resek; ga sabaran, ga komunikatif, dan lemot/linglung. Dibantu satpam, langsung diminta ngambil nomor antrian. Ketika tanya ke petugas, ternyata dokter THT yang tugas pagi udah ga ada, baru ada lagi sore. Ya sudah, pilihan terakhir ke IGD. Setelah melalui rangkaian singkat administratif, aku dibawa ke ruangan tindakan.

Lagi-lagi, semenit berasa setahun. Dokter masih hilir mudik mengurus pasien lain yang tentunya (terlihat) lebih darurat kondisinya daripada aku. Sekitar 10 menit menunggu, kudatangi salah satu perawat dan bertanya. Untuk menenangkanku, ia pun sedikit bertanya mengenai kondisiku dan memasangkan gelang pasien padaku (wowww…ini pertama kalinya aku jadi pasien beneran di RS!).

image

Gelang pasien perdanaku seumur hidup (!)

Ditinggal lagi sekitar 5 menit. Mendadak situasi IGD agak ricuh. Bukan karena kondisiku tentunya. Perawat mendapat telpon dari bagian lain. Katanya lift tidak boleh digunakan karena sedang ada (simulasi) kebakaran. Perawat berdiskusi sengit, situasi jadi tambah dramatis karena ada dokter yang mengomel memprotes prosedur, karena ada pasien yang perlu segera diangkut. Hadeuuuw…situasi psikologis yang sungguh ga asyik (itulah alasan agak keder ke IGD). Ya udah lah sabar aja. Dzikir. NgePath…bentuk sosialisasi non-resiprok pengalih kecemasan.. Plus foto-foto untuk kebutuhan dokumentasi (meni masih kepikiran! Haha)

Selang sekitar 5 menit, dokter pun datang. Bertanya sedikit, dan menjelaskan prosedur tindakan. Butuh waktu beberapa menit untuk aku merilekskan diri, dan berpasrah kerongkonganku dimasuki besi panjang beserta pinset. “Nah, keliatan tuh durinya! Agak dalam dan besar. Sabar ya, tarik napas panjang, baru saya ambil”, ujar sang dokter. Bismillah…dan setttt! Beberapa detik kemudian si duri sepanjang 2,5 cm itu sudah berada di hadapanku. Dijepit pinset raksasa di tangan sang dokter. Alhamdulillaaaah…

image

Si duri kecil yang bersamaku selama 4 jam

Refleks, air mataku keluar deras. Kali ini menangis. Menahan sedikit rasa sakit karena luka di kerongkongan, tapi utamanya adalah tumpahan rasa lega (melankolis mode ON). Lega situasinya terlalui. Dokter memberi tahu bahwa aku perlu minum antibiotik karena ada luka di dalam. Aku manggut2 tanda setuju, mengacungkan jempol sambil tersenyum lega. Dokterpun segera beralih ke pasien lain.

Setelah mengurus administrasi dan mengambil obat, aku segera menuju tukang bubur di sebrang Salman. Bubur yang sudah sejak tadi kuidamkan. Memesan, duduk, mengatur napas. Banyak banyak istighfar. Kupindai jiwa dan ragaku. Alhamdulillah, kerongkongan nyaman, perih sedikit saja. Lemas, karena cadangan energiku keluar ketika muntah tadi. Muncul rasa sakit kepala, yang kukenali sebagai rasa sakit yang biasa muncul setelah mengalami ketegangan secara intens. Lama-lama juga akan mereda. Pesanan datang, kunikmati bubur yang meluncur dengan nyaman di kerongkonganku. Ah nikmatnya.

Si duri kecil, yang dikirim Allah untuk jadi pengingatku. Barangkali kemarin2 aku kurang bersyukur, kurang sabar, dan kurang sedekah. Semoga aku menjadi lebih baik. Mungkin untuk beberapa lama aku tidak makan ikan dulu, memulihkan kondisi psikis–untuk menetralkan asosiasi negatif tentang duri ikan :mrgreen:.

Posted in keseharian | Tagged , , , , | Leave a comment

Ikatan Romantis Sepanjang Masa

Akan ada suatu masa, di mana kita barangkali merasa bahwa pertemanan dengan kawan kawan dekat di masa kecil/remaja tak lagi sama. Rutinitas, prioritas, cara pandang, pertimbangan mengambil keputusan dll tak lagi sama, sehingga tak semudah dahulu kala untuk menyingkronkannya. Wajar, karena kita semua telah melewati prosesnya masing-masing. Di lingkungan yang berbeda, pada dinamika sosial berbeda yang berdampak pada diri. Tapi akan selalu ada ikatan yang romantis. Ikatan Tarbiyah. Misinya dunia-akhirat. Semoga dikelilingi handai taulan dengan ikatan tarbiyah yang kuat. Aamiiin 🙂

Quote | Posted on by | Tagged , , | Leave a comment